Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 20


__ADS_3

Lelaki itu terkesiap kaget melihat bahwa dirinya ketauan, ah kenapa bisa padahal dirinya sudah merancang semuanya dengan baik.


Lelaki itupun menjadi panik apalagi terdengar suara derap langkah kaki seseorang menuju dirinya.


Rey, masuk ditengah para pengawalnya dengan tenang dan kedua tangannya ia masukkan kesaku celananya.


"Kau Salah perhitungan kawan." ucap Rey datar dan dingin.


Lelaki itu tak menjawab hanya sorot matanya yang menunjukkan kekesalannya.


"Lain kali belajarlah lebih dahulu, sebelum ingin menculik seseorang." tambahnya lagi kini tersenyum sinis.


Melati yang melihat Rey tersenyum langsung muncul bunga-bunga bermekaran disekitar wajahnya yang berseri-seri sambil menyentuh kedua pipinya.


"Pengawal.. tangkap dia! dan pastikan dia tetap mendekap dipenjara." perintah Rey tegas.


Para pengawal pun menyeret lelaki itu yang ternyata Marcel kekasih dari Diana, dia memang bodoh dan matre namun parasnya memang tampan dan perayu unggul, terbukti Diana pun terjerat olehnya.


Lelaki itu tidak bisa berbuat apa-apa melawan pun percuma karena para pengawal itu memegang senjata yang sudah pasti akan membuat nyawanya melayang meski dia sendiripun memegang senjata.


Marcel menatap sinis pada Rey, sedang Rey tak menatap sama sekali.


Setelah lelaki itu pergi barulah Rey berkata, "Sungguh merepotkan, tikus kecil yang sangat bodoh." ucapnya tapi Melati malah semakin terpesona mendengarnya.


"Tuan, kau sungguh hebat!" ucap Melati dengan mengacungkan dua jempolnya dengan senyuman khasnya.


Tapi Rey tidak membalas dia kembali ke tujuan utamanya menjemput pengantin wanita.


"Nona, kau sudah ditunggu diluar!"


"Oh iya dia sudah siap kok! aku akan membawanya keluar." Melati yang menjawab dengan terus tersenyum.


Setelah itu tanpa berkata lagi Rey langsung meninggalkan tempat itu dengan tenang dan santai.


"Wah dia sangat keren, aku jadi semakin cinta padamu tuan Rey." kata Melati memegang pipinya yang memerah.


"Hey, kenapa kau malah melamun? cepat bantu aku ." ucap Hafsa mengagetkan lamunan Melati.


"Ahh kau ini mengganggu saja." lalu Melati dan perias itu menuntun Hafsa menuju tempat acara sakral yang berlangsung meriah.

__ADS_1


Saat Hafsa datang, semua mata tertuju padanya, mereka semua terpesona dengan kecantikan Hafsa.


Meski Elang tidak bisa melihat tapi instingnya berkata bahwa pengantinnya ini menjadi pusat perhatian orang-orang karena mendadak disekitarnya menjadi hening.


Satria yang sudah ikut hadir dia sangat terpesona dan bahkan matanya tak berkedip sekalipun dalam memandangi gadis itu, tapi dihatinya sangat menyayangkan dia tidak bisa memilikinya.


Saat Hafsa didudukkan disamping Elang, tiba-tiba saja jantung Elang berdegup kencang dia merasa aneh sendiri padahal dia tidak bisa melihat kecantikan Hafsa.


Lalu nyonya Sinta yang duduk disampingnya pun berbisik ditelinga Elang.


"Dia cantik sekali Elang, kau benar-benar tidak akan menyesal beristrikan dia, bahkan orang-orang disini semua terpesona apalagi ada Satria disini yang juga ikut mengagumi pengantin wanitanya." ucap nyonya Sinta mencoba memancing anaknya.


"Ibu sudahlah, jangan merusak moodku." jawab Elang datar, tapi dalam hati ia kesal juga jika gadis yang akan menjadi istrinya itu dipandangi lelaki lain meski dia belum mencintainya.


Pak Anton juga ada disini dirinya dipanggil oleh nyonya Sinta, awalnya dia tidak mau menjadi wali anaknya tapi karena sudah diberi kompensasi dan terlebih disisi lain dirinya merasa bersalah pada anaknya karena telah banyak menyakiti perasaan anak kandungnya. Jadi diapun terpaksa mendatangi acara pernikahan anaknya itu.


Hafsa yang melihat kehadiran ayahnya sangat senang sekali, ayahnya mau menjadi wali nikahnya, meski ini hanya nikah kontrak, diapun tersenyum kepada ayahnya namun, ayahnya hanya diam saja malah mengabaikan Hafsa membuat Hafsa tertunduk sedih.


"Baiklah, pengantin laki-laki sudah siap." tanya pak penghulu pada Elang."


"Siap pak!" jawab Elang dengan tegas.


Hafsa menjawab dengan menganggukkan kepala.


Dan acara sakral ijab Qabul pun dimulai.


Elang sangat fasih dan lancar dalam membacakan ijab qabulnya, hingga kata


SAH


SAH...


"Alhamdulilah...!"


Pak penghulu pun membacakan doa untuk pengantin dan diamini oleh yang lain.


"Kalian sudah resmi menjadi suami istri sekarang."


Lalu selanjutnya Hafsa dan Elang bersungkeman pada orang tua masing-masing.

__ADS_1


Pada saat Hafsa sungkem pada ayahnya ada rasa senang yang tak dapat digambarkan tapi melihat reaksi ayahnya yang datar membuatnya merasa sedih.


"Ayah maafkan Hafsa yah!" kata Hafsa menatap sendu ayahnya.


Lalu mereka pun bergantian.


Tapi saat Elang sungkem dengan Anton, Anton berbisik padanya, "Tolong jaga anakku.!" hanya itu kata yang diucapkannya kemudian terdiam kembali.


"Baik pak!" jawab Elang singkat, dia hanya mengiyakannya saja.


"Nak! terimakasih sudah mau menikah dengan Elang, ibu senang sekali. Semangat yah sayang kamu pasti bisa." ucap nyonya Sinta penuh harap dan Hafsa hanya mengangguk.


Setelah itu resepsi pun dimulai semua tamu sudah berdatangan dan bersalaman, para kolega bisnis Elang dan ibunya tak luput dari undangan mereka.


Seluruh kerabat serta sahabat pun sudah berdatangan dan mengucapkan kata selamat dan mereka juga terpesona pada kedua pengantin itu yang tampan dan cantik.


"Wah lihatlah mereka, serasi sekali." ucap Melati yang tiba-tiba disamping Rey, dengan memegang kedua pipinya.


"Apa kau ingin seperti mereka juga?." ucap Melati lagi karena Rey sedari tadi diam, datar dan tanpa senyum meski tuannya sedang berbahagia.


Eh berbahagia ralat mereka kan hanya nikah kontrak dan Rey memang ingin bereaksi seperti apa? apalagi dirinya mengetahui.


'Dia sombong sekali sangat kaku. Tapi kenapa aku malah kesemsem sama dia.' ucap Melati dalam hati mencibir Rey masih diam.


"Tuan, aku berbicara denganmu loh! kenapa tuan diam saja seperti patung. Apa tuan tidak ada kemauan untuk menikah." tanya Melati lagi meski diabaikan tapi tetap saja dirinya selalu memulai.


"Maaf, aku sedang tidak ingin berbicara." jawabnya datar sedatar lautan.


Melati mendelik kesal, tapi Melati tidak kehabisan ide. Dia mengambilkan minum untuk Rey.


"Tuan kau pasti haus. Ini aku ambilkan minum."


Rey menerimanya kemudian menatap Melati.


"Jangan coba mencari perhatian padaku, karena itu hanya sia-sia." ucap Rey pada Melati dengan pelan namun menusuk.Kemudian pergi begitu saja.


Melati awalnya melongo mendengarnya tapi dia tidak akan menyerah.


"Hah sadis sekali bicaranya, tapi lihat saja dia pasti akan jatuh cinta padaku." ucap Melati dengan yakin.

__ADS_1


__ADS_2