One More Chance

One More Chance
Lebih Dekat


__ADS_3

Masih pagi, jam masih menunjukkan jam lima. Kakek Arya sudah menghubungi Ibnu dan Tari untuk segera datang kekamarnya. Padahal Ibnu baru saja membaringkan tubuhnya diatas kasur setelah sholat Subuh.


Baru saja membuka pintu, Ibnu berjalan cepat menghampiri Kakek Arya, membantunya mengambil syal di meja samping tempat tidur.


"Anda mau kemana?," tanya Ibnu.


Melihat Kakek Arya sudah bersiap-siap dengan tas kecil miliknya yang selalu dia bawa kemanapun.


"Kalian sudah menghubungi rumah sakit dan ambulan?."


Mendapat pertanyaan itu Ibnu dan Tari saling pandang sejenak. Sepertinya Kakek Arya belum tahu kedatangan Regan dan Gea semalam.


"Sepertinya anda harus mengulur waktu untuk berpura-pura sekarat." Ibnu duduk dipinggir tempat tidur di samping Kakek Arya.


Kakek Arya menatapnya dengan tajam. Tari yang melihat Ibnu akan kena marah tersenyum kecil menahan tawa.


"Kenapa akhir-akhir ini kamu selalu membantah?," Kakek Arya mulai mengeluh.


Tari menghampiri mereka berdiri tidak jauh dari tempat tidur. " Abra dan Gea baru datang tadi malam pasti kelelahan, kasihan mereka kalau sampai mendengar anda sakit. Biarkan mereka istirahat, pura-pura sakitnya ditunda dulu," bujuk Tari.


"Kenapa mereka kembali?." Kakek Arya menatap curiga pada Ibnu.


Ibnu menghela nafas pasrah. "Pagi anda meminta saya untuk menghubungi Malvin, agar memberikan informasi ke Gea dengan syarat anak itu harus segera pulang. sudah ingat?," dengan nada selembut mungkin.


Kepala Kakek Arya mengangguk. "Ah ... ya saya ingat. Tatapi kenapa cepat sekali."


"Bukannya lebih cepat lebih baik?, Gea sebentar lagi ujian. Sudah lah ... anda tidur lagi, saya masih mengantuk."


*-*


Jam tujuh. Seperti biasa Kakek Arya sudah duduk di meja makan dengan koran dan segelas susu yang menemani paginya. Jika saat muda beliau ditemani kopi, dari sejak empat tahun yang lalu Tari selaku dokter keluarga melarangnya minum kopi.


Abra memasuki ruang makan sambil mengibas-ngibaskan rambutnya yang basah. Langkahnyabterhenti sejenak mendapatkan Kakek Arya sudah duduk terlebih dulu.


"Selamat pagi," sapanya sebelum duduk disamping Kakek Arya.


"Hemz," hanya derhaman yang menjadi balasan sapaan Abra.


Abra hanya menghela nafas, derhaman sudah cukup baginya. Sejak Zahra pergi, Kakek Arya hanya menatapnya dan jarang bicara kecuali masalah perusahaan.


Seorang pembantu menuangkan air minum dan meletakkan piring kosong didepan Abra.


"Satu lagi Bi," pintanya mendapak lirikan dari Kakek Abra.


Pembantu rumah Kakek Arya mengangguk dan undur diri untuk kembali mengambil piring.


"Assalamu'alaikum hah .... "


Gea mengucap salam lalu tercekat melihat Kakek Arya sudah duduk dan meiliriknya sebentar.


"Wa'alaikumsalam." Jawab beliau lalu kembali membaca korannya.


Mendengar Gea mengucapkan salam mebuatnya tercengang sejenak. Namun saat melirik, gadis itu berdiri gugup ditempatnya.


Mendengar Kakek Arya menjawab salamnya, Gea tersenyum bahagia menatap Abra. Tanpa suara Abra membalas salamnya", Gea tambah kegirangan sebisa mungkin dia mengendalikan diri agar tidak berjingkrak-jingkrak bahagia.

__ADS_1


"Kalian jauh-jauh ke Madura pulang tidak bawa hasil," sindir Kakek Arya lirih.


"Kalau Gea masih kecil, kata om Malvin dan Kak Regan gak usah ikut campur urusan orang dewasa." Gea melirik Abra yang duduk di sampingnya.


Abra menunduk.


Kakek Arya berdecak melirik Abra sinis. "Kamu Bra, kerjaanmu selalu lelet," Omel Kakek Arya melipat korannya bersamaan Tari dan Ibnu datang.


"Buang-buang waktu dan uang saja," lanjutnya. "Kalau tidak bisa bawa Zahra dan Regan, Opa yang akan turun tangan."


"Opa!," tegur Regan.


"Apa?," tantang Kakek Arya. "Kalau Gea anak kecil, Opa kakek-kakek yang tidak boleh ikut campur urusan orang dewasa?."


Gea mengembungkan pipinya menahan tawa, Ibnu dan Tari tersenyum menatap Abra yang menunduk sambil mendumel.


"Gea," Panggil Kakek Abra.


Namanya di panggil Gea tersenyum lebar. "Iya Kakek Buyut".


"Kakek, tidak usah Buyut."


"Baik."


"Jangan menghilang lagi, dan buat pusing."


"Iya."


"Jangan samapi nilai kamu turun dari semester ganjil, tinggal disini. Kakek yang akan mengawasimu belajar."


"Jangan."


Ibnu dan Abra langsung menentang bersamaan tepat setelah Kakek Arya selesai berbicara.


Yang ditawarkan, Gea hanya menoleh keapada mereka bergantian. Bahkan mengerutkan kening memberi isyarat pada Abra meminta alasan, bukannya Abra ingin dia dekat dengan Kakek Arya?.


"Apa yang salah?," tanya Kakek Arya tidak mengerti.


"Gea akan tinggal disini selama ujian, tetapi tdak dengan diawasi Opa." Abra mencoba mencari alasan lain sambil melirik Ibnu meminta bantuan.


Sebelum memberi alasan dia menyenggol Tari. "Lagi pula anda tidak sehat betul butuh istirahat lebih banyak."


"Sesekali boleh," Tari menimbrung dan mendapat pelotitan dari Ibnu. "Tapi hanya satu sampai dua jam saja," lanjutnya.


Abra dan Ibnu menghela nafas lega.


"Lebih baik kita makan, aku sudah lapar dari semalam." Abra mengganti topik pembicaraan.


Bukan dirinya tidak mau Gea dekat dengan Kakek Buyutnya, tatapi dia takut, cara mengawasi dan membimbing Kakek Arya seperti yang dia terima waktu sekolah dulu.


Kakek Arya akan memberikan satu jam waktu belajar, setelah itu akan bertanya segala hal dari depan hingga belakang, jika ada yang salah satu saja akan mendapatkan hukuman penambahan jam waktu belajar setengah jam.


"Daddy, kenapa Daddy melarang?. Gea kan ingin dekat dengan Kakek."


Setelah makan Gea dan Abra duduk di halaman belakang memberi makan ikan mas koki peliharaan Kakek Arya.

__ADS_1


Tangan Abra membersihkan tangan Gea. "Jika cara Kakek tidak seperti cara dia mendidik Om Ibnu dan Daddy, Daddy pasti dukung. Daddy hanya takut dia masih melakukan metode itu."


"Memangnya metodenya seperti apa?."


Abra meringis. "Terlalu extrim."


"Tapi karena itu Daddy dan Om Ibnu pintar, sampai turun pada Kak Regan. Tante Zahra juga pintar gak Daddy?."


Senyum Abra terbit, mengelua rambut Gea sayang. "IPKnya tinggi, saat kami menikah dia sudah menyusun skripsi. Daddy selalu mengerjakan pekerjaan kantor sambil menemaninya, kadang sampai ketiduran dan dia tidak tidur sampai Daddy harus marah."


"Pantas Kak Regan bisa pintar, bisa loncat-loncat kelas dan pintar karate. Daddy juga pintar karate kan?."


Abra mengangguk.


"Gea gak pintar-pintar amat kayak Kak Regan, mungkin karena Mami dan dia tidak pintar. Heeehehee ...."


Gea terkekeh kecil, sambil menunduk dalam menatap ikan dikolam. "Kalau Tante Zahra dan Daddy Kembali bersama ...," kalimat Gea mengambang, dia ragu mengatakannya.


Perlahan Abra duduk dipinggir kolam, menarik tubuh Gea berdiri didepannya. Memaksa gadis kecil itu membalas tatapan mata Abrabyang hangat.


"Kenapa?," tanya Abra lembut.


Mata Gea berkaca-kaca. "Gea gak akan dikembalikan ke Mami kan?," tanyanya dengan suara serak dan lirih. "Nanti kalau Gea ... kalau ...."


Abra tersenyum. "Memangnya Gea mau tinggal dengan Mami?."


Gea menggelengkan kepala kuat.


"Meski Daddy sudah kembali bersama mereka, Gea masih mau tinggal dengan Deddy dan mereka?."


"Apa boleh?."


Tangan Abra memyelipkan anak rambut di samping wajah Gea dan mengelus pipi gadis itu sayang.


"Jika Gea jadi anak baik, bisa menggambil hati Mereka, Daddy ...."


"Gea akan menjadi anak baik, Gea janji." Potongnya dengan penuh keyakinan. "Gea boleh panggil Ayah Bunda kan?, Gea mau lebih dekat dengan mereka dan Kakek Arya."


Abra menghujami kening Gea dengan ciuman. "Semoga, semoga kita kembali bersama". Abra berbatin dalam hati.


*-*


.


Jangan lupa 💖👍


Agar Author semakin semangat menulis


Jangan lupa 💬


Karena Author masih perlu banyak belajar


Terima kasih sudah mampir 😙


Unik_Muaaa

__ADS_1


__ADS_2