
"Hai....!" sapa temannya yang tidak lain adalah Dewi bersama putranya Satria dengan merentangkan tangan.
"Hai...!" Sinta berbalik berbalas menyapa dan merentangkan tangan juga kemudian mereka cipika cipiki sambil berpelukan.
"Sudah lama sekali tidak bertemu." ucap Dewi melepas pelukan.
"Iya, aku rindu padamu. Bagaimana kabarmu?" balas Sinta tersenyum lebar.
"Aku baik, aku selalu menunggumu kembali dan akhirnya kau kembali juga."
"Iya maaf yah aku perginya lama, habis di sana banyak sekali pekerjaan."
"Iya aku maklum tapi... aku senang loh aku diundang makam malam olehmu."
"Kau ini sudah pasti kau diundang kau kan sahabatku."
"Emm... aku terharu."
Kemudian Dewi memeluk lagi.
"Sudahlah kau ini seperti anak kecil saja." kata Sinta terkekeh.
__ADS_1
"Ehem..!" sebuah deheman membuyarkan drama dua wanita paruh baya itu.
"Eh sampai lupa aku membawa anak bujang." ucap Sinta terkekeh sendiri.
"Eh Satria, maaf yah tante jadi mengabaikanmu." sambung Sinta menatap Satria.
"Iya tante tidak apa-apa! aku maklum kok, dua wanita yang tidak bertemu lama pasti kalau bertemu begini." kata Satria diirngi tawa khasnya.
"Kau benar Satria, tidak ada yang bisa merubah persahabatan kami, kami bersahabat semenjak kami belum menikah hingga sekarang dan aku tidak tau jika tidak ada ibumu akan seperti apa diriku saat kehilangan suamiku dulu. Terimakasih ya Dewi kau selalu ada untukku." ungkap Sinta memelas mengingat masa lalunya.
"Tidak apa-apa itulah gunanya sahabat." kata Dewi tersenyum menatap Sinta.
Namun sepersekian detik saat Sinta tak melihatnya Dewi menatap Satria dengan tersenyum misterius dibalas Satria dengan senyum misterius pula.
"Oh mereka sedang bersiap sebentar lagi juga selesai." jawab Sinta.
Lalu tak lama kemudian datanglah tuan muda Elang dengan kursi rodanya dan sekretaris Rey yang mendorong rodanya.
"Nah itu dia." ucap Sinta menunjuk Elang dengan dagunya.
Satria dan Dewi menoleh melihat Elang datang bersama Rey.
__ADS_1
Dua pria tampan dengan jas yang melekat pada tubuh sispex nya datang mendekati dengan ekpresi sama-sama datar.
"Elang, bagaimana kabarmu?". tanya Dewi
"Baik Tante." jawab Elang datar.
Sinta merasa tidak enak terhadap Dewi tatkala mendapati anaknya yang sangat datar terhadap sahabatnya.
Ingin menegur tetapi ada sesuatu yang lebih mengalihkan fokusnya juga fokus yang lain. Karena datanglah seseorang turun dari tangga bunyi suara hak sepatunya sangat nyaring bertabrakan dengan lantai tangga sehingga menimbulkan suara yang teramat nyaring.
Melihat fokus semua orang berpindah pada dirinya membuatnya jadi salah tingkah dan jadi malu padahalkan dia tidak ingin menjadi pusat perhatian eh taunya sepatu sialan ini membuat dirinya jadi begini atau karena dia tidak pernah memakai sepatu berhak tinggi.
Gadis itu hanya senyum-senyum sendiri melihat tatapan para manusia yang memandangi dirinya tiada henti kecuali Elang dan Rey.
"Tuh kan apa ku bilang, kau sangat cantik lihat! mereka saja pada melongo melihatmu." kata gadis yang menemaninya dan yang ditemani hanya tersenyum malu.
"Sayang, mamah tidak menyangka kau cantik sekali nak!". ucap Sinta saat menantunya sudah berada di bawah.
"Mamah, ini kan dapet mamah juga." jawab Hafsa menunduk malu.
Sinta memang jago dalam berhias dan bakatnya hanya untuk dirinya sendiri serta orang yang disayang dan terbukti Hafsa yang diriasnya menjadi bak putri dari kayangan sangat cantik dengan dress hingga selutut tidak berlengan berwarna peach dipadukan ungu dibagian bawahnya.
__ADS_1
Wajah yang dihias tipis namun sangat memukau dan rambut yang diblow bagian bawah dibiarkan terurai sungguh cocok untuk usianya.
Bahkan Satria saja tak berhenti memandangi Hafsa karena saking terpesonanya.