Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 91


__ADS_3

"Selain itu kau juga pintar mengambil hati tuan Rey sampai dia membelikan ponsel baru untukmu padahal bukan siapa-siapa." lanjut Hafsa ikut senang dengan keberhasilan temannya.


"Oh iya dong aku kan pernah bilang mau mengambil hati tuan Rey, sekarang aku memang bukan siapa-siapa nya tapi percaya tidak kalau besok aku pasti akan jadi nyonya Rey, hehehe." kata Melati begitu yakin.


"Hah yakin sekali kamu, memangnya tuan Rey suka padamu." Hafsa meledek Melati.


"Hem... kau ini temanku bukan, harusnya menyemangati ku." Melati merajuk sambil memanyunkan bibirnya.


"Oh cup cup maaf yah, tapi yang aku lihat dari tuan Rey sepertinya dia memang mulai membuka hati untukmu dan aku juga yakin kalau kau adalah gadis pertama dalam hidupnya." rayu Hafsa sambil merengkuh Melati.


"Nah begitu dong kan aku nya jadi semangat lagi buat ngejar tuan Rey." Melati tersenyum sambil memukul lengan Hafsa pelan.


"Ah kau ini maunya dipuji-puji terus."


"Tidak apa-apa dari pada disakitin kan tidak bahagia we..."


"Huhh. Ya sudah kita foto-foto lagi yuk."


"Ayo..!"


Mereka pun melanjutkan sesi foto mereka hingga tak terasa senja tiba.


"Istriku sudah cukup, apa kau ingin terus disini?" Elang mengingatkan istrinya yang lupa waktu.


"Ah ya ampun Melati ini mau malam ayo kita pulang." dengan paniknya Hafsa mengajak Melati.

__ADS_1


"Ayo ayo."


"Kak Elang maaf aku kelamaan yah!" Hafsa menghampiri Elang sambil menunduk tak enak pada Elang yang terus menunggu.


"Aku hanya khawatir kau akan kedinginan jika terus berada disini, kau juga belum makan jadi aku sudah memesan makanan untukmu." kata Elang tersenyum sambil mengelus rambut Hafsa.


"Terimakasih kak." Hafsa senang karena Elang perhatian padanya.


"Rey, aku ingin makan berdua kau carilah tempat sendiri." kata Elang.


"Baik tuan."


"Kenapa kita tidak bersama saja?" kata Hafsa bingung dengan pikiran suaminya.


"Tidak apa-apa nona, jangan pikirkan kami." kata Rey mengerti.


"Ahh... so sweet." Hafsa yang diperhatikan tapi Melati yang baper sambil mencubit lengan Rey.


"Melati." Rey reflek memanggil Melati karena Melati mencubitnya.


"Eh maaf maaf tuan." Melati langsung meminta maaf saat tau tangan Rey dicubit olehnya.


"Habisnya mereka bikin baper." lanjut Melati senyum-senyum sendiri.


"Aku juga mau seperti itu." tambahnya lagi tak sadar yang diajak bicara sudah mendahuluinya.

__ADS_1


"Eh tuan tunggu..." berlari kecil mengejar.


"Tuan, kenapa kau meninggalkanku?"


"Aku hanya duluan tidak meninggalkan mu." jawab Rey datar.


"Tuan ngomong-ngomong terimakasih yah ponselnya ternyata kau menepati janji juga." kata Melati.


Rey berhenti berjalan membuat Melati ikut berhenti juga lalu Rey menatap Melati membuat Melati gugup dengan tatapannya yang sangat tajam.


"Aku Rey pantang untuk tidak mematuhi ucapan ku sendiri." kata Rey sangat serius.


Melati mengangguk tapi wajahnya seperti orang plongo karena Rey membuatnya gugup.


"Jadi sekarang apa yang kau inginkan?"


"Ah aku... aku ingin hatimu boleh tidak." Melati malah menggoda Rey membuat Rey tersenyum tipis.


"Aku tidak menjualnya dan hanya punya satu hati." jawab Rey dengan tenang padahal di hatinya ikut tersenyum.


"Hah tuan aku kan minta bukan beli, Ya sudah aku lapar berikan aku makan." kata Melati kemudian.


"Silahkan."


"Ayolah denganmu tuan, aku mana punya uang." kata Melati sambil menarik lengan Rey.

__ADS_1


Rey terkejut dengan tingkah Melati yang berani menyentuhnya karena sebelumnya tidak ada yang berani menyentuhnya bahkan Elang saja tidak pernah.


Dan Rey hanya bisa pasrah saat Melati melakukan itu padanya.


__ADS_2