
Meski masih ragu tapi Melati berusaha mempercayai supaya cepat selesai karena dirinya juga tidak enak karena sudah terlalu lama berada diruangan itu.
"Ya sudah tuan, kalau begitu aku permisi dulu.
Aku sudah terlalu lama disini nanti aku dimarahi." ucap Melati mengakhiri dengan senyum canggung.
"Hmm...!" Rey hanya berdehem, kemudian..
"Tunggu..."
"Ada apa tuan?" Melati baru melangkah.
"Bawakan aku sarapan disini." perintah Rey.
"Baik tuan." Melati pun bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.
Setelah Melati pergi Rey mengusap wajahnya kasar kemudian dia menghela nafas sejenak beralih duduk di kursi kerjanya dan mengecek cctv, karena dirinya penasaran apa yang terjadi semalam.
Setelah di cek dirinya sungguh tidak percaya dengan apa yang dia lihat karena dirinya sendiri yang menghampiri gadis itu tanpa sadar dan malah memeluknya.
Rey menggelengkan kepalanya sungguh dirinya benar-benar tidak percaya jika itu yang terjadi, untung saja dia bisa menguasai keadaan kalau tidak maka dia akan malu seumur hidupnya.
*****
"Hey Melati!" panggil Hafsa saat tak sengaja melihat Melati.
Melati berhenti kemudian menoleh, "Eh! Hafsa."
__ADS_1
"Dari mana saja kau? aku kekamarmu tadi tapi tidak ada." tanya Hafsa pada Melati.
"Eh.. e...!" Melati bingung ingin menjawab apa.
"Kau kenapa Melati? kenapa gugup seperti itu?" ucap Hafsa menyipitkan matanya.
"Husstt.. jangan berisik yah! sini aku bisikin?" Melati mengisyaratkan telunjuknya agar Hafsa tidak berisik dan menyuruhnya mendekat lalu berbisik di telinganya.
Hafsa pun menuruti dengan mendekat kearah Melati dan memasang telinganya.
"Semalem aku tidur diruang kerjanya tuan Rey dan tidur sama dia." ucap Melati pelan.
"Apa..??" Hafsa reflek mengeraskan suaranya.
plakk...
"Aww..!" membuat Hafsa mengaduh.
"Dibilang jangan keras-keras."
"Iya maaf... tapi beneran yang kamu bilang."
"Iya bener. Tapi dia tidak mau ngaku kalau dia tidur se sofa bareng aku, dia bilangnya buru-buru kesini karena ada hal penting sampe lupa mandi dan sarapan. Alhasil dia nyuruh aku bikinin sarapan." ucap Melati senyum-senyum sendiri.
"Jadi maksudmu tuan Rey menginap disini dan ketiduran di sofa denganmu." kata Hafsa menelaah sendiri.
"Yap betul.. tapi dia berkilah tapi tidak apa-apa melihat dia gugup seperti itu menjadikan dia pria yang lucu. hihihi." Melati terkikik sendiri membayangkan wajah Rey yang merah karena gugup.
__ADS_1
"Ah kau senang sekali sepertinya."
"Iya dong!".
Disaat mereka masih tengah asyik berbincang melupakan tugas mereka disaat itu pula bi Rum datang menghampiri mereka sambil membawakan troli makanan untuk tuan muda Elang.
"Nona Hafsa, Melati.. sedang apa kalian?" tanya Bi Rum sukses mengagetkan mereka.
"Eh bi Rum..!" jawab mereka serempak.
"Tidak sedang apa-apa, kami hanya sedikit berbincang karena tadi aku tidak bertemu Melati." ucap Hafsa gugup takut pembicaraan mereka terdengar tadi.
"Oh itu makanan untuk tuan muda yah! sini biar aku yang bawa." kata Hafsa lagi saat melihat troli itu.
"Jangan nona biar saya saja!" tolak bi Rum halus.
"Tidak apa-apa lagi pula lagi pula aku juga ingin kesana, bi Rum silahkan mengerjakan yang lain saja." ucap Hafsa tersenyum.
"Melati aku duluan yah!"
"Iya..!" jawab Melati cepat.
Saat Melati tersenyum canggung dan ingin melangkah dengan cepat bi Rum mencegah.
"Melati kau dari mana saja semalam." pertanyaan yang tidak ingin didengar pun akhirnya keluar juga dari mulut Bu rum membuat Melati menjadi gugup lagi.
Melati tersenyum kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1