Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 121


__ADS_3

"Mel, kau dari mana?." tanya Hafsa saat mereka berdua berada di kampus.


Mereka tidak berangkat bersama, Hafsa di antar oleh Galang sedang Melati di antar oleh Rey.


Mereka bertemu di koridor saat ingin menuju kelas, sambil berjalan mereka mengobrol.


"Aku mencari mu di rumah tapi kau tidak ada, kata kak Elang kau tadi malam di bawa kak Rey." tanya Hafsa lagi dengan pertanyaan yang baru.


"Iya, semalam aku memang di bawa kak Rey ke apartemen nya." jawab Melati tersenyum santai.


Tak tau jika yang mendengar sudah kalang kabut.


"Melati, kau ini tidak sabar sekali kalian kan akan segera menikah kenapa harus ke apartemen berdua?." ujar Hafsa, bukan apa-apa hanya saja dia khawatir dengan sahabatnya.


"Husst... diam." Melati berhenti berjalan dan menyuruh Hafsa diam yang ingin bicara lagi dengan menaruh telunjuknya di bibir.


Hafsa juga ikut berhenti dan mengangguk dengan mengunci mulutnya sendiri memperagakan seperti menutup resleting.


"Kau tau mahasiswa kemarin yang mengajak berkenalan dengan kita yang namanya Angga dan Raka." ungkap Melati pelan.


"Iya aku tau, kenapa dengan mereka?."


"Yang namanya Raka itu ternyata adiknya kak Rey."


"Apa...?" teriak Hafsa


"Husst."


"Maaf, seriusan adiknya Rey, jadi kak Rey punya adik." Hafsa pun baru tau jika Rey mempunyai adik karena Elang tak pernah menceritakan tentang Rey kepadanya.


"Iya, aku baru tau kemarin saat datang ke rumah ibu nya Rey. Kak Rey juga tidak pernah cerita tentang keluarganya yang aku tau dia hanya punya ibu tak punya ayah." jelas Melati.


"Ya.. mungkin belum, jika sudah menikah dia pasti akan bercerita semuanya denganmu." kata Hafsa memang masuk akal.


"Ya sepertinya begitu."


"Lalu setelah itu apa? jadi kapan kalian akan menikah aku benar-benar tidak sabar ingin melihatmu menjadi pengantin." ucap Hafsa gemas.


"Dua hari lagi, dan kau tau orang tuaku juga ada disini, mereka di jemput oleh anak buah kak Rey dari kampung dan sekarang mereka ada dirumah utama kak Rey." lanjut Melati menceritakan hal kemarin.


"Jadi orang tuamu juga ada disini." Melati mengangguk tapi wajah Hafsa seketika berubah sendu.


"Kau kenapa? kenapa wajahmu sedih begitu?." tanya Melati melihat perubahan raut wajah Hafsa.


"Aku ingat ayahku entah dimana dia sekarang aku rindu sekali aku juga ingin ke makam ibuku sudah lama aku tidak mengunjunginya." ungkapnya merasa sedih.


Melati merangkul bahunya memberikan rasa nyaman, "Aku mengerti perasaan mu. Kenapa kau tidak minta suamimu saja untuk mencarikan ayahmu? dia pasti mau." Melati memberi saran.


Hafsa sumringah, "Kau benar, kenapa tidak terpikirkan olehku suamiku kan hebat, uuh... dasar payah."


Melati memutar bola mata malas melihat kelakukan sahabatnya.


"Hey, kalian menghalangi jalan kami minggir." ucap suara dengan nada tinggi yang berasal dari belakang mereka.


Hafsa dan Melati menengok ke belakang terlihat Alice cs yang tingkahnya arogan dan sok anggun.


"Silahkan tuan putri." Melati dan Hafsa memberi jalan untuk mereka, sebenarnya mereka hanya malas tidak ingin berurusan dengan mereka.


"Heh dasar budak." kata Alice tersenyum sinis menatap dua sahabat itu.


"Sabar sabar. Ingat aku sedang hamil." kata Hafsa sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


"Kalau mereka tau siapa suamimu, apa mereka masih bisa tersenyum padamu huh.. dasar sombong." Melati sangat kesal ingin sekali menguyel-uyel rambut mereka yang sama itu karena semuanya rambutnya sama-sama keriting.


"Sabar Melati, ingat kau juga jika melaporkan ini pada Rey mereka pasti tidak ada disini." ujar Hafsa memang benar.

__ADS_1


"Ah.. betul juga, aku laporkan saja kali yah." Melati malah meledek ingin lapor.


"Sembrono kau ini, sudah ah tidak perlu terjadi kerusuhan jika mereka tau siapa pasangan kita." kata Hafsa memperingati.


"Baik nyonya Elang aku mengerti." ucap Melati menggoda.


"Sudah lah ayo masuk!"


Saat mereka ingin masuk tiba-tiba Raka menghadang.


"Halo kakak ipar." sapa Raka melambaikan kedua tangan di depan Melati.


"Halo adik ipar." Melati membalas mengikuti gerakan Raka.


"Hay Hafsa selamat pagi." sapa Angga pada Hafsa dengan tersenyum manis.


"Hay juga." balas Hafsa singkat.


"Ayo masuk bareng dosen sudah di belakang." kata Raka mengajak karena dosen memang ada di belakang.


Hafsa dan Melati mengangguk kemudian masuk diikuti Raka dan Angga.


Saat sudah masuk Alice semakin tersenyum sinis melihat pria yang di incar nya selama ini malah mendekati Hafsa.


'Awas kau anak baru.' ucapnya dalam hati.


*****


Kuliah pun selesai.


"Mel, aku ke toliet dulu yah!." kata Hafsa.


"Mau aku temani." tawar Melati.


"Oke, Galang menjemputmu kan, aku disuruh kak Rey untuk ikut kau pulang bersama Galang." ucap Melati menatap ponselnya melihat pesan yang baru masuk dari Rey.


"Oke, tunggu saja disana."


"Kau benar tidak ingin aku temani."


"Tidak perlu, sudahlah aku kebelet nih!." ucap Hafsa sambil berjalan.


"Oke hati-hati." kata Melati mendadak tidak enak perasaan.


Saat di dalam toilet rupanya Hafsa di ikuti oleh Alice cs mereka menunggu kesempatan untuk mengerjai Hafsa.


"Sekarang sudah sepi. Ayo kita beraksi!." ucap salah satu teman Alice.


"Oke."


Hafsa keluar dari bilik toilet lega rasanya karena sudah menuntaskan hajatnya, namun apa yang terjadi setelah keluar rambutnya malah ditarik dari belakang dan tangannya di kunci ke belakang dan itu ulah kedua teman Alice.


"Aw... sakit." ucap Hafsa sambil menahan ujung rambutnya yang di tarik.


"Heh..anak baru berani sekali kau mendekati pria incaran ku. Kau tau aku sudah lama mengincarnya tapi kau datang malah ingin merebutnya dariku. Heh tidak akan." ucap Alice kasar sambil menyentuh dagu Hafsa.


"Lepaskan sakit, aku tidak mengerti maksudmu siapa juga incaran mu aku tidak tau." jawab Hafsa membela diri sambil berusaha melepaskan cekalan tangannya, tapi semakin dia bergerak maka cekalan dan tarikan pun sangat kencang.


"Angga adalah incaranku , sudah lama aku menyukainya dan kau datang malah ingin merebutnya." ucap Alice dengan nada tinggi.


Lalu di sisi lain Melati datang sendiri, Galang langsung bereaksi saat nona nya tidak bersama dengan Melati.


"Nona, nona muda dimana?." tanya Galang.


"Oh dia sedang ke toilet." jawab Melati.

__ADS_1


"Kenapa tidak bersama saja." Galang merasa khawatir.


"Dia tidak mau." jawab Melati lirih.


Tanpa pikir panjang Galang langsung berlari menyusul nona muda nya karen instingnya berkata bahwa nona nya dalam bahaya.


"Galang tunggu!." Melati pun berlari mengikuti Galang.


"Tolong lepaskan aku," pinta Hafsa dengan air mata berada di ujung.


"Kenapa kau takut? mangkanya jangan macam-macam dengan Alice orang tua nya adalah manager di tempat perusahaan terbesar di kota ini perusahaan Wijaya group." tutur teman Alice dengan tertawa sarkas.


Sedang Alice hanya tersenyum sinis merasa bangga dengan jabatan ayahnya.


Mendengar kata Wijaya group bukankah itu nama perusahaan Elang, sekarang yang dia takutkan adalah keberlangsungan hidup Alice serta ayahnya.


"Alice ku mohon lepaskan aku, kau akan menyesal jika kau tidak melepaskan ku, ini demi hidup mu dan keluarga mu Alice." mohon Hafsa sambil menahan perih di rambutnya.


Alice dan teman-teman nya tertawa lebar merasa lucu dengan kata-kata Hafsa, mereka tidak percaya dengan ucapan Hafsa.


"Melepaskan mu, Mimpi dan aku sama sekali tidak menyesal karena ayahku akan melakukan apapun untuk putri kesayangannya ini." ujar nya menunjuk dirinya sendiri.


"Sudah lice buat apa mendengar kan dia, dia hanya membual untuk membela diri lebih baik buat dia yang menyesal karena telah berani denganmu kalau perlu keluar dari kampus ini." saran temannya diangguki teman satunya dan Alice tampak berfikir.


"Kau benar, sebaiknya aku apakan dia yah!." ucap Alice menatap tubuh Hafsa dari atas sampai bawah dan menuju ke perut yang sedikit membuncit.


"Aku tertarik melihat perutmu, ternyata lemak mu besar juga. Kau tenang saja aku akan membantu mengecilkan perutmu ini." ucap Alice sambil merogoh isi tasnya dan mengambil sebuah tali.


Hafsa begitu terkejut, pasalnya dia sedang hamil jika Alice mengikatnya dengan tali maka dia takut akan kenapa-kenapa dengan bayi dalam perutnya.


"Jangan Alice ku mohon." pinta Hafsa sekarang air mata sudah membasahi pipi.


Alice tertawa semakin senang melihat Hafsa yang ketakutan.


"Teruslah memohon aku suka mendengarnya tapi jangan harap aku akan berhenti." ucapnya dengan wajah menyeramkan.


"Alice jangan Alice." Hafsa terus memberontak namun kedua temannya malah semakin kencang mereka terus tertawa melihat penderitaan Hafsa.


Alice sudah melingkarkan tali itu ke perut Hafsa dan ingin mengikatnya dengan kencang saat akan mengikat terdengarlah suara lantang nan keras yang membuat aksi mereka gagal.


"Berhenti..."


Reflek Alice menjatuhkan tali itu begitu juga dengan kedua temannya yang melepaskan tarikan dan kuncian nya.


"Hafsa...!" Melati begitu terkejut dengan keadaan sahabatnya yang memprihatinkan.


Kemudian dia berlari meraih Hafsa kedalam rengkuhannya.


"Hafsa kau tidak apa-apa?." ucap Melati sangat khawatir bahkan dia sampai menangis.


"Nona maafkan saya, saya berjanji akan mengurus semuanya nona tidak perlu khawatir." ucap Galang menunduk merasa bersalah.


"Aku tidak apa-apa, terimakasih kau datang tepat waktu. Tolong jangan beri tau Elang." kata Hafsa pelan masih merasa perih pada rambut dan tangannya beruntungnya bayi dalam perutnya tidak kenapa-kenapa.


"Tuan Elang harus tau nona, dia akan marah besar jika tidak di beri tahu." kata Galang kekeh.


Alice cs yang mendengar kata tuan dan nona seketika perasaan mereka mendadak menjadi gugup.


Dengan perlahan mereka mengendap ingin kabur. Tapi tak semudah itu ferguso.


"Jangan harap kalian bisa kabur." ucap Galang dengan kata yang menekan pertanda dia sedang marah.


Galang menatap tajam pada ketiganya yang langsung membuat nyali mereka menciut.


"A-pa hubungan mu dengannya? ayahku yang akan mengurus nya." ucap Alice dengan gugup masih mengandalkan sang ayah.

__ADS_1


__ADS_2