Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 73


__ADS_3

Hafsa yang didalamnya Sesil memasuki ruangan dimana ruangan itu terdapat pakaian serta alat-alat yang lain seperti tas, sepatu dan aksesoris.


Hafsa memandang takjub tiada henti, pandangannya sama seperti pandangan mata para wanita yang haus akan belanja yang tidak puas jika hanya memiliki satu saja.


"Wah.. ini semua milikku!" ucapnya penuh mata berbinar serta senyum yang lebar.


Dia mengelilingi sambil tangannya menyentuh dinding kaca itu.


Tadi pagi dia memang tidak sempat untuk melihatnya dikarenakan Elang terus memanggilnya padahal dia sudah penasaran dari tadi.


"Jika tidak dapat orangnya, uangnya juga tidak apa-apa." ucapnya lagi tersenyum sumringah.


*****


Operasi sudah berjalan sesuai rencana, membutuhkan waktu beberapa jam Rey masih setia menunggu padahal dia ingin memastikan sesuatu yang sedari tadi terus mengganjal di hatinya.


Nyonya Sinta juga Hafsa palsu sudah ada disana juga, mereka dijemput saat operasi Elang hampir selesai, sebenarnya Hafsa merasa malas dijemput saat itu karena dirinya sedang bersantai ria mencoba kemewahan yang disuguhkan Elang.


Tak berapa lama lampu operasi dimatikan menandakan operasi telah selesai pintu pun terbuka dokter Ziyan menyambut para penunggu itu dengan tersenyum.


Sinta yang paling antusias dirinya langsung berlari saat Ziyan keluar.


"Bagaimana Ziyan?" tanya Sinta penasaran.


"Selamat Tante operasi nya berhasil." jawab Ziyan jelas dan singkat.


Semua tersenyum mendengarnya.


"Lalu kapan Elang?.. "


belum lanjut Ziyan sudah menyela, "Sabar Tante kita pindahkan Elang dulu ke kamar rawat." lanjut Ziyan tersenyum kecil.


"Terimakasih Ziyan." kata Rey meski keadaan begitu Rey tetap tenang.


"Sama-sama, tenanglah Elang baik-baik saja." jawab Ziyan menepuk pundak Rey.


*****


Karena Elang sudah baik-baik saja, Rey memutuskan untuk pergi ke tempat tujuan dahulu karena pikiran ini selalu membuatnya tidak tenang siapa lagi jika bukan masalah Melati.


Rey menyusuri suatu perkampungan dimana kampung itu tempat Melati tinggal dia benar-benar tidak menyangka jika memang Melati telah menikah.

__ADS_1


Saat masuk perkampungan itu ternyata mobil tidak masuk dia memarkirkan mobilnya di depan gang.


Saat Rey berjalan semua mata tertuju padanya bagaimana tidak Rey yang tinggi dan tampan serta dibalut jas mahal dengan kacamata hitamnya sudah seperti artis saja sudah pasti menjadi pusat perhatian para warga di sana.


Namun mereka hanya bisa melihat dan mengagumi saja karena perawakan Rey yang dingin dan tegas membuat mereka takut untuk sekedar menyapa.


Tiba pada tempatnya Rey mengetuk sebuah rumah dimana rumah itu yang paling kecil namun rapih dan asri di hiasi dengan banyak tanaman bunga juga pohon jambu.


Kenapa Rey bisa langsung menuju rumah itu karena Rey sudah tau itu rumah Melati.


Semua itu tak lepas dari tatapan para tetangganya setelah ini sudah pasti kampung itu akan dihebohkan dengan kedatangan Rey.


Tak berapa lama seorang pria paruh baya keluar dengan membawa cangkulnya sepertinya hendak ke sawah.


"Permisi, apa disini diadakan pesta pernikahan untuk anakmu yang bernama Melati." tanpa babibu Rey langsung bertanya ke intinya membuat orang tua itu bingung dan terdiam di depan pintu.


"Bah, siapa di sana?" sebuah suara dari dalam datang menuju suaminya yang terbengong.


"Eh, ada tamu, Abah ada tamu kok diam saja bukannya di suruh masuk." wanita paruh baya terkejut juga melihat ada tamu tak diundang yang sangat tampan, namun dia malah menyuruh tamu itu masuk.


Rey masuk dan duduk di kursi yang sebenarnya tidak layak pakai untuk Rey.


"Bah.. malah melamun." wanita itu menyikut lengan suaminya.


"Tuh orangnya sudah masuk." wanita itu menunjukkan dengan jarinya.


"Maaf, kamu siapa dan dari mana?" tanya si Abah dengan sopan.


"Aku Rey aku majikan Melati anak kalian." ucap Rey dengan menunjuk foto Melati yang terpampang di depannya.


Mereka berdua terkejut bukan main mimpi apa semalam bisa di datangi oleh majikan anaknya yang di kota.


"Me la ti, lalu ada apa?" tanya si Abah dengan terbata.


"Apakah benar anakmu akan menikah?"


"Hah menikah.." wanita dan pria yang diketahui orang tua Melati itu saling pandang.


"Melati menikah? kapan? dengan siapa? dasar anak itu sudah merantau maksa dan sekarang mau menikah tapi tidak bilang-bilang awas saja jika anak itu pulang." celoteh ibu Melati rupanya dia marah mendengar pernyataan dari Rey.


"Bu sabar Bu sabar." suaminya berusaha menenangkan istrinya.

__ADS_1


"Kalian tenanglah." ucap Rey tegas dan mereka langsung diam.


"Jika Melati belum menikah maka baguslah aku jadi tidak merasa gelisah lagi. Terimakasih kalian sudah meluangkan waktu untukku." ucap Rey, kali ini dia tersenyum manis membuat orang tua itu membalas tersenyum.


"Maaf aku sudah membuat kalian berfikiran buruk tentang anak kalian, aku datang kesini hanya ingin memastikan saja dan anakmu aman bersamaku." kata Rey terpaksa berbohong, bagaimana pun juga dia tidak ingin melibatkan orang tua ini.


"Iya tidak apa-apa kami hanya kaget saja, kami bahkan mengira Melati kabur dari anda tuan." kata Abah Melati.


"Jangan panggil aku tuan panggil saja Rey." kata Rey merasa tidak enak karena mungkin mereka akan jadi calon mertuanya.


"Ah tidak apa-apa masa majikan dipanggil nama." si Abah tersenyum kikuk.


"Baiklah kalau begitu aku permisi, ada urusan yang harus aku selesaikan." pamit Rey.


"Iya silahkan! tidak apa-apa."


Rey pun keluar dari rumah itu, berjalan dengan wibawanya yang berkarisma.


Orang tua Melati menatap kagum pemandangan itu sungguh mereka malah mengkhayal mereka dikunjungi oleh calon menantu.


"Siapa itu tadi kang?" tanya salah satu warga yang mengintip.


"Calon menantu." ceplos ibu Melati menjawab.


"Calon mantu.. yang bener mani ganteng pisan." sahut warga dengan logat khasnya.


"Eh.. bukan itu majikan anak saya." Abah segera membenarkan omongan istrinya sebelum merembet kemana-mana.


"Oh majikan, mau apa atuh majikan kesini-kesini segala."


"Nah itu, dia pasti mau melamar anak saya." ibu Melati malah tersenyum sendiri dengan jawabannya.


"Bu, jangan mimpi tidak mungkin kita punya menantu seperti dia, lihat dia siapa anak kita siapa?" kata Abah mengingatkan sesuatu yang tidak mungkin.


"Bah siapa tau saja anak kita berjodoh dengannya."


"Ya terserah mu lah." si Abah memilih masuk dan tak meladeni khayalan istrinya.


Para tetangga pun bubar setelah mengetahui kejadian nya tapi ini sudah pasti akan menjadi buah bibir dikalangan mereka dan ibu Melati masih tersenyum sambil membayangkan Rey dan Melati menikah.


Rey sudah menduga bahwa apa yang dikatakan Hafsa tidak benar tidak mungkin Melati melakukan hal itu, Kini Rey sudah menyuruh anak buahnya untuk mencari keberadaan Hafsa dan Melati.

__ADS_1


Yang jadi pertanyaan Rey siapakah Hafsa yang saat ini bersama Elang dan dia harus bicara dengan Elang.


__ADS_2