
"Dian, kau mau kemana?." tanya Cici melihat rekannya berdiri sambil merapikan berkas laporan.
"Aku ingin memberikan laporan ini pada CEO." jawab Dian tersenyum lebar karena akan bertemu dengan Elang.
"Hem... kau pasti senang." cibir Cici.
"Iya dong." ujar Dian menjulurkan lidahnya.
Meliana mendengar pembicaraan mereka dia pun berniat ingin menggantikannya.
Saat Dian berdiri dia pun ikut berdiri dengan membawa secangkir kopi yang masih panas lalu dengan sengaja menumpahkan kopi itu ke baju Dian dengan dalih tidak sengaja.
"Aww..." teriak Dian karena kejatuhan kopi panas.
"Aduh.. Dian maaf aku tidak sengaja tadi aku ingin ke pantri untuk menambahkan gula tapi tak sengaja bertabrakan denganmu." ucap Meliana dengan wajah merasa bersalah.
"Aduh panas." keluh Dian menyentuh lengannya karena kopi itu tembus ke kulitnya.
"Dian, kau tidak apa-apa?." Cici datang karena cemas mendengar teriakkan Dian.
"Aku tidak apa-apa, hanya saja aku tidak bisa bertemu dengan CEO dalam keadaan baju kotor begini." keluh Dian melihat bajunya yang kotor.
"Ah aku bawa baju ganti, kebetulan aku memang selalu bawa baju ganti jika aku merasa gerah, tidak apa-apa kau pakai saja dan untuk permohonan maafku biar laporan ini aku saja yang memberikannya." ucap Meliana cepat sebelum Cici bersuara.
"Tapi...!" Dian merasa ragu.
"Kau tenang saja, percaya padaku ini akan tersampaikan dari pada kau kesana dengan pakaian seperti ini menunggu mu tidak mungkin pasti tuan CEO marah." jelas Meliana meyakinkan Dian.
"Ya sudahlah ini kau berikan yah!." akhirnya Dian pasrah dan memberikan laporan itu pada Meliana.
Meliana menerimanya dengan tersenyum lalu berjalan membelakangi mereka.
'Dasar orang-orang bodoh.' ucap Meliana dalam hati tersenyum sinis.
*****
Hafsa dan Melati sudah sampai di perusahaan Elang mereka berdua turun dari mobil dan terkagum-kagum melihat bangunan yang begitu mewah dan tinggi.
"Wah... sa perusahaan suamimu besar juga yah! kira-kira sekaya apa yah suamimu." puji Melati menatap gedung tinggi itu.
"Aku juga tidak tau sekaya apa dia, yang aku tau aku belum minta pun sudah di kasih." jawab Hafsa ikut kagum melihat bangunan tinggi itu.
"Sa, kalau kita masuk ke sana kira-kira ada yang mengenali kita tidak yah." tanya Melati membuat Hafsa mengernyit.
"Kau ini aneh kita kan baru pertama kali kesini sudah pasti tidak ada yang kenal." jawab Hafsa.
"Oh iya ya." Melati tersenyum keki.
"Nona-nona mari saya antar." Galang datang di tengah-tengah mereka.
"Nah ini dia kalau ada dia, di jamin kita bisa masuk." ucap Melati menarik tangan kekar Galang.
"Eh tunggu aku." Hafsa berteriak kecil menyusul mereka.
"Nona tunggu, maaf lepaskan tangan nona aku tidak ingin kena marah tuan Rey." ucap Galang menghentikan jalannya.
Melati melihatnya kemudian melepaskan nya.
"Siapa juga yang menarik mu, aku menarik sahabatku." mencari Hafsa lalu menariknya dan Galang hanya bisa menahan senyumnya.
*****
__ADS_1
Sedangkan didalam perusahaan, Meliana tampak begitu yakin dengan aksinya, dia melihat ke ruangan Rey yang sedang sibuk sendiri dia pun berniat untuk mendekati Rey juga yang tak kalah tampan dan juga kaya.
"Kalau dua-duanya bisa kenapa tidak?." gumamnya percaya diri dengan tersenyum sinis.
"Permisi tuan. Apa tuan CEO ada didalam aku ingin memberikan laporan ini untuk ditanda tangani." ucap Meliana dengan wajah lugu.
"Lalu kenapa kau malah membawanya kesini." jawab Rey datar tanpa menatap Meliana.
"Eh..aku hanya takut saja tuan karena aku baru di sini." tukas Meliana menunduk.
"Dia bukan singa yang akan memakan mu jadi tidak perlu takut. Pergilah." ucap Rey sebenarnya mengusir.
"Baik tuan permisi."
Meliana pun keluar dari tempat Rey, "Heh.. berani sekali dia mengabaikan ku." ucap Meliana kesal.
Lalu berjalan kearah ruangan Elang dan dia merapikan pakaiannya dan sengaja membuka kancing bagian atasnya supaya terlihat buah dadanya yang besar.
"Dia pasti terpesona denganku." ucapnya kemudian.
"Permisi tuan." sapa Meliana mengetuk pintu.
"Masuk..!" terdengar suara berat Elang menjawab.
Meliana pun masuk dan berjalan dengan berlenggak lenggok kemudian berdiri di samping Elang.
"Tuan, ada laporan yang harus anda tanda tangani." ucap Meliana.
Elang mengambil pulpen, "Mana yang harus ku tanda tangani." tanya Elang melihat Meliana sekilas.
"Di sini tuan." Meliana sengaja mencondongkan tubuhnya sehingga buah dadanya yang besar terlihat namun Elang sama sekali tidak melihatnya.
"Terimakasih."
Saat berbalik, Meliana mempunyai niat terselebung dia sengaja menjatuhkan diri dengan dalih terpeleset sepatunya.
Meliana pun terjatuh tepat di pangkuan Elang.
Elang reflek terkejut kemudian menyentuh pinggangnya dan saat itu juga pintu terbuka menampakan Hafsa yang berdiri terdiam.
Matanya membulat sempurna saat melihat pemandangan didepannya.
"Kak Elang." ucap Hafsa pelan namun terdengar oleh Elang.
Elang lebih terkejut lagi saat tau istrinya sudah ada di ruangan nya, dia pun melepaskan Meliana begitu saja hingga Meliana terjatuh.
'Ah sial aku di jatuhkan begitu saja.' ucap Meliana dalam hati merasa tidak terima.
"Istriku, kau sudah sampai." ucap Elang tersenyum.
"Istriku." ulang Meliana pelan, lalu bangun dengan wajah yang menahan sakit.
"Kak Elang aku mengganggu yah! kalau begitu aku pergi dulu." ada perasaan sakit di hatinya begitu melihat suaminya memangku wanita lain di depannya.
Dengan cepat Elang menarik tangan Hafsa, "Kau tidak mengganggu sayang."
Lalu Elang menatap tajam Meliana membuat Meliana ciut dan menundukkan wajahnya.
"Kau segera pergi dari sini dan ganti pakaianmu, aku tidak ingin ada wanita ****** di kantorku. Kau mengerti?." ucap Elang dengan dingin.
"Ba-baik tuan maaf." jawab Meliana takut kemudian melenggang pergi.
__ADS_1
Saat berada di luar Meliana kesal bukan main sambil membetulkan kancing kemeja nya.
'Sial, ternyata dia sudah punya istri, istrinya pun lebih muda dariku.' ucapnya dalam hati kemudian melihat Rey masih sendiri di ruangannya dia pun berniat masuk kembali.
'Jika tidak bisa bos nya maka sekretaris nya pun tidak apa.' ucapnya lagi dalam hati.
Tapi tak lama kemudian, Melati berdiri di sampingnya.
"Siapa dia? apa tuan Rey juga sudah punya pasangan." gumamnya pelan.
"Hey, kau sedang apa?." karyawan lain datang menepuk bahu Meliana sehingga membuatnya keget hingga berjingkat.
"Eh, kau mengagetkan ku saja, aku tidak sedang apa-apa permisi." jawab Meliana pergi begitu saja dan karyawan lain hanya menggedikkan bahu acuh.
*****
Sepeninggal Meliana, Hafsa melepas tangan Elang dari tangannya dengan wajah yang merajuk cemburu.
"Hey, kenapa wajahmu masam?." tanya Elang gemas mencoba menggoda istrinya.
"Baru juga kau masuk kantor, tapi kau sudah genit pada wanita, bagaimana kalau sudah lama, di sini juga wanitanya cantik-cantik tidak heran juga." ucap Hafsa bersungut-sungut tanpa melihat Elang.
Elang tersenyum melihat ocehan istrinya, "Sayang kau menggemaskan sekali jika cemburu." ucap Elang, lalu berjalan ke arah sofa dan duduk dengan santai.
Hafsa mendengus pelan melihat Elang yang santai dan tidak merasa bersalah.
"Duduklah dulu, sepertinya kau butuh rileks aku tidak ingin bayi dalam rahimmu sampai kelelahan karena mu." ujar Elang menyuruh Hafsa duduk di sampingnya.
Dengan kesal, Hafsa menuruti perintah Elang dengan duduk disampingnya namun apa yang terjadi Elang malah sengaja menjegal kakinya membuat Hafsa ingin jatuh namun itu tidak di biarkan nya karena Elang langsung menariknya jadi Hafsa jatuh di pelukan Elang.
Hafsa terkejut dia sudah cemas tadi karena takut akan jatuh dan bayi nya kenapa-kenapa.
"Kau tidak perlu takut, aku tidak akan membiarkan mu terjatuh dan terluka." ucap Elang mengerti keterkejutan dari wajah Hafsa.
Hafsa tersadar kalau dia sedang kesal kemudian dia ingin beranjak namun pelukan Elang malah di pererat.
"Lepaskan, aku sedang marah padamu." ujar Hafsa memberontak.
"Maka aku akan menenangkan mu." kata Elang menatap serius istrinya.
"Kau senang kan memangku wanita itu, siapa dia?." tanya Hafsa masih kesal.
"Aku lebih senang memangku mu, dan dia hanya karyawan baru yang sengaja mencari perhatian ku, kau tau kan bahwa suamimu ini sangat tampan siapapun terpesona denganku termasuk dirimu." ucap Elang tersenyum manis.
Hafsa ingin senyum namun dia tahan,
"Aku tidak termasuk."
"Begitu kah, lalu kenapa kau menjadi istriku dan siapa yang bilang mencintaiku duluan." ucap Elang terus menggoda istrinya.
"Kau... emph.." tanpa aba-aba Elang mencium bibir Hafsa dengan lembut.
Sehingga membuat pertahanan rasa kesal Hafsa kalah, dia terhanyut oleh rayuan bibir Elang yang manis dia juga sangat menikmatinya.
Elang melepas ciumannya dan menatap wajahnya istrinya.
"Percaya padaku, aku hanya mencintaimu selamanya terus mencintaimu, marahlah jika aku di goda oleh wanita dan kau jangan sampai kalah untuk mempertahankan ku." ucap Elang menangkup kedua pipi Hafsa.
Hafsa hanya mengangguk terlihat Elang sangat tulus mencintai nya.
Elang tersenyum dengan anggukkan Hafsa kemudian dia pun membawa istrinya ke pelukannya.
__ADS_1