
Saat dua wanita berumur sama itu membicarakan anak-anak nya tiba-tiba saja anak dari nyonya Dewi datang kebutik untuk menyapa.
"Halo mah, aku datang!"
"Satria...!" ucap nyonya Dewi meskipun kesal tapi jika anaknya datang tetap disambut dengan senyuman.
"Hai nak! kapan kau pulang?" tanya nya sambil merangkul dan mencium anak sulungnya.
"Baru tadi siang mah!" jawab Satria kemudian melirik nyonya Sinta.
"Hay Tante, apa kabar? sudah lama tidak bertemu!" Satria menyapa nyonya Sinta yang ada dihadapannya.
"Tante baik Satria, kamu semakin tampan saja!" kata nyonya Sinta.
"Ah Tante bisa saja, aku memang tampan sejak lahir Tante." ujar Satria menyentuh dagunya dengan bangga membuat ibunya mendengus.
"Hai Sinta anakmu juga tampan."
"Ah iya dia emang lebih tampan." Kemudian mereka berdua terkekeh.
"Oh iya Tante bagaimana keadaan Elang? aku belum menjenguknya hingga tahun terakhir ini." tanya Satria karena dirinya memang sejak Elang kecelakaan baru dua kali menengok setelah itu Satria pergi ke luar negri untuk melanjutkan pendidikannya.
"Elang, baik-baik saja bahkan dia sudah ingin menikah.!" jawab nyonya Sinta tersenyum.
"Menikah, dengan Diana Tante." Satria terhenyak mendengarnya, ya karena Satria mengenal Diana maka dia menebak Elang menikah dengan Diana.
"Tidak, tuh dengan gadis itu!" tunjuk nyonya Sinta pada Hafsa yang sedari tadi duduk sambil membaca majalah karena tidak ingin mengganggu dua mamah hebat itu.
Satria menengok kebelakang melihat ada seorang gadis yang sedang melihat-lihat majalah tidak menyadari bahwa dirinya diperhatikan.
Satria mendekati gadis itu dan menyapa.
"Hai, kau calon istri Elang, kenalkan aku Satria sahabat Elang." ucap Satria mengulurkan tangannya pada Hafsa.
Mendengar ada yang menyapa dirinya Hafsa pun menengadahkan wajahnya dan keduanya langsung terkejut untuk beberapa saat.
Satria menurunkan tangannya dengan pandangan tak menentu ketika mengetahui bahwa gadis yang baru saja dia temui itu yang berhasil menarik perhatiannya ternyata adalah calon istri dari sahabatnya.
__ADS_1
Hafsa kemudian berdiri, tidak menyangka bisa bertemu dengan pria yang baru saja ditemuinya.
Nyonya Sinta dan nyonya Dewi terheran merlihat ekpresi mereka yang terkejut saling diam maka mereka berdua menghampiri Satria dan Hafsa.
"Hei, kenapa kalian diam?" Hafsa dan Satria tersadar dari keterkejutannya setelah mendengar suara nyonya Dewi.
"Satria, ini Hafsa gadis yang akan dinikahi Elang, calon menantu Tante." kata nyonya Sinta memperkenalkan.
Hafsa dan Satria tergugup lalu dengan tenang Satria menormalkan perasaannya dengen berdehem lalu mengulurkan tangannya.
"Hai, aku Satria kita bertemu lagi.!" ucapnya sambil tersenyum.
Dengan merasa tidak enak hati tapi hati masih dongkol terpaksa Hafsa menerima uluran tangan itu.
"Aku Hafsa.!" kemudian dengan cepat Hafsa menurunkan tangannya kembali.
Nyonya Dewi dan nyonya Sinta mengerutkan alisnya saat mendengar bahwa Satria sudah bertemu Hafsa.
"Apa maksudmu nak? kau sudah bertemu dengan Hafsa.?" tanya nyonya Dewi heran.
"Iya mah, tadi siang aku bertemu dengannya, aku tidak sengaja hampir menabraknya." kata Satria pelan karena merasa bersalah.
"Aww... mah kenapa memukulku?" keluh Satria.
"Jelas mamah memukulmu kau hampir saja membuat pernikahan ini ditunda." kata Dewi dengan kesal.
"Nak, apa kau tidak apa-apa? kenapa kau tidak cerita ke ibu kalau dirimu hampir celaka." kata nyonya Sinta dengan panik sambil memegang bahu Hafsa.
"Iya sayang, apa ada yang terluka? biar Tante obati yah!" giliran nyonya Dewi menyingkirkan Sinta dan dia memeriksa tubuh Hafsa dari atas ke bawah.
Hafsa yang mendapat perlakuan dari dua mamah hebat yang seperti itu merasa canggung dan tidak enak, terlebih dia tidak bisa memarahi Satria.
"Aku tidak apa-apa kok Tante, dia bilang kan hampir menabrak tidak sampai kena." jawab Hafsa tersenyum tipis.
"Syukurlah kalau kau tidak apa-apa, kalau tidak Tante bingung apa yang akan ibu ucapkan pada Elang." Nyonya Sinta mengelus dadanya lega.
"Hey, kenapa kau diam saja? minta maaflah!" nyonya Dewi memukul bahu Satria lagi sehingga Satria mengaduh kesakitan lagi.
__ADS_1
"Mamah, kenapa memukulku lagi? iya aku akan minta maaf." kata Satria kesal pada mamahnya yang seenaknya memukul seperti anak kecil.
"Hafsa, aku minta maaf! tadi itu aku benar-benar ingin bertanggung jawab tapi kau keburu marah dan pergi." jawab Satria.
"Itu karena kau menggodaku, aku berfikir kau bukan pria baik-baik, makanya aku segera pergi." balas Hafsa membuat nyonya Sinta dan Dewi menatap tajam pada Satria.
"Jadi kau menggodanya?" tanya nyonya Dewi.
"Tidak, em.. maksudku hanya sedikit." jawab Satria membuat nyonya Dewi menjewer telinga.
"Ah ampun mah!" Satria meringis sambil memegangi telinganya yang ditarik ibunya.
Sedangkan Hafsa dan nyonya Sinta menahan tawanya dengan menutup mulutnya.
"Kau ini dasar nakal, kau tau tidak dia ini calon menantu sahabat mamah, seperti tidak ada gadis lain saja untuk kau goda." omel ibunya kemudian melepaskan jewerannya.
"Mah, aku kan tidak tau kalau dia adalah calon istri Elang." keluh Satria pasrah, karena kepulangannya sudah disambut ibunya dengan menyakiti fisiknya meskipun begitu tapi ibunya tetap sayang dengan anak sulungnya ini.
"Ya sudah Dewi sudah jangan diperpanjang lagi aku dan Hafsa kesini ingin mencari gaun dan jas untuk pernikahan anakku." nyonya Sinta segera mengalihkan perdebatan antara anak dan ibu itu.
"Ya ampun sampai lupa kan gara-gara dia.!" Satria mendengus sebal saat dirinya lagi-lagi disalahkan.
"Ya sudah ayo aku bantu!" nyonya Dewi menarik tangan sahabatnya dan mengajak mereka untuk keruangan khusus.
"Ayo nak ikut kami.!" nyonya Sinta mengajak Hafsa juga.
Saat kedua nyonya itu berjalan kedepan sambil bercakap-cakap ria Hafsa yang berada dibelakangnya tiba-tiba tangannya dicekal erat oleh Satria.
Hafsa pun berhenti dan menoleh Satria yang tersenyum padanya.
Satria pun mendekat dan berbisik pelan kedekat wajahnya membuat Hafsa memundurkan wajahnya.
"Aku kira kita bertemu lagi karena berjodoh tapi aku tidak menyangka kau sudah milik orang lain, padahal kau adalah gadis pertama yang membuatku tertarik." ucapnya tersenyum smirk.
Hafsa menarik tangannya dan berkata, "Maaf, aku harus pergi." balasnya tak mempedulikan perkataan Satria dan melenggang pergi.
Satria tersenyum tipis sambil memandangi punggung Hafsa yang menjauh.
__ADS_1
"Jika kau tidak berjodoh dengan Elang, maka aku siap untuk menjadi penggantinya." gumamnya pelan lalu pergi mengikuti mereka.