One More Chance

One More Chance
Susahnya


__ADS_3

"Ara ..."


Panggil Abra saat bangun tidur tidak ada Zahra dan si kembar di dekatnya, berlari tergapoh-gepoh keluar kamar dengan wajah memucat.


Saat melihat Zahra di ruang tamu sedang duduk dengan Vira dan yang lainnya Abra mulai tenang dan tersenyum lebar.


"Ara ..."


Panggilan Abra kali ini saat tidak menemukan Zahra dilantai satu dan ternyata sedang bersama Regan dan Aslan dikamar Regan dilantai dua.


"Ara ..."


Entah panggilan Abra yang keberapa kalinya dalam sehari, ini panggilan Abra saat Ab duduk dimeja makan Zahra menyudahi makannya dan pergi tanpa melayani dan menemani Abra makan seperti biasanya.


Saat tidak melihat Zahra didekatnya, saat Zahra menghindarinya, Abra selalu memanggil nama Zahra, membuat seisi rumah sejak tadi pagi hanya menghela nafas setiap kali mendengar panggilan Ara dari Abra.


"Kalian ngerasa pengang gak sih dengerin Abra gitu?" tanya Vira pada Sam dan Malvin yang masih duduk dimeja makan.


Malvin mengangguk mengiyakan, dia yang biasa masa bodoh merasa bosan juga sih.


Sedangkan Sam tertawa kecil maklum dengan apa yang dilakukan Abra, karena dia sudah pernah mengalami hal itu dulu, bagaimana susahnya membujuk wanita untuk kembali pada mereka seperti sebelumnya.


"Memangnya kemarin saat keluar terjadi sesuatu ya sama mereka berdua?" tanya Vira lagi.


Sam hanya mengangkat bahu, begitu juga dengan Malvin yang kembali fokus pada makan siangnya.


Meski mereka dulu kuliah bersama, Vira tidak tahu bahwa mereka berempat adalah Aase yang sempat menggemparkan underground, selain karena mereka tidak mau Vira ikut-ikutan, Vira terlalu sibuk mengejar Luis saat itu.


"Ara mana?" tanya Abra yang tiba-tiba muncul didapur lagi.


Klinting ...


Vira melepaskan sendok dan garpu ditangannya dengan sedikit membanting ke piring menatap Abra dengan kesal kali ini dia sudah tidak tahan lagi mendengar Abra memanggil Ara.


"Liat Ara gak?" tanya Abra menatap Vira, Malvin, Sam dan Javir satu persatu bergantian.


"Ara ... Ara ... Ara ... telinga gue pengang dengernya Abra" keluh Vira.


"Gak tahu ya?" tanya Abra tidak menghiraukan Vira.


Langsung saja Vira mendengus dan mengomel, "ya engak tahu lah ... bukannya lo yang ngintilin Zahra mulai tadi?, bisa enggak sih lo cari Zahra pakai mata jangan pakai mulut telinga gue pengang yang denger sejak pagi" omelnya dengan nada tinggi.


Abra dengan cueknya langsung berbalik dan melangkah pergi, "Ara ..." panggilnya lagi.


"BISA DIEM GAK SIH LO!" teriak Vira kesal.


Seperti sebelumya Abra tidak menghiraukan Vira, dia terus mencari Zahra sambil berteriak Ara ... Ara ... dan Ara ... hingga kelantai dua bahkan kekamar Fani yang ternyata Zahra tidak ada disana jua.


Abra mulai panik dan kebingungan berjalan kembali mengelilingi rumahnya membuka pintu kamar satu persatu.

__ADS_1


"Memangnya Daddy dan Mummymu membolehkan?"


Itu suara Zahra yang terdengar saat Abra membuka jendela kamar, Abra berjalan dengan cepat keluar rumah. Zahra sedang duduk diatas tikar yang tergelar dibawah pohon rindang disamping rumah, ternyata anak-anak juga berada disana.


Regan, Gea dan Aslan bermain dengan si kembar, sedangkan Zahra duduk di dekat mereka menghadap Alaric yang diduduk di depannya.


"Aku sudah bilang pada Daddy meski hanya menelfon, tapi masih menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Mummy Bun" ucap Alaric.


Abra yang tidak mengerti apa yang mereka bicarakan langsung penasaran dan melangkah lebar mendekati mereka.


"Bukannya karir kamu disini bagus?"


"Ya, mangkanya aku tidak perlu khawatir bagaimana melanjutkan karir di Indonesia"


"Al, pendapatanmu disini dan di Indonesia pasti jauh berbeda nanti."


"Aku tidak perduli, aku hanya ingin tenang dan tidak dibayangi masa lalu."


"Masa lalu?"


Gawat ...


Jadi sebelum Alaric menjawabnya Abra lebih dulu menjawab. "Seperti Abra yang tidak begitu berminat dengan GG, Alaric juga begitu dengan bisnis Enzo" Abra melirik Alaric.


Jika Zahra mendengar apa masa lalu Alaric maka Zahra akan memaksa bahkan menyeret Aslan dan Regan pulang.


"Oh ... ok anggap saja kamu sebagai jaminan As dan Ar disini" Zahra mengucapkannya sambil melirik Abra.


Mata Zahra langsung memicing, "apa kamu pikir aku tidak bisa menyakiti orang lain demi anak-anakku?, perlu bukti?."


Kepala Abra langsung menggeleng, "tidak jika ancamanmu padaku Ara."


*-*


Kasur lipat didepan ruang tamu berpindah kekamar Abra, kasur diatas ranjang yang biasa ditiduri Abra dan Zahra diturunkan. Semua lima anak mereka juga berada didalam kamar Abra dan Zahra.


Tidak bisa protes, Abra hanya mampu menghela nafas melihat mereka berenam tidur bersama berjejeran dengan Zahra ditengah-tengah.


"Apa Ayah harus tidur dipinggir?" tanya Abra menatap bantal yang ada di sebelah kiri Aslan.


Dari sisi pinggir kanan Gea, Chaka, Bilqis, Zahra, Regan, Aslan dan yang terakhir bantal yang mereka sediakan untuk Abra.


"Ya" jawab Aslan menepuk bantal disampingnya.


"Seharusnya Ayah juga ditengah dengan Bunda"


"Enggak" tolok Regan langsung memeluk Zahra.


"Seharusnya Bunda diantara As dan Ar, tapi kasihan si kembar jadi As ngalah" sahut As. "Kalu Ayah mau ditengah gak masalah, Ayah jagain si kembar Bunda tidur ditengah kami karena in ..."

__ADS_1


"No!" seru Abra dengan mata melotot.


Saat Zahra diculik dia tidak bisa tidur tanpa Zahra, sejak Zahra tahu dia pernah masuk dalam dunia mafia Zahra tidur memunggunginya, berbagi Zahra dengan mereka saja Abra keberatan apa lagi Zahra dimonopoli Aslan dan Regan yang selalu membuat Abra kebakaran jenggot?.


Tidak ada pilihan lain Abra merebahkan tubuhnya di samping Aslan.


"Ini malam terakhir As dan Ar sama Bunda" ucap Regan, "yang sabar kalau kami mau deket-deket Bunda terus, nantinkalau balik ke Indonesia Ayah juga bisa peluk-peluk Bunda."


Sabar?


Abra yakin meski mereka pulang ke Indonesia belum tentu Zahra mau kembali tidur memeluknya.


*-*


"Belum tidur lo?" tanya Sam saat melihat Vira duduk sendiri diteras rumah.


Vira menoleh tersenyum segaris pada Sam sebelum menatap kosong lagi kedepan seperti sebelumnya.


Sam duduk dikursi dekat Vira menatap Vira lama sambil mengerutkan kening membuat Vira risih menghela nafas dan memelototinya.


"Wahaha ..." Sam malah tertawa lepas.


Melihat Sam tertawa membuat Vira tersenyum lebar, "ini pertama kali gue liat lo ketawa, duduk dekat gue gini setelah sekian lama lo liat gue aja kayaknya gak sudi" ucap Vira lirih.


Sam langsung menghentikan tawanya bersandae dan menoleh pada Vira, "gue juga gak tau kenapa, mungkin karena gue kasihan liat lo sendirian disini murung."


Bibir Vira langsung mencibir, "bukannya lo bahagia liat gue menderita?."


"Kalau untuk kali ini kasih" ucap Sam terdengar tulus, "pada hal lo juga balik besok tapi anak kandung lo lebih memili tidur dengan orang tua angkatnya. Gue kasihan liatnya, tapi bagaimanapun itu konsekuensi yang harus lo terima dari apa yang telah lo perbuat sama Gea."


Vira tersenyum lebar mengangguk dengan mata berkaca-kaca, "ya" ucapnya membenarkan dengan suara serak.


Mereka terdiam sejenak, Sam mengerutkan kening mencoba mencari kata-kata yang pas untuk kembali mencairkan suasana.


Seburuk-buruknya teman, dulu mereka pernah membagi kebahagiaan dan kesedian bersama.


"Kenapa lo mau nangis gitu?" tanya Sam dengan nada mengejek, " nangis jangan ke gue, lo kalau mau nangis langsung didepan Gea biar tahu lo nyesel udah nyia-nyiain dia. Kalau lo nangis didepan gue lo mau gue ngapain?, neraktir lo makan kayak dulu?, sory ya gue dan Malvin udah ngeluarin uang banyak buat ngajak lo kesini meski ujung-ujungnya bukan buat lo seneng malah sedih."


Tapi mau bagaimana lagi?, Sam yang sudah memiliki tabiat ceplas ceplos tidak bisa mengontrol mulutnya kembali mengeluarkan kata yang ada dalam otaknya begitu saja.


Bukan tersinggung Vira malah tertawa mendengarnya dan menghapus air matanya mengalir tanpa terkendali, dia bersyukur Sam kembali mau duduk dan berbicara dengannya lagi, meski kata-kata Sam masih nyelekit tapi Vira bahagia, setidaknya kembali ada yang mau menemaninya saat merasa Sendiri.


*-*


Salam Lop Lop Lop and Thank You 😙


🔖💖🎁⭐👍💬


Kalau sudah terima kasih 😉

__ADS_1


Unik Muaaa


__ADS_2