
Hari ini Elang sedang berada diruang kerjanya ditemani sang asisten setia, Rey. Karena Elang lebih nyaman bekerja dirumah ketimbang dikantornya sebelum dia sembuh.
Saat sedang seriusnya bekerja situan muda teringat dengan permintaannya pada asisten Rey.
"Rey, apa kau sudah menemukan donor mata yang cocok untukku?" tanya nya sambil menutup berkasnya.
"Belum tuan, tapi aku pastikan tidak akan lama!" jawab Rey yakin.
"Tuan tenang saja, aku akan mendapatkan yang tuan inginkan." sambung Rey lagi, dirinya memang sudah berjanji akan mencarikan donor mata yang cocok untuk tuan mudanya dari dulu hanya saja belum ketemu sampai sekarang.
"Aku percaya padamu Rey." begitulah jawaban Elang, memang Rey adalah kepercayaan Elang sejak dulu dia sahabat sekaligus partner kerja yang baik dan kompeten.
Tiba-tiba Elang teringat dengan kata istrinya yang mengatakan akan mengajarinya berjalan dan dia ingin menagihnya.
"Rey, sepertinya sudah cukup aku disini." kata Elang dan Rey mengerti.
"Apa yang tuan inginkan?" tanya Rey.
"Panggilkan pengasuh itu kemari!" meski Hafsa sudah menjadi istrinya, tapi Elang tetap saja memanggil gadis itu dengan sebutan pengasuh.
"Baik tuan."
Rey memanggil melalui interkom yang langsung tersambung kepada kepala pelayan dan akan disampaikan tujuannya oleh kepala pelayan.
Hafsa sedang membantu Melati di dapur sambil bercanda ria dan kepala pelayan memanggilnya.
"Nona, maaf anda dipanggil tuan muda diruang kerjanya sekarang." katanya sopan, sambil membungkukkan tubuhnya membuat Hafsa merasa tidak nyaman.
"Bi Rum, biasa saja kepadaku jangan begitu. Aku merasa tidak nyaman." kata Hafsa menunduk.
"Tidak bisa nona, karena sekarang nona adalah istri dari tuan muda jadi saya harus menghormati nona". jawab Kepala pelayan yang tidak ingin dibantah.
"Dan seharusnya nona juga jangan berada disini apalagi tangan nona sampai ikut bekerja.
Dan kau Melati dia sekarang adalah nonamu jaga batasanmu dia bukan partner kerjamu lagi." sambungnya lagi, lalu menatap Melati yang wajahnya langsung tertunduk.
Ini tambah membuat Hafsa tidak nyaman karena dirinya hanya istri kontrak dari tuan muda Elang mereka tidak tau saja jika sudah setahun dirinya akan ditendang dirumah mewah ini.
"Tidak apa-apa bi Rum, dia kan sahabatku sekarang, aku butuh teman dan aku senang membantunya, bi Rum jangan memarahinya." bela Hafsa kepada Melati dan Melati merasa tersanjung.
__ADS_1
"Baik nona, maafkan saya. Saya hanya memastikan nona nyaman atau tidak. Kalau begitu saya permisi." setelah mengatakan itu dirinya pergi dengan sikap yang tenang.
"Nona muda terimakasih telah membelaku." kata Melati dengan tangis kecil.
Tapi Hafsa malah menggeplak lengan Melati, membuat gadis itu meringis, "Kau ini lebay, dimatamu aku tetap sahabatmu dan bukan nona muda. Kau sendiri saja sudah tau bagaimana statusku dengan tuan muda itu." ucap Hafsa memelas.
"Kan untuk sekarang kau memang nona muda." ledek Melati mencolek dagu Hafsa.
"Itu menggelikan tau," ucapnya lagi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Udahlah tidak kesal-kesal, mendingan cepetan geh kau samperin suamimu kalau kelamaan nanti dia marah." ucap Melati lagi sambil tersenyum geli.
"Heh... iya dia mau apa lagi yah!" ucapnya pelan menarik nafas dan menghembuskannya.
"Dia mau kasih hadiah." ucap Melati terkikik geli.
"Jangan meledekku terus Melati, atau aku juga akan bilang pada Rey tentang kekurangan mu." ancamnya membuat Melati semakin tertawa karena dia tidak takut dengan ancaman sambal itu.
"Bilang saja, aku yakin kau tidak akan berani."
"Hehh.." Hafsa meninggalkannya dengan senyuman kesal membuat Melati terus tertawa.
tok tok tok
Suara pintu terketuk dan suara sambutan terdengar dari dalam.
"Masuk." suara Elang yang menjawab.
tumben pikir Hafsa karena biasanya asisten Rey yang selalu menjawab dan dia yakin asisten itu ada didalam menemani tuannya dengan setia.
Gadis itu membuka kenop pintu perlahan, nampaklah dua pria tampan dihadapannya yang sedang duduk dan sedang berdiri tegap.
"Iya tuan, ada apa memanggil saya." kata Hafsa menundukkan kepalanya.
"Kemari." perintah Elang karena Hafsa terlalu jauh darinya.
Hafsa lalu berjalan mendekat kearah meja berhadapan dengan Elang.
"Kau, kau bilang ingin mengajakku berjalan-jalan. Mana janjimu?" ucap Elang tanpa basa basi.
__ADS_1
Hafsa mendongakkan wajahnya. Janji mengajak berjalan-jalan kapan yah!
"Jangan berpura-pura lupa atau sok lupa, aku tidak ingin mengulang kata-kata ku." kata Elang dingin.
Kemudian Hafsa teringat perkataannya sendiri waktu dikamar mandi bersama Elang bahwa dirinya akan melatihnya berjalan.
"Ah iya! jadi tuan muda mau." kata Hafsa semangat.
"Untuk apa aku memanggilmu, jika tidak mau." balas Elang masih dingin.
"Baiklah, ayo tuan!" dengan semangat 45 Hafsa langsung mengiyakan membuat Rey tampak terkejut.
'Semangat sekali' batin Rey dalam hati terlihat senang.
"Mau saya antar tuan." tawar Rey.
"Tidak perlu Rey, biar dia saja." balasnya langsung dan Rey mengangguk.
"Lebih baik kau kembali kekantor." ucap Elang lagi.
"Baik tuan." setelah itu Rey keluar demi untuk melaksanakan perintah tuannya.
"Cepat kau bantu aku." sela Elang pada Hafsa.
"Ah iya tuan."
Hafsa pun membantu mendorong kursi roda Elang dan membawanya ke taman belakang mansionnya yang mewah.
Ditaman itu terdapat pohon-pohon Cemara yang indah serta berbagai tanaman hias dan bunga-bunga yang indah. Pepohonan pun bukan hanya Cemara tapi pohon lainnya juga membantu meramaikan taman ini sehingga tampak lebih indah dan alami.
Hafsa senang jika berada disini tapi dia jarang berada disini sewaktu dia masih sebagai pengasuh karena pekerjaannya yang menyita waktu dan sebenarnya dia sengaja meminta Elang untuk melatih disini supaya Hafsa bisa berlama-lama ditaman ini.
' Wah akhirnya aku bisa kesini lagi.' ucap nya dalam hati sambil menghirup udara segar dan sejuk.
"Tuan, bisa kita mulai." kata Hafsa pada Elang.
"Hemmm" jawab Elang membuat gadis itu mengkerut karena jawaban ambigu Elang.
"Baiklah kita mulai dari sana saja yah tuan." tunjuk Hafsa pada bangku taman yang dekat kolam ikan.
__ADS_1
Kemudian gadis itu membawa tuan muda ketempat yang dia tuju, dengan semangat dan senyum yang terus terkembang dibibir gadis itu, dia mendorong kursi rodanya dengan perlahan dan sampailah di bangku itu.