
"Mah, kenapa anak itu tidak pulang-pulang yah!" tanya Sesil sambil memakan cemilannya.
"Biar saja, yang pentingkan kita dapat uangnya." jawab Rahma sambil mengedipkan mata.
"Iya mah, mana uangnya besar sekali lagi kita jadi bisa makan enak terus setiap hari." ujar Sesil.
"Dan shoping juga.!" tambah Rahma kemudian mereka tertawa bersama.
"Tapi mah itu berarti dia kerja sama orang kaya dong mah! pasti gajinya juga besar." terka Sesil menggeser duduknya jadi menghadap ibunya.
"Sudah pasti, mereka saja memberikan jaminan kepada kita dengan uang yang banyak sudah pasti gajinya juga pasti besar."
"Kalau gitu kita harus minta supaya dia mau transfer uangnya kekita mah." ucap Sesil memprovokasi ibunya.
"Kau tenang saja kita pasti akan mendapatkannya.!" balasnya tersenyum penuh niat yang buruk.
"Sudah mendingan kita sumpetin barang-barang ini sebelum lelaki tidak berguna datang." kata Rahma mulai membereskan belanjaannya karena memang mereka tidak memberi tahu soal uang itu pada Anton karena ingin menikmati berdua saja.
"Oh... jadi kalian menyembunyikan uang dariku." tiba-tiba suaminya Anton datang dengan muka merah mengetahui bahwa istrinya mendapatkan uang dan menyembunyikannya.
Seketika Rahma dan Sesil terjungkal kaget karena mendengar suara Anton yang keras.
"Kau, sejak kapan kau datang?" tanya Rahma gugup karena sejak kedatangan uang itu Anton tidak pernah pulang kerumahnya bahkan Hafsa pergi bekerja saja dia tidak tau.
"Cepat berikan uangnya padaku?" hardik Anton dengan keras.
"Tidak untuk apa aku memberikan uang ini padamu, kau cari saja sendiri dasar laki-laki tidak berguna." balas Rahma dengan nada tak kalah tinggi berani menantang suaminya.
Anton mengepalkan tangannya dan sorot matanya semakin tajam, " Berani kau padaku, aku tau itu uang anakku kan. Kau ingin menikmati hanya berdua. Cepat berikan atau..."
Rahma dan Sesil gemetar dari mana Lelaki ini tau jika uang ini dari Hafsa tapi Rahma berusaha tenang.
"Atau apa kau ingin memukulku silahkan.!" tantang Rahma tak takut.
"Kau...!"
Plakk plakk
Anton memukul pipi kanan kiri Rahma dengan kencang hingga membuat Rahma tersungkur dan pipinya memerah bekas telapaknya pun terlihat.
"Mamah...!" teriak Sesil memanggil ibunya.
__ADS_1
"Ayah jahat sekali, aku tidak punya ayah sepertimu." ucap Sesil berteriak sambil menangis menghampiri ibunya.
"Aku juga tidak ingin punya anak sepertimu, semua dirumah ini tidak ada yang berguna. Lebih baik kalian keluar dari rumahku aku tidak ingin melihat kalian lagi." bentak Anton pada mereka berdua.
"Baik, tanpa disuruh pun kita akan pergi, aku juga tidak mau punya suami sepertimu." jawab Rahma ikut berteriak juga.
"Ayo Sesil kita pergi dari sini!" Rahma kemudian beranjak dari tersungkurnya menarik tangan Sesil.
Kali ini mereka tidak perlu khawatir untuk pergi kemana saja karena mereka kini tengah mengantongi uang banyak.
"Tunggu... aku juga tidak ingin punya hubungan apa-apa denganmu lagi hari ini juga aku talak kamu." kata Anton sebelum mereka pergi.
Rahma berbalik kemudian tersenyum sinis, "Terimakasih ini adalah hal yang aku tunggu." kata Rahma kemudian melenggang pergi.
Anton tersungkur kelantai setelah mengatakan itu dia lalu tertawa sendiri kemudian menangis seperti orang yang tidak waras menjerit dan melempar barang yang ada didekatnya.
Aaaaaaaaakkh.
Teriaknya sampai terdengar oleh Rahma dan Sesil tapi mereka tidak peduli.
"Dasar orang gila." ucap Rahma disela-sela membereskan pakaiannya.
"Mah, kita mau tinggal dimana setelah ini." tanya Sesil ikut membereskan pakaiannya.
Mereka keluar dan melihat diruang tamu sangat berantakan Rahma hanya menatap sinis kemudian melenggang pergi diikuti Sesil yang juga sama.
"Pergi sana aku tidak butuh kalian." Anton kembali berteriak menyuruh mereka pergi.
*****
Dimansion dibelakang rumah utama Hafsa melamun memikirkan ayahnya tiba-tiba saja pikirannya tertuju pada ayahnya yang sewaktu dia melamar ayahnya pergi begitu saja, kini dia jadi memikirkannya.
"Hey, kenapa melamun saja?" ucap Melati mengagetkan Hafsa.
"Kau ini Melati, mengangetkan saja." ucap Hafsa mengelus dadanya.
"Lagian siang-siang begini melamun, ada apa ceritakan padaku?" tanya Melati kemudian duduk disampingnya.
"Aku cuma lagi memikirkan ayahku, gimana yah keadaannya sekarang?" kata Hafsa menatap lurus.
"Apalagi aku pergi ayahku tidak tau, aku harap ayahku baik-baik saja." sambungnya lagi tersenyum lirih.
__ADS_1
"Memangnya ayahmu tinggal sendiri?" tanya Melati.
"Ayahku tinggal bersama istrinya ibu tiri dan saudari tiriku." jawab Hafsa memandang Melati.
"Jadi ibu kandungmu kemana?"
"Ibuku sudah meninggal sejak aku baru dilahirkan dan ayahku membenciku karena aku dianggap sebagai meninggalnya ibuku." ungkapnya dengan nada sendu.
"Loh kok bisa ayahmu menyalahkanmu, itu kan sudah takdir." kata Melati jadi kesal.
"Aku juga tidak tau, mungkin karena saking cintanya pada ibuku jadi dia menganggap siapapun yang membuat istrinya meninggal itu adalah salahnya." terang Hafsa menjawab logika sendiri.
"Kok bisa begitu, aneh sekali tapi kalau ayahmu membencimu lalu siapa yang mengurusmu".
"Nenekku, sampai aku besar dan sampai ayahku menikah lagi lalu nenekku meninggal dan aku diurus oleh ibu tiriku." ceritanya dengan lirih.
"Tapi kenapa wajahmu begitu? apa kau tidak senang ayahmu menikah atau ibu tirimu ternyata jahat seperti difilm-film. Iya." ucap Melati menggebu saat membayangkan ibu tiri yang jahat.
Hafsa hanya tersenyum geli melihatnya, "Kau ini kecanduan sinetron yah!" tunjuk Hafsa sambil tersenyum.
"Hei aku kan bertanya atau benar-benar jangan lagi ibu dan saudari tirimu jahat. Tapi kalau memang benar iya kau jangan lemah kau harus berani melawan yah! adukan pada ayahmu jangan diam saja." ucap Melati wajahnya menyiratkan dukungan yang nyata.
Tapi Hafsa malah menatap sendu, "Heh, bagaimana aku ingin mengadu ayahku saja membenciku."
Giliran Melati yang berubah sendu mendengar Hafsa berkata seperti itu lalu semangat lagi mengagetkan Hafsa.
"Ahha, kau tidak perlu khawatir meskipun ayahmu membencimu serta ibu dan saudari tirimu jahat padamu tapi ada aku sekarang yang siap menjadi temanmu." ucap Melati sambil tersenyum manis.
Hafsa terharu mendengarnya diapun memeluk Melati dengan gaya anak remaja.
"Ahhh terimakasih Melati kau memang yang terbaik, padahal kita baru bertemu." ucap Hafsa ikut tersenyum.
"Sama-sama aku juga senang bisa bertemu denganmu." Melati membalas memeluk Hafsa.
Mulai hari ini Hafsa dan Melati berjanji bersahabat selamanya. Mereka berdua terlihat senang satu sama lain karena baik Hafsa maupun Melati mereka tidak mempunyai teman yang dekat dan nyaman seperti ini.
"Kalian berdua sedang apa?" panggil bi Rum mengagetkan mereka berdua sehingga mereka melepaskan pelukannya.
"Eh bi Rum bikin kita kaget saja." jawab Hafsa.
"Iya kita cuma lagi curhat kok terbawa perasaan jadi berpelukan seperti Teletubbies." tambah Melati cengengesan.
__ADS_1
Bu Rum hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua gadis pelayan baru itu.