
Flashback on
Hafsa sedang berada diruangan kerja nyonya Sinta, duduk berhadapan dengannya. Nyonya Sinta memandang Hafsa penuh harap sedangkan Hafsa tertunduk merasa seperti rakyat jelata yang ingin diberi hukuman karena kesalahannya.
Tangannya gemetar keringat dipelipisnya mulai membasahi pipi dia bertanya-tanya dalam hati ada apa ini? kenapa dirinya dipanggil pada saat sedang santai, apakah dirinya akan dipecat karena kelalaiannya dalam bekerja.
Oh ya ampun jangan, meski kehidupannya dalam keluarganya tidak baik tapi dia tidak ingin lagi-lagi mengecewakan mereka. Oh iya Hafsa kan belum tahu bahwa ayahnya sudah menceraikan istrinya, Rahma dan Sesil pun sudah pergi dari rumahnya dengan membawa uang kompensasi miliknya.
"Duduklah, kenapa kau berdiri saja?". Nyonya Sinta yang melihat ketegangan Hafsa berusaha untuk berbicara lembut.
"Ah, tidak apa-apa nyonya aku berdiri saja!" jawab Hafsa yang merasa tidak enak harus duduk berhadapan dengan nyonya rumah.
"Tidak apa-apa duduk saja, mungkin obrolan kita ini akan sangat panjang dan kau akan merasa lelah jika berdiri saja. Percayalah ini pasti akan menguras pikiranmu." ucap nyonya Sinta dengan wibawanya yang lembut namun tegas.
Hafsa berfikir sejenak, kemudian dia duduk lagi pula dia sudah dapat ijin dari sang nyonya.
"Terimakasih nyonya,!" nyonya Sinta mengangguk tersenyum.
"Kau tau kenapa aku memanggilmu?" tanya nyonya Sinta dan Hafsa menggeleng.
"Iya, aku memanggilmu, karena aku ingin memberimu tugas."
Tugas,! tugas apa? seperti sudah menjadi agen saja.
"Tugas apa nyonya?" tanya Hafsa pelan.
"Tugasmu sangat mudah, hanya menikah dengan anakku." ucap nyonya Sinta dengan santai seperti tak ada beban dalam mengatakannya.
Apa!!!!
Hafsa sampai melongo mendengar tugas konyol yang diberikan oleh nyonya Sinta. Tugas apaan itu memang ada tugas seperti itu? pikirnya dalam hati merasa terkejut dengan yang tak terduga.
"Menikah dengan tuan muda Elang maksudnya nyonya." ulang Hafsa masih dengan keterkejutannya.
"Ya kenapa? kau tidak mau.!" telak nyonya Sinta membuat Hafsa gelagapan.
"Eh.. bukan seperti itu, hanya saja aku dan tuan muda kan sangat jauh berbeda dan sudah pasti tuan muda akan menolak ini." protes Hafsa dengan halus tanpa berniat menyinggung perasaan nyonya Sinta.
"Elang, menjadi urusanku yang terpenting kau mau menikah dengannya. Bagiamana?."
__ADS_1
"Ta- tapi."
"Kau tenang saja, aku tidak mempunyai maksud apapun. Aku menyuruhmu menikah dengan Elang karena aku ingin memisahkan anakku dari wanita jalangg yang suka menggoda anakku dan dengan bodohnya anakku selalu terayu dan tergoda olehnya." ungkap nyonya Sinta merasa geram dan tidak mau menyebutkan nama wanita itu.
"Tapi... kenapa harus aku nyonya?" tanya Hafsa dengan raut wajah penasarannya.
"Karena kau baik, cantik, tulus dan bisa menjaga serta merawat anakku, aku sudah senang melihatmu pada pandangan pertama dan kau juga pasti akan membuat wanita itu kalang kabut merasa harga dirinya terinjak." terang nyonya Sinta lagi.
Hafsa yang mendapat pujian itu, pipinya menghangat, benarkah apa yang diucapkan nyonya Sinta dia tidak ada maksud lain kan contohnya dengan menjualnya begitu.
Ah!! Hafsa menepuk kepalanya sendiri merasa sangat jahat mencurigai nyonya Sinta yang baik itu.
Nyonya Sinta hanya tersenyum kecil melihat tingkah Hafsa yang aneh itu.
"Tapi nyonya...!"
"Kau akan menikah secepatnya nak, dan Tante yakin kau pasti bisa membuat Elang jatuh cinta padamu."
Apalagi ini jatuh cinta padaku dari Hongkong itu tidak mungkin, nyonya Sinta ada-ada saja bicaranya.
"Tapi nyonya...!"
"Aku akan memberikan pekerjaan untuk ayahmu." ucapnya cepat tak memberikan kesempatan Hafsa berbicara.
Nyonya Sinta tersenyum, "Aku percaya padamu dan untuk urusan hasilnya aku pasrahkan pada Tuhan." tambahnya dengan nada yakin.
Hafsa kemudian menghela nafas merasa ini seperti mimpi dirinya akan dinikahkan dengan tuan muda yang dingin itu hanya karena ibunya tidak ingin anaknya diganggu terus oleh wanita yang tidak dia sukai.
Apakah orang kaya seperti itu?, menggampangkan sesuatu hal yang menurutnya sepele namun bagi orang yang berada dikalangan bawah seperti Hafsa itu seperti bencana baginya.
"Bagaimana kau setuju kan?"
"Apakah ini termasuk sebuah perjanjian nyonya." tanya Hafsa ragu.
"Tidak, tidak ada perjanjian tertulis ataupun persyaratan apapun. Anggap saja aku menjodohkan kalian." tambahnya lagi dengan tenang dan santai.
Kemudian Hafsa mengangguk mengiyakan pasrah dengan apa yang akan terjadi.
*F*lashback off
__ADS_1
****
Hari yang ditunggu pun telah tiba yaitu pernikahan Elang dan Hafsa akan berlangsung hari ini juga.
Elang sudah siap dengan jas nya dan sudah duduk didepan penghulu bersiap untuk melakukan ijab kabul.
Sementara Hafsa yang didalam ruangan sudah selesai dirias dengan cantik, bahkan sangat cantik sampai membuat MUA beserta Melati sangat kagum padanya.
"Wah, kau cantik sekali Hafsa. Aku sampai tidak menyangka kalau itu kau." ucap Melati memuji Hafsa dengan mata berbinar.
"Iya benar, memang sudah dasarnya cantik setelah dirias jadi makin cantik." tambah MUA yang merias Hafsa.
Mendengar dirinya dipuji terus-menerus membuat pipinya semakin memerah malu.
"Udah ah! jangan dipuji terus nanti aku terbang bisa gawat ga bisa turun lagi." kelakar Hafsa sambil tersenyum malu.
"Ya kan nanti bisa ditangkap sama pangeran burung Elang." jawab Melati meledek temannya.
Disisi lain seorang lelaki datang mengendap-endap dengan penyamarannya menjadi seorang pelayan, dia melirik kanan dan kiri untuk meminimalisir keadaan disekitarnya.
Lalu dia menuju ketempat dimana Hafsa berada.
Tapi sayangnya pergerakan lelaki itu sangat mudah dikenali karena nyonya Sinta dan Rey sudah mempersiapkan semuanya dengan baik termasuk orang yang ingin menghancurkan pernikahan anaknya.
Dengan mudah Rey dapat menemukan orang mencurigakan itu tapi dia tidak langsung menangkapnya dia ingin melihat dulu apa yang akan lelaki itu lakukan ditempat itu.
Rey dengan matanya yang tajam dan instingnya yang bagus yang tak kalah dengan Elang dia akan memergoki lelaki itu.
Pintu ruangan Hafsa terbuka membuat ketiga orang itu menoleh secara bersamaan dan mereka terkejut mendapati seorang lelaki yang masuk kedalam ruangan mereka.
"Hey, siapa kau? keluar sana ini bukan tempat untuk laki-laki" ucap Melati dengan Suara yang keras.
Lelaki itu tak bergeming dia mendekati Hafsa dengan ragu-ragu.
"Hey siapa kau? jangan mendekat." teriak Melati lagi melindungi Hafsa yang dibelakangnya begitupun yang dilakukan perias itu sehingga Hafsa tidak terlihat.
Laki-laki itu masih diam dengan pandangan datar dengan memakai masker hitam.
"Diam, jangan halangi aku kalau kalian tidak ingin terluka. Aku akan membawa pengantin wanita ini." jawab lelaki itu dengan menunjuk Hafsa yang terlihat matanya yang sedang mengintip.
__ADS_1
"Tidak bisa kau yang harusnya pergi, kau tidak tau sudah berurusan dengan siapa hah!".
"Aku tidak peduli." ucapnya dengan tegas tapi sebelum itu terjadi pintu ruangan terbuka lagi membawa beberapa pengawal yang siap siaga memasuki ruangan dengan berbagai senjata dan menodongkan pada lelaki itu.