
Pagipun menyingsing ke empat insan yang masih diselimuti kenyenyakan dalam buaian tidur itu masih terlelap dengan posisi yang berubah.
Tak sadar dengan apa yang mereka lakukan hingga mereka terus bergelut dengan kehangatan satu sama lain hingga salah satu dari mereka menyadari suatu keanehan dan yang menyadari adalah Hafsa.
Dia meraba sesuatu disampingnya begitu keras namun menghangatkan dan membuatnya nyaman begitu juga sesuatu yang disentuhnya tidak merubah posisinya sedikitpun bahkan dia juga masih terlelap dengan kenyamanan ini.
Gadis itu kemudian membuka matanya perlahan menyipit untuk menyesuaikan cahaya yang masuk keretinanya lalu setelah matanya terbuka sempurna, sesuatu yang pertama dia lihat adalah wajah tampan yang mempesona kulit putih bersih hidung mancung bibir seksi dan rahang yang tegas serta alis hitam yang tebal.
Belum pernah Hafsa melihat wajah suami kontraknya ini dengan begitu jelas dan intim ini sungguh suatu anugerah baginya karena bisa menikmati pemandangan indah didepan matanya.
Tak henti-hentinya matanya terus menatap wajah rupawan itu sambil tak sadar tangan mungilnya menyentuh rahang tegas itu.
Saat siempunya bergerak barulah dia tersadar bahwa apa yang dilakukannya adalah melewati batas jika pria itu tau dia pasti kena marah.
Hafsa langsung bergegas ingin bangkit tapi hal tak terduga terjadi Elang pria itu malah menarik pinggang Hafsa dengan erat lalu memeluknya bagai guling sehingga membuat Hafsa terpekik kaget tapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
'Ya ampun bagaimana ini? bagaimana caranya aku lepas dari pria ini?' ucapnya dalam hati.
Padahal suaminya sendiri dia bebas melakukan apapun tapi karena terikat kontrak jadi Hafsa merasa seperti bukan dipeluk oleh suaminya sendiri.
"Tuan lepas, aku tidak bisa bergerak." suaranya akhirnya keluar namun Elang malah semakin merapatkan pelukannya dan sesuatu dibawah sana malah terasa digesekkan ke paha Hafsa sehingga membuat matanya membola seketika.
"Apa itu yang keras?" katanya dengan sedikit risih karena memang dia tidak tau tentang hal itu.
"Tuan lepaskan.!" sekarang gadis itu memberontak.
Dengan secepat kilat, Elang langsung membalikkan badannya yang kini berada diatas dan mengukung gadis itu lalu menggenggam kedua tangannya disamping kepala dan matanya langsung terbuka.
"Diam kau, kau ternyata sudah berhasil membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur dan kau seenaknya minta dilepaskan." ucapnya dengan nada dingin namun tersirat rasa hasrat kelelakiannya.
Hafsa menjadi kelimpungan maksudnya apa? tapi dia sudah menduga bahwa itu sesuatu yang menggelikan dan bukan hanya itu saja yang membuat jantungnya berdegup tetapi juga tatapan matanya yang tajam yang mampu menusuk kerelung hatinya, karena Elang buta maka gadis itu berani menatapnya hanya untuk memandangi wajah tampan Elang.
__ADS_1
Karena jika Elang tidak buta sudah pasti Hafsa tidak akan berani menatapnya.
"Sepertinya aku ingin meminta pertanggung jawaban mu. Istriku." ucapnya lagi tersenyum smirk.
Hafsa mengernyit, "Pertanggung jawaban apa ya tuan."
"Kau tidak mengerti, " Hafsa mengangguk mengiyakan semakin membuat Elang tersenyum misteri.
"Rupanya aku benar-benar mendapatkan istri yang polos atau pura-pura polos dan tidak tau." sarkas Elang menyeringai.
"Aku memang tidak tau tuan."
"Baiklah karena kau istriku, maka aku akan mengajarimu cara melayani suami dengan ke perawananmu. Itu pun jika kau masih perawan." kata Elang lagi.
Seketika kedua bola mata Hafsa membulat saat ternyata pembicaraan Elang sedari tadi menuju kearah sana diapun memikirkan cara agar lepas dari Elang.
__ADS_1