Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 76


__ADS_3

Elang memutuskan untuk keluar dari rumah sakit secepatnya dia tidak sabar ingin memberikan hukuman pada orang yang menyamar menjadi istrinya.


Pintu gerbang terbuka lebar, Elang pulang bersama supir karena Rey sedang menjalankan tugas jadi Rey tidak ikut pulang bersama Elang.


Didepan pintu utama Elang sudah disambut dengan Sinta, Sesil yang masih menyerupai Hafsa kepala pelayan berikut para pelayan dan para pengawal.


Mereka ingin menyambut bahagia kedatangan tuan muda yang sekarang sudah bisa melihat.


"Selamat datang tuan muda." sambut para semua orang dengan ramah.


Elang hanya mengangguk, berjalan mendekati Sesil.


"Apa kau merindukanku?" tanya Elang dengan suara baritonnya, wajahnya yang semakin tampan iya condongkan pada Sesil yang membuat gadis itu tersenyum sumringah.


Begitu pula Sinta yang bahagia karena anaknya tidak lagi menyueki istrinya akhir-akhir ini.


"Emm.. iya." jawab Sesil menunduk malu diikuti pula pelayan perempuan lain yang mendengarnya ikut malu.


Lah padahal itu untuk nona nya kenapa pelayan nya juga ikut malu pesona Elang memang benar-benar.


"Baiklah, karena hari ini adalah hari bahagiaku aku mengumumkan untuk besok kalian libur tidak perlu ada yang bekerja dan aku juga akan memberikan bonus untuk kalian semua. Bagaimana kalian mau?" ucap Elang menawarkan sesuatu yang tentu saja mereka tidak akan menolak.


"Mau... tuan muda." sorak mereka menjawab bahkan pelayan atau pengawal yang masih muda mereka sampai berjingkrak saking senangnya.


"Kau baik sekali nak, lalu apa hadiah untuk ibu." kata Sinta yang juga ingin diberi hadiah namun sebenarnya tersirat maksud lain dari pertanyaan itu.


"Untuk ibu, aku akan memberikan yang spesial untukmu dan aku akan memberikannya bersama menantumu." jawab Elang tersenyum serasa mengerti dengan maksud tersirat ibunya.


Mendengar jawaban itu tentu saja Sinta tersenyum dan di balik itu Sesil dan Rahma tertawa bahagia dalam hati masing-masing merasa misinya telah berhasil dan tinggal selangkah lagi apalagi Sesil yang mengira bahwa Elang akan bermain dengannya.


"Baiklah, silahkan kau beristirahat. Kau pasti lelah, sayang ajak suamimu ke kamar yah." ucap Sinta menyuruh menantunya.


"Iya Bu dengan senang hati." jawab Sesil semangat.


"Ayo sayang." Sesil langsung mengapit lengannya ke lengan Elang, Elang hanya membiarkan dia malah tersenyum smirk.


*****


Tiba di dalam kamar Sesil dengan genit mendekati Elang dia menyentuh dada bidang Elang sedang Elang diam saja tapi sebenarnya merasa jijik.

__ADS_1


"Sayang, aku kira kau tidak peduli padaku." ucap Sesil dengan nada dibuat manja.


"Kenapa aku harus begitu padamu? sebenarnya aku hanya ingin memberikan kejutan untukmu, kejutan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu." ujar Elang panjang lebar tersirat senyum samar yang tak di lihat oleh Sesil.


"Benarkah, aku terharu sekali ternyata suamiku selain tampan dan kaya romantis juga aku jadi semakin sayang." tutur Sesil tangannya ingin memeluk tapi Elang segera menepisnya dengan membawa duduk di ranjang.


"Kau tidak sabar kah sayang sampai membawaku ke ranjang." kata Sesil tersenyum genit.


"Iya, aku memang tidak sabar untuk..."


Elang menghentikan ucapannya sejenak lalu tersenyum smirk, dia sengaja mendekatkan wajahnya pada Sesil, Sesil tentu saja sangat senang dia mengira Elang akan menciumnya sehingga dia menutup matanya namun apa yang terjadi?.


Elang melepas paksa topeng yang dipakai Sesil untuk menyerupai wajah Hafsa, maka terpampang lah wajah Sesil yang terkejut sekaligus takut.


"Untuk membuka wajah asli yang menyerupai istriku." ucap Elang seketika raut wajahnya langsung berubah dingin dan tidak bersahabat membuat Sesil semakin ketakutan.


"Ee.. tuan muda maafkan aku." ucap Sesil memohon sampai bersujud di kaki Elang.


"Siapa yang menyuruhmu dan dimana istriku?" tanya Elang langsung pada intinya dengan menatap tajam Sesil.


"Aku tidak tau dimana Hafsa." Elang langsung menjambak rambut belakang Sesil saat Sesil hanya menyebut nama.


"Iya maaf aku benar tidak tau dimana nona." tukas Sesil sambil memegangi ujung rambut pangkalnya supaya tidak terlalu sakit akibat jambakan Elang.


"Bohong..." bentak Elang.


"Be.. nar tapi jika yang menyuruh aku tau." Sesil cepat menjawab.


"Siapa?" kata Elang.


"Dia teman tuan kalau tidak salah Satria namanya." kata Sesil dengan terbata.


"Kau yakin." Elang mengulangi karena dia sedikit terkejut dengan nama Satria.


"Iya tuan aku sangat yakin, dia lah yang menyuruhku untuk memakai topeng ini dan berpura-pura menjadi nona." terang Sesil, air mata sudah membanjiri pipinya.


Elang kemudian melepas jambakannya lalu menuju wastafel mencuci tangan lalu mengelapnya.


"Satria..." Elang mengepalkan tangannya saat mengingat bahwa pria itu juga mencintai istrinya.

__ADS_1


"Sayang, kau tunggulah sebentar lagi aku akan menjemputmu." gumam Elang menatap cermin di depannya.


Elang kemudian mengambil ponsel dan menelfon seseorang.


"Bawa dia kesini."


ucap Elang pada ponsel di seberangnya.


"Baik tuan." jawabnya tegas.


Tak lama kemudian Rahma datang dengan diseret dua pengawal, saat masuk Sesil langsung berlari memeluk ibunya.


"Mah, kita ketauan mah." kata Sesil sambil memeluk Rahma.


Rahma hanya bisa balas memeluk dan tidak bisa menjawab.


"Pengawal." panggil Elang tegas.


"Iya tuan." jawab pengawal.


"Bawa mereka ke kantor polisi dan jebloskan mereka ke penjara." ucap Elang tegas membuat Rahma dan Sesil bereaksi.


"Tuan jangan tuan, kami hanya disuruh tuan kasihanilah kami tuan." Rahma malah memohon yang mana membuat Elang muak.


"Seharusnya kau bersyukur kau hanya dipenjara dan bukan aku bunuh." ucap Elang dingin berhasil membuat mereka membeku."


"Pengawal bawa mereka keluar dan suruh pelayan untuk mengganti sepreiku." kata Elang.


"Baik tuan."


Rahma dan Sesil akhirnya hanya bisa pasrah dari pada mereka dibunuh lebih baik mereka dipenjara.


Setelah kepergian semuanya Elang menghela nafas, "Hah menyusahkan saja." ucapnya lalu tak lama kemudian ponselnya berdering dan itu dari Rey.


"Iya Rey."


"Tuan, aku sudah menemukannya." jawab Rey disebrang sana.


Elang tersenyum, "Baiklah aku segera kesana."

__ADS_1


Elang menutup panggilan telfon sepihak lalu dia mengambil jasnya kemudian pergi.


__ADS_2