
"Waw... menantumu cantik sekali Sin." kata Dewi memuji Hafsa.
"Iya cantik sekali." kata Satria tanpa sadar keluar dari mulutnya.
Mendengar itu Elang langsung bereaksi.
"Rey, antarkan aku pada istriku."
"Baik tuan." Rey langsung mendorong kursi roda Elang menuju Hafsa.
Dan Satria tersenyum melihat kesigapan Elang yang terlihat cemburu.
"Wah dua pria tampan itu menghampiri kita sa." kata Melati sudah cengengesan.
"Iya! tampan sekali dia tapi sayang dia bukan milikku." balas Hafsa melihat kedua pria itu yang semakin dekat.
"Hey, dia sudah menjadi suamimu kau lupa." reflek Melati menepuk lengan Hafsa.
"Suami kontrak." bisik Hafsa.
"Nanti juga tidak."
"Semoga saja."
"Apa yang kalian bisikkan?" tanya Elang saat sudah dekat.
"Tidak ada tuan, hanya saja nona bilang tuan sangat tampan." kilah Melati tersenyum, sedangkan Hafsa kaget dengan pernyataan sahabatnya, dia langsung mencubit lengan Melati.
"Aww.. apa sih!" kata Melati pura-pura kesal.
"Kau yang apa? kenapa malah bicara omong kosong." balas Hafsa sewot namun malah terlihat menggemaskan.
"Tuan lihat, nona malah memarahiku padahal aku bicara apa adanya." kilah Melati pura-pura lesu.
'Ternyata kau pandai bersandiwara juga.' kata sekretaris Rey yang menonton adegan itu dengan datar.
"Jadi.. kau baru menyadari kalau aku tampan istri kecilku." Elang berucap dengan tersenyum miring.
"Ah eh." Hafsa gelagapan tak bisa menjawab dia menatap Melati dengan kesal tapi Melati malah membuang muka dan berusaha menahan tawanya.
__ADS_1
Sinta tersenyum melihat drama kecil itu dia mendekat demi menyelamatkan menantunya.
"Hey, kalian ini acara mamah loh! kenapa kalian malah buat drama disini kan malu ada tamu." ucap Sinta menepuk pelan pundak Hafsa.
"Tidak apa-apa mah, aku suka jika di tonton supaya istriku." Elang tiba-tiba saja menarik tangan Hafsa membuatnya jatuh terduduk dipangkuan Elang.
Hal itu tentu saja membuat Hafsa dan yang lain terkejut atas tindakan Elang yang tiba-tiba.
Elang memeluk pinggang Hafsa dengan erat lalu berbicara seakan berbisik.
"Yang cantik ini adalah milik Elang Rahardian dan tidak boleh ada satupun pria yang boleh menyentuhnya." meski tatapan itu lurus namun ucapan itu jelas tertuju pada Satria.
Satria yang merasa disindir hanya tersenyum kecut tapi dalam hati dia merasa tertantang untuk memiliki Hafsa juga.
'Heh kau kira aku takut dengan ancamanmu, lihat saja gadis itu pasti akan menjadi milikku.'
"Sudah sudah dari pada disini. Ayo lebih baik kita makan." ajak sang nyonya besar sebelum keadaan menjadi lebih dingin.
Hafsa lalu berdiri, ingin berjalan namun kembali dicekal oleh Elang.
"Rey, biarkan istriku yang mendorongnya." perintah Elang pada Rey.
"Baik tuan." Rey pun melepaskan dan berpindah kearah Melati.
"Ayo Dewi, Satria kita nikmati hidangan ini."
"Iya terimakasih Sinta." di susul Satria dan Dewi.
"Hay...!" sapa Melati pada Rey sambil tersenyum lebar menunjukkan giginya.
Rey hanya menoleh sekilas lalu kembali mode datar.
Melati cemberut, "Dasar kalau sudah kaku, kaku saja." ocehnya dan langsung kena sentil dijidatnya.
"Aww.." keluh Melati mengelus keningnya.
"Kau sedang mengumpatku." kata Rey tapi tidak menoleh pada Melati.
"Tidak, aku bicara sendiri tadi."
__ADS_1
"Kau ini memang pandai bersandiwara." kata Rey.
"Hah bersandiwara, maksudnya apa?" Melati heran, apakah Rey tau kalau dirinya hanya berbohong tadi.
"Jangan kau pikir aku tidak tau. Ingat jika kau melakukannya lagi maka jangan harap kau bisa hidup dengan tenang disini." ucap Rey santai namun bagi Melati tidak, dia sampai kesusahan menelan air liurnya sendiri.
"Rey, kenapa masih di situ? ayo duduk." pinta nyonya Sinta saat Rey masih berdiri di saat semuanya sudah duduk.
"Baik nyonya." Rey pun melangkah.
"Melati, kau mau kemana?" tanya nyonya Sinta saat Melati berjalan berlawanan arah.
"Aku ingin kembali kedapur nyonya." jawab Melati.
"Kau ikut makan juga, karena kau sahabat menantuku. Ayo sini." kata nyonya Sinta dengan melambaikan tangan.
Melati tersenyum, "Beneran nyonya."
"Iya ayo."
Dengan senangnya Melati berjalan mendekati Rey dan duduk di sampingnya membuat Rey tiba-tiba menjadi gelisah namun tetap tenang.
"Hay, ketemu lagi kita memang jodoh sepertinya." ucap Melati pelan hanya Rey yang mendengarnya.
Dan hal itu sukses membuat Rey menjadi tambah gelisah sedang yang membuat gelisah hanya senyum-senyum.
*****
"Mah.. ternyata tuan muda sangat tampan." ucap Sesil dibalik dinding.
"Iya sayang, meski dia lumpuh dan buta." tambah Rahma.
Karena mereka mengambil kesempatan untuk mengintip demi bisa melihat tuan muda.
"Aku kira sudah tua, ternyata masih muda.. ah... aku juga mau kalau begitu." rengek Sesil seperti anak kecil.
"Sabar sayang dia pasti akan menjadi milikmu berikut kekayaan nya juga."
"Harus mah, aku tidak rela jika perempuan itu mendapatkan segalanya sedangkan aku tidak." Sesil masih terus merengek.
__ADS_1
"Sudah Sesil jangan seperti anak kecil, lebih baik kita pikirkan caranya. Ayo kita pergi dari sini sebelum ada yang melihat kita." ucap Rahma menarik tangan Sesil meski sulit.
Tapi mereka tidak tau setelah kepergiannya ada seseorang yang mengirimkan pesan untuk seseorang lain kemudian pergi.