
Meliana mengernyit malas, "Tidak apa-apa pak saya bisa sendiri. Permisi." Meliana lebih memilih sendiri dari pada harus bersama atasannya yang sudah tua dan mata genit itu.
Para karyawan dan seluruh staf perusahaan berbaris sesuai dengan tingkatannya menunggu sang CEO Elang Rahardian tiba, lalu tak berapa lama datanglah rombongan memasuki kantor pusat.
Elang dan disebelah nya Rey berjalan tegap dengan penuh kharisma aura kepemimpinan yang terpancar di wajah keduanya sangat melekat sehingga membuat siapapun akan segan dengannya.
Semua staf dan karyawan menunduk hormat pada pemimpin mereka dengan wajah yang serius.
Meliana detik itu juga sangat terpesona dengan ketampanan yang dimiliki Elang dia tersenyum tipis kemudian.
'Ternyata dia memang sangat tampan, sepertinya aku menyukainya apalagi dia sangat kaya aku harus bisa memilikinya.' batin Meliana tersenyum tipis.
"Selamat pagi semuanya." ucap sang manager memberi salam.
"Selamat pagi...!" jawab semuanya serempak.
"Baiklah, maaf mengganggu waktu kalian disini saya akan mengucapkan sesuatu yang membuat kalian pasti kaget. Ya di samping saya ini, beliau adalah CEO perusahaan Wijaya group tuan Elang Rahardian, beliau telah sembuh dan akan kembali memimpin perusahaan ini tepuk tangan untuk tuan Elang." ucap sang manager menjelaskan tentang Elang namun tidak detail.
Semua pun bertepuk tangan, senyum terpancar dari bibir masing-masing.
"Terimakasih untuk kalian semua, saya harap untuk ke depannya kita bisa bekerjasama dalam membangun suatu kinerja yang lebih baik lagi. Silahkan kalian kembali ke pekerjaan kalian terimakasih."
"Terimakasih tuan." ucap sang manager.
Setelah berkata seperti itu Elang melangkah maju bersama sekretaris Rey untuk memasuki kantornya.
"Ternyata dia memang benar-benar tampan." ucap Dian tak henti-hentinya memuji Elang.
"Iya, sungguh aku sangat terpesona." tambah Cici dengan mata berbinar.
Mereka kembali ke meja masing-masing setelah bertemu CEO tersebut dan tak henti-hentinya tersenyum lebar begitu juga dengan yang lain apalagi yang wanita baik yang masih muda dan sudah tua.
Sedang Meliana hanya diam saja duduk di meja kerja nya membuat Cici dan Dian yang dekat dengan mejanya menjadi heran pasalnya hanya Meliana yang biasa saja.
"Mel, tuan Elang sangat tampan bukan." kata Dian bertanya.
"ya, aku akui dia memang sangat tampan. Tapi...!" Meliana menggantung ucapannya membuat ke dua rekan kerja nya penasaran.
"Tapi apa?" tanya keduanya serempak.
"Dia bukan tipeku." jawab Meliana santai.
Cici dan Dian melebarkan matanya terkejut mendengar jawaban Meliana yang malah terlihat biasa saja.
"Yang benar saja Mel, dia itu idaman para kaum hawa Mel siapapun pasti akan jatuh cinta padanya." kata Dian bersungut-sungut dan di angguki oleh Cici.
"Iya aku tau, tapi... aku tidak tertarik padanya gimana dong?." kata Meliana menjawab dengan nada manja.
"Heh.. ya sudahlah itu bukan urusan kita. Yuk kita kerja saja."
"Yuk..!"
Akhirnya mereka berdua kembali ke meja kerjanya berusaha untuk tidak heran dengan Meliana yang tidak tertarik dengan Elang padahal mereka tidak tau saja setelah mereka pergi Meliana tersenyum sinis dan berkata.
"Heh.. asal kalian tau aku sangat tertarik sekali dengannya dan malah ingin menjadikan nya milikku tak peduli dia sudah mempunyai kekasih ataupun istri aku akan menggantikan posisinya." gumamnya sambil menatap sinis punggung mereka.
Dan Meliana langsung tersenyum manis saat mereka melihat ke arahnya.
*****
Hafsa berjalan ke arah dapur untuk mencari sahabat ceria nya Melati dia rindu sekali ingin mencurahkan semua yang terjadi padanya juga ingin tau yang terjadi dengan Melati.
"Bi Rum..!" sapa Hafsa saat melihat bi Rum yang sedang bekerja.
__ADS_1
"Eh! non Hafsa, apa kabar?." jawab Bi rum tersenyum senang.
"Baik bi Rum, bi Rum sendiri." tanya nya balik.
"Bi Rum juga baik, hanya saja kesepian tidak ada non."
"Ah bi Rum bisa saja." kata Hafsa bergurau.
"Oh iya, selamat ya non."
"Selamat untuk apa?."
"Untuk kehamilannya bi Rum sangat senang sekali karena rumah ini akan ramai dengan tangisan bayi." ucap bi Rum tau kehamilan Hafsa.
"Bi Rum tau aku hamil dari siapa?." tanya Hafsa merasa heran dia saja baru kembali, ah pasti ibu yang memberi tahu duluan pikirnya dalam hati.
"Dari nyonya non." jawab Bi Rum.
Tuh kan benar
"Oh.. iya aku memang sedang hamil bi Rum terimakasih."
"Apa? hamil..!" ucap seseorang yang begitu senang saat mendengar kata hamil siapa lagi kalau bukan Melati.
Hafsa segera menengok asal suara itu dan senang saat bertemu, "Melati..!"
"Hafsa..!"
Lalu mereka berpelukan seperti orang yang sudah lama tidak bertemu.
"Melati kau dari mana saja pergi tidak bilang-bilang aku jadi mencari mu kan." kata Hafsa mengawali.
"Aku selalu ada disini, dan kau juga pergi tidak bilang-bilang aku juga sibuk mencari mu sampai aku harus lapor polisi untuk mencari mu." Balas Melati menjawab asal.
Dia pun menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, kemudian pergi demi menjaga privasi mereka.
"Kau hutang cerita padaku Melati." kata Hafsa cemberut.
"Kau juga hutang cerita padaku." balas Melati dengan cemberut juga.
Kemudian detik berikutnya mereka tertawa atas kelakuan masing-masing.
"Eh! enaknya kita cerita dimana yah!." tanya Hafsa kemudian.
"Em... di taman saja sambil ngemil dan ngejus." jawab Melati.
"Wah.. bener tuh ide yang bagus kebetulan aku ingin makan puding buatan mu." ucap Hafsa menahan liurnya.
"Oke.. ayo kita eksekusi." ujar Melati mengacungkan jempolnya.
Mereka pun pergi ke dapur untuk membuat puding coklat juga jus alpukat kesukaan mereka berdua.
Sambil berkutat dengan alat dapur dan juga bernyayi juga bercanda gurau membuat pelayan lain yang melihatnya ikut senang karena mereka bercanda tidak hanya berdua terkadang mereka mengajak yang lain untuk bergurau bersama.
Para pelayan sangat senang dengan nona nya selain baik dia juga sangat humble dengan siapa pun di tambah bersahabat dengan Melati yang sifatnya lebih ceria dan humoris menjadikan mereka ada rasa kagum dan juga ada yang ingin di posisi Melati.
Kini puding dan jus buatan mereka telah selesai, mereka membuatnya lebih banyak supaya yang lain bisa ikut mencobanya.
"Hay kalian semua aku tidak bisa menyebut nama kalian satu-satu. Kalau ada yang mau ini ambil saja yah di kulkas." kata Hafsa menunjuk kulkas sedang Melati hanya tersenyum.
Para pelayan di sekitarnya menengok dan tersenyum serta mengangguk.
"Terimakasih nona." jawab mereka.
__ADS_1
"Ayo Melati."
"Ayo."
Melati membawa puding dan Hafsa membawa jus, lalu mereka pergi ke taman.
Saat sampai di taman mereka meletakkan puding dan jus itu tapi sedetik kemudian mata Hafsa beralih ke tengah taman yang di tumbuhi banyak pohon buah karena selain ada pohon bunga di sana juga tertanam pohon buah pilihan.
"Melati sejak kapan di sini ada pohon buah?." tanya Hafsa tidak menyadari atau lupa.
Melati melongo tidak percaya, "Hey dari dulu juga di sini banyak pohon buah kau lupa atau bagaimana?." jawab Melati mengeplak lengan Hafsa pelan.
"Hah masa sih! perasaan tidak ada deh." kata Hafsa heran.
Melati memutar bola mata malas, "Berapa kali kau kesini?." Melati malah bertanya.
"Hem.. sepertinya dua kali." jawab Hafsa sambil menyentuh dagunya.
"Nah itu dan kau di sini sudah lama bukan, saat kau disini dulu pohon itu belum tumbuh buahnya dan sekarang sudah tumbuh dan buah yang kita jus ini berasal dari sana." tunjuk Melati pada buah alpukat yang bergerombol.
"Wah... banyak sekali ahh... aku jadi pengen ke sana." ucap Hafsa dengan wajah yang berbinar.
Melati menimpali senang, "Ayo kita ke sana."
Hafsa dan Melati pun berjalan cepat ke arah pohon yang sedang panen itu diantaranya ada pohon alpukat, mangga apel, jambu merah dan jambu kristal.
"Wah.. Melati melihat buah-buah ini aku jadi ingin buat rujak." kata Hafsa menahan air liurnya.
"Kau benar Hafsa aku juga jadi ingin." Melati pun sama menahan air liurnya sambil membayangkan makan rujak.
Saat Hafsa ingin memanjat Melati langsung panik.
"Hey, kau mau apa?."
"Ya aku mau manjat lah mau ambil buahnya." jawab Hafsa enteng.
"Kau ingin aku di sleding sama suamimu karena membiarkan wanita hamil manjat pohon." ujar Melati sudah bisa membayangkan kemarahan Elang.
Hafsa terkekeh dan tersenyum simpul, "Ah Melati kau so sweet sekali." dengan tangan membentuk love.
"Hih...!" kata Melati ilfil jika yang mengatakan sesama perempuan.
Melati pun memanjat dari satu pohon ke pohon ke pohon lainnya sampai buah itu terkumpul lumayan banyak di keranjang.
"Sudah banyak kan." ucap Melati terengah-engah karena kelelahan dia juga berkeringat seperti habis lari maraton.
"Hah hah cape sekali." kemudian Melati berbaring di rumput yang rindang dan bersih demi melepas penat.
"Sudah segini cukup. Ahh.. buahnya besar dan segar-segar aku jadi tidak sabar." ucap Hafsa begitu tergiur dengan buah-buah nya yang menggiurkan tak peduli Melati yang kelelahan.
"Melati ayo buat sambalnya." saat menengok ternyata yang di tanya malah tertidur.
"Malah tidur, kasian." Hafsa menjadi tidak tega jika menyuruh Melati membuat sambalnya dia pun melihat tukang kebun yang lewat.
"Pak Wawan..!" panggilnya kemudian.
Yang di panggil menengok dan langsung berlari menghampiri.
"Iya nona saya, ada yang bisa saya bantu?."
"Tolong bawakan ini ke dapur dan bilang sama mereka buatkan aku rujak dengan sambal yang enak dan tidak terlalu pedas." titah Hafsa pada pak Wawan.
"Baik nona." jawab pak Wawan sambil menerima buahnya.
__ADS_1
Sambil menunggu Hafsa berjalan-jalan sekitar taman itu, melihat bunga yang bermekaran dan sangat indah membuatnya mendapat ide, ingin membuat karangan bunga dan memberikannya pada Elang dia tersenyum sendiri saat membayangkan itu.