
"Tuan, kita makan disini saja." ucap Melati menunjuk kedai makan dipinggir jalan.
"Kau yakin disini, kenapa tidak di restoran saja?". tanya Rey.
"Yang aku tau kalau di restoran luar negri itu mahal tuan, jadi kita makan dipinggir jalan saja karena sudah pasti murah dan enak." kata Melati, hal itu yang dia tau.
"Memangnya kau sudah pernah bilang murah dan enak."
"Tuan ini bagaimana malah nanya, karena belum pernah makanya aku ngajakin kesini. Ayo, biar tau murah dan enaknya." kata Melati dengan lugunya.
Rey sampai tak bisa berkata, Melati seperti menjebaknya. Akhirnya Rey pun mengikutinya.
"Eh tunggu disini halal tidak." kata Melati sebelum masuk kedai.
Rey tersenyum karena Melati tidak asal makan diluar negri.
"Meski kau ceroboh tapi kebetulan pilihanmu ini benar disini halal." jawab Rey memang benar karena ada tulisan halal di logo kedainya.
"Wah... senangnya ayo kita masuk aku pengen cobain." Melati pun masuk dengan riang.
"Selamat malam tuan dan nona silahkan mau pesan apa?" tanya pelayan menghampiri Rey dan Melati dengan bahasa asing.
"Aku ingin pesan makanan terenak disini hidangkan semua masing-masing satu porsi." jawab Rey dengan bahasa asing yang fasih.
"Baik tuan, mohon tunggu." kata pelayan itu sopan kemudian pergi dan Rey hanya mengangguk.
Melati hanya melongo mendengarnya karena dia tidak mengerti.
"Tuan Rey pakai bahasa planet yah." celetuk Melati sampai membuat Rey tersedak ludah sendiri.
"Bahasa planet, kau ada-ada saja." Rey sambil menggelengkan kepalanya.
"Lalu kau bicara bahasa apa?" tanya Melati penasaran.
"Kita sedang berada di negara j jadi kita juga harus berbicara bahasa negara ini juga." jawab Rey.
"Oh... begitu ternyata tuan pintar juga yah, tadinya aku mau ngomong pakai bahasa ku tadi sama pelayan itu."
"Dia akan kebingungan jika kau melakukan itu."
"Berarti kalau dia yang ke negaraku dia juga harus berbicara pakai bahasa ku."
"Tergantung."
"Kok tergantung."
"Ya tergantung dia bisa atau tidak dan juga ada penerjemahnya."
__ADS_1
"Dan kau bisa semua bahasa."
"Aku bisa 10 bahasa." dengan bangganya Rey langsung menyebutkan padahal biasanya dia hanya diam jika di tanya tentang kelebihan.
"Wah... 10." saking terkejutnya Melati sampai mulutnya terbuka.
"Hebat sekali kau tuan." lanjut Melati dan Rey seketika tersenyum saat dipuji Melati.
"Tapi kenapa kau tidak jadi bos?, malah jadi sekretaris kan kau pintar." pertanyaan Melati yang ini seketika membuat senyum Rey luntur menjadi sebuah kesal namun gemas.
"Kau belum tau diriku sepenuhnya." kata Rey gemas.
"Em... begitu kalau aku sudah tau dirimu bagaimana?"
"Kau akan lebih terkejut lagi dan mulutmu itu akan terbuka selebar jalan."
"Hahh benarkah." Melati tidak percaya.
"Ingin ku buktikan".
"Iya buktikan saja."
"Sayangnya tidak bisa, karena kau bukan bagian dalam hidupku." kata Rey tersenyum smirk.
"Hem.. sebentar lagi kan aku akan jadi bagian dalam hidupmu." kata Melati dengan pelan, namun tetap terdengar ditelinga Rey yang tajam tapi Rey tidak menanggapinya hanya tersenyum saja.
Rey langsung terkesiap mendengar perkataan itu.
"Hey kontrak kerjamu masih lama jadi kau tidak bisa pulang kampung apalagi menerima lamaran pria di kampung mu." jawab Rey dengan perasaan gusar.
"Kontrakku kan tinggal beberapa bulan lagi tuan apanya yang masih lama." jawab Melati memang benar.
"Kau salah kontrakmu diperpanjang karena kerjamu memuaskan dan tuan Elang suka dengan keterampilan mu." jawab Rey beralasan.
"Benarkah, tapi kenapa bi Rum tidak bilang padaku." Melati mengernyitkan alisnya takut jika Rey berbohong.
"Mungkin dia lupa, apalagi ditunda dengan kejadian kau diculik jadi sekarang aku yang langsung bicara padamu." dengan gugup namun tetap santai sampai Rey berpura-pura membetulkan kerah mantelnya padahal dia sedang menetralkan degup jantungnya yang tak tenang.
"Oh... begitu jadi aku masih lama bekerja disitu yey.. senangnya hatiku aku masih terus bertemu sahabatku." kata Melati dengan senyum riangnya dan Rey ikut tersenyum.
Rey juga sampai heran hanya dengan Melati yang seorang pelayan saja dia bicara saja sampai gugup, dia malah lebih memilih berbicara dengan presiden apalagi jika Melati menatapnya.
Perdebatan itu terhenti karena makanan telah sampai ke meja mereka, berbagai hidangan seafood juga mie ramen serta minuman telah di hidangkan.
Aroma wangi makanan mampu membuat perut menjadi keroncongan.
"Silahkan dinikmati." kata pelayan dengan senyum ramah.
__ADS_1
"Terimakasih." jawab Rey dan Melati tersenyum pada pelayan itu.
"Waw... sepertinya enak tapi... mana nasinya." dengan polosnya Melati mencari yang tidak ada sampai membuat Rey menahan tawa.
"Disini tidak ada nasi, dan mie ini pengganti nasinya."
"Sayang sekali padahal lauknya enak dan tidak kenyang kalau tidak ada nasi." kata Melati menunduk.
"Kebiasaan di negaramu sangat melekat juga, makan saja aku yakin kau pasti akan kenyang." kata Rey mencibir.
"Tuan Rey kau bicara begitu, memangnya kau bukan lahir di negaraku juga." balas Melati mulai mengambil sumpit.
"Aku memang bukan terlahir di negaramu hanya lama tinggal di negaramu." jawab Rey mulai menyuap membuat Melati kembali terkesiap.
"Hah ya ya ya aku memang tidak tau tentangmu lebih baik aku makan." kata Melati memilih mengalah.
Dan saat Melati mulai ingin makan kini dia kesulitan karena seumur-umur dia belum pernah makan menggunakan sumpit mencoba berkali-kali sampai mie jatuh lagi dan lagi, tapi melihat Rey yang lihai menggunakan sumpit dan menyeruput mie yang enak itu membuat Melati terus mencoba tapi tetap tidak bisa.
"Jika tidak bisa jangan dipaksakan." ucap Rey sambil menyerahkan garpu dan sendok.
"Hehehe ternyata kau peka juga." sambil mengambil sendok dan garpu nya dengan cengengesan.
Rey hanya tersenyum tipis saja.
"Nah kalau gini kan enak." mengaduk dengan sendok dan garpu dan memakannya.
"Emm.. enak mienya."
Dengan lahapnya Melati menyantap semua hidangannya hingga Rey hanya melongo tapi senang melihat Melati yang lahap tidak membuang-buang makanan, Rey jadi terus memandangi Melati sambil tersenyum tiba-tiba tanpa sadar dia mengusap bibir Melati dengan ibu jarinya sendiri.
"Makan lah dengan perlahan, tidak ada yang akan mengambil makananmu." ucap Rey begitu saja.
Bahkan Melati sampai bengong tidak percaya jantungnya jadi berdetak lebih kencang dan darahnya tiba-tiba membeku.
Rey tersadar melepaskan jarinya dari bibir Melati kemudian dia menjadi gugup.
"Lanjutkan makan mu setelah ini kita pulang." kata Rey datar.
'Rey, apa yang kau lakukan? aku tidak percaya ini. Oh ya tuhan jantungku diam lah.' kata Rey dalam hati.
'Emm.. aku tidak akan mengelap bibirku, senangnya hatiku." Melati sampai senyum-senyum sendiri.
'Kalau begini aku sudah pasrah jika ibu datang.' kata Rey kemudian.
Kini hanya ada keheningan yang tercipta setelah adegan tanpa sadar yang dilakukan Rey.
Ibu Rey memang sudah menandai Melati sejak kejadian Rey tertidur bersama Melati diruang kerja Rey di rumah Elang dulu dan mungkin sebentar lagi akan ada kejutan untuk Melati.
__ADS_1