
Assalamualaikum reader ...
author kembali menyapa bagaimana kabar kalian sehat-sehat semua kan?.
Otor balik lagi nih melanjutkan karya yang masih ditempat ini. Gimana kangen ga? kangen ajalah biar otornya seneng hehehe ngarep banget 😁
Maaf yah lama nunggu kelanjutannya tapi cerita ini akan terus dilanjutkan kok meski nulisnya lama dan mungkin ga sering soalnya otor lagi dalam keadaan hamil tua sekarang. Doain yah mudah-mudahan lancar dan selamat dua-duanya.
Dan sekali lagi otor minta maaf dan terimakasih bagi yang masih bersedia singgah dikarya recehan otor ini.
Salam sayang dari author.
Titi awy 😉😉
_________
"Bagaimana nak? apa jawabanmu?" Rahma kembali bertanya karena yang ditanya masih diam saja.
"Tolong kami nak! kami bingung sudah mencari pekerjaan kesana kesini tapi tidak dapat juga sedangkan kami butuh makan. Dan ini sepertinya bukan hanya kebetulan saja tapi juga tuhan mengirimkan bantuan kepada kami melalui dirimu. Jadi ibu sangat berharap sekali padamu." ujar Rahma panjang lebar kembali mengutarakan idenya yang mengalir begitu saja sungguh sangat piawai sekali.
"Emm... memangnya kalian mau menjadi pelayan. Dan Sesil, bukankah dia ingin menjadi artis atau model." kata Hafsa berkata dengan hati-hati, karena setaunya impian Sesil begitu tinggi.
Sedangkan Melati menyimak dengan serius tapi dengan tatapan awas.
"Eh i.. tu kak aku ditolak kak!" jawab Sesil gugup yang sebenarnya memang iya.
Sesil memang ditolak karena dia sama sekali tidak mempunyai bakat untuk itu dan dia sebenarnya malu untuk mengungkapkan nya tapi melihat lirikan ibunya dia pun terpaksa merendahkan harga dirinya didepan orang yang dibencinya.
"Oh maaf aku tidak tau!" jawab Hafsa sedikit bersedih.
"Bagaimana Hafsa pasti ada pekerjaan kan untuk kami?" Rahma kembali meminta jawaban harapannya adalah Hafsa mengabulkan keinginannya, karena selain bisa hidup enak dia juga penasaran dengan kehidupan anak tirinya itu.
"Emm... aku tanya dulu yah! ke majikanku." ujar Hafsa memberikan jawaban yang masuk akal.
"Kalau begitu ibu minta alamat tempat kerjamu saja yah!" dengan antusias Rahma meminta.
Saat Hafsa ingin menjawab segera Melati memotongnya.
"Eh.. kami saja yang meminta alamat atau nomor telepon kalian, karena majikan kami tidak bisa menerima orang sembarangan." jawaban Melati membuat Rahma mendelik sebal tapi tidak ditampakkannya.
"Baiklah, Sesil berikan nomor ponselmu?" dengan terpaksa karena tidak ingin dicurigai Rahma pun menuruti ucapan Melati.
__ADS_1
"I..ya ini." Sesil menuliskan nomor ponselnya dikertas kecil yang ia bawa di tas kecilnya lalu menyerahkan pada Hafsa tapi langsung direbut oleh Melati.
Hafsa pun hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya.
"Oke, sudah saya terima! nanti akan kami telfon kalian jika majikan kami membutuhkan. Yuk Sa udah kelamaan kita disini pasti majikan kami mencari." kata Melati mengakhiri perjumpaan tak terduga itu.
"Ibu, Sesil aku pamit dulu yah!" pamit Hafsa sambil tersenyum dan diangguki oleh mereka.
"Iya, hati-hati jangan lupa kabari kami." jawab Rahma dan Hafsa hanya mengangguk kemudian berlalu dengan Melati.
Sepeninggal Hafsa yang tidak jauh dari mereka, Rahma segera menarik tangan Sesil untuk mengikutinya.
"Mamah.. apa-apaan sih!" Sesil yang tidak tau mencoba berontak.
"Husstt jangan teriak, kita ikuti mereka karena mamah yakin temannya itu tidak akan menelfon kita." kata Rahma dengan membepak mulut Sesil.
Sesil melepaskan bekapannya dan berujar, "Darimana mamah punya pikiran seperti itu."
Rahma mendelik anaknya itu memang bodoh, "Sesil, apa kau tidak melihat dari tadi sikap temannya itu selalu waspada terhadap kita, sudahlah mereka semakin jauh tuh!" Rahma enggan menjelaskan panjang lebar memilih mengikuti Hafsa dan Melati dari belakang dan mau tak mau Sesil pun mengikuti dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hafsa dan Melati pulang dengan riang gembira tak menghiraukan orang yang mengikutinya dibelakang.
Mereka pun sudah keluar dari pasar dan menaiki angkot untuk pulang tapi ada yang aneh Melati malah memberikan alamat yang salah membuat Hafsa mengerutkan alisnya.
"Husstt, lihat dibelakang ada yang ngikutin kita." Melati memberi kode pada Hafsa dengan berbisik.
Hafsa pun mengikuti arah pandangnya dilihatnya Rahma dan Sesil yang menaiki ojek sambil melihat kearah angkot dirinya.
"Itukan..." Hafsa tak melanjutkan.
"Iya, mangkanya aku kerjain mereka biarin aja mereka salah alamat." Melati tertawa akan perbuatannya sendiri.
"Mel, kenapa kamu melakukan ini?" tanya Hafsa tak habis pikir.
"Hafsa... dengerin yah! kau tidak lihat sikap mereka yang ambigu, aku sendiri tidak yakin kalau mereka itu berubah, mereka pasti punya rencana." ujar Melati dengan dugaannya.
Hafsa berfikir, benar juga hatinya juga merasakan keganjalan terhadap mereka. Tapi ngomong-ngomong sahabatnya itu pintar sekali yah! padahal dia dari desa.
"Eh Mel! tapi aku tidak menyangka ternyata kau pintar juga yah!" kata Hafsa tersenyum jahil.
"Hey, tentu saja aku pintar kau tidak tau saja siapa aku. Meski aku dari desa tapi otakku encer". Melati tersenyum bangga.
__ADS_1
"Kalau kau pintar, kenapa kau jadi pelayan?" Hafsa kembali meledek.
"Ya.. kau tau lah aku ini dari kalangan keluarga bawah tanah jadi harus terima kenyataan." jawaban konyol Melati membuat Hafsa terkikik.
"Bahasamu Mel, tapi tidak apa-apa aku pun sama!. Nanti kalau kita punya uang kita lanjutkan kuliah kita." kata Hafsa menawarkan.
"Oke siapp!" Melati menjawab dengan antusias.
Melati pun menyetop angkot dan turun membayar lalu pura-pura masuk, mereka sengaja memilih rumah yang tidak terlalu mewah dan pagarnya terbuka.
Saat yang sama dua ojek berhenti dan mengintai dua gadis itu mereka adalah Rahma dan Sesil.
"Berhenti pak,!" ojek pun berhenti.
"Oh jadi disini mereka bekerja." kata Rahma menganggukkan kepalanya.
"Mah, tapi rumahnya tidak mewah masa iya mereka bisa membayar uang kompensasi sebanyak itu. Sepertinya tidak mungkin mah!" tebak Sesil seakan tak percaya.
"Sesil, mungkin saja majikannya itu mempunyai banyak rumah dan rumah ini tempat si Hafsa bekerja, kalau tidak mana mungkin mereka bisa membayar uang sebanyak itu." Rahma pun menduga dengan pikirannya sendiri. Tapi Sesil nampak tidak menyetujui pernyataan ibunya.
"Sudahlah tidak usah banyak berfikir, yang penting kita sudah tau tempat kerjanya. Yuk pak balik lagi kita pulang." Rahma menepuk pundak tukang ojek itu yang sedari tadi diam saja.
Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu.
Saat mereka sudah benar-benar pergi Hafsa dan Melati keluar dari tempat persembunyian karena sedari tadi mereka sedang bersembunyi.
"Ahh.. akhirnya mereka pergi juga, capek nih punggung." ucap Melati sambil memijat punggungnya.
"Lagian ini juga rencanamu." sungut Hafsa yang ikut merasakan sakit juga karena mereka harus menunduk.
"Hey, bukannya terimakasih karena aku telah menggagalkan rencana mereka malah bersungut seperti itu. Dasar sahabat tidak ada akhlak." kini Melati yang bersungut-sungut.
"Ya... Melati ngambek, oke deh maafin aku yah! dan terimakasih yah yah yah..." Hafsa memasang wajah pupy eyesnya yang membuat Melati jadi ilfil.
Melati pun menarik kedua pipi Hafsa dengan kencang.
"Eh, mukamu jangan begitu yah! aku ini gadis normal."
"Aww... sakit Melati." Hafsa menarik tangan Melati dipipinya.
"Aku kan cuma mau merayu." tambahnya lagi memelas.
__ADS_1
"Udahlah, kita udah kelamaan diluar! yuk pulang " Melati mengajak Hafsa yang memasang tampang cemberut dan kebetulan angkot lewat mereka pun langsung naik dan kembali pulang.