
Elang kini sedang duduk matanya masih diperban dan kini siap untuk dibuka ditemani dengan dokter Ziyan, Sinta dan juga Hafsa.
Rey tidak ada karena Rey pergi mendadak dengan urusannya jika Elang tau sudah pasti Elang akan marah.
"Elang, kau sudah siap untuk melihat dunia barumu lagi." kata Ziyan menginstruksi.
"Aku siap." jawab Elang mantap.
Sinta dan Hafsa menunggu dengan harap-harap cemas.
Lalu Ziyan membuka perban dan memutarnya sampai perban itu habis setelah itu dia membuka perban kembali yang menutupi kedua matanya, satu-satu Ziyan mengambilnya dengan sangat hati-hati setelah itu terlihatlah mata yang masih menutup sempurna.
"Elang sekarang buka matamu pelan-pelan."
Kemudian Elang menuruti perintah Ziyan untuk membuka mata pelan-pelan, samar-samar sebelum terlihat jelas Elang melihat cahaya dan bayangan manusia. Lama kelamaan menjadi padat dan yang pertama dia lihat adalah ibunya Sinta.
"Ibu..!" panggil Elang.
"Elang.." Sinta terharu dia menangis dan langsung memeluk anaknya.
"Ibu, kau kah ini." tanya Elang.
"Iya nak! ini ibu." jawab Sinta masih memeluk.
"Aku bisa melihat Bu."
"Iya sayang ibu senang sekali."
Lalu Sinta melepaskan pelukannya dan mengarahkan Elang pada Hafsa.
"Elang, ini istrimu Hafsa." ucap Sinta menyentuh lengan Hafsa untuk maju pada Elang.
Hafsa tentu saja tersenyum malu dia menundukkan wajahnya.
"Istriku." ulang Elang dia mencermati Hafsa dari atas sampai bawah.
"Hafsa kenapa kau malu? suamimu ingin melihat wajahmu." kata Sinta melihat Hafsa masih menunduk.
"Maaf Bu, " Hafsa pun mendongakkan wajahnya dan terlihatlah wajah ayu nan manis dengan bulu mata yang lentik dan bibir yang tipis.
Elang sebenarnya terpesona namun ada yang berbeda jantung ini tidak merasa berdetak sedikitpun dan dia malah seperti enggan melihatnya.
"Rey, mana Bu?" sedang dipandangi Hafsa, Elang malah menanyakan Rey.
Sinta dan Ziyan malah berfikir bahwa Elang juga malu tapi tidak mengakui.
"Eh.. Rey dia pergi sedang menyelesaikan pekerjaan." jawab Sinta.
__ADS_1
"Pekerjaan apa? bukankah dia sudah tau bahwa aku dioperasi." ucap Elang kesal pada Rey.
"Ya dia tau Elang, dia pergi mendadak dan tidak bilang pada ibu." tutur Sinta.
"Apa? berani sekali dia, Ziyan mana ponselku." dengan dinginnya Elang meminta ponsel.
Ziyan hanya menuruti sambil geleng-geleng kepala, baru juga dioperasi mode dingin nya sudah meledak.
"Rey, dimana kau?" tanya Elang dengan suara beratnya saat ponsel itu tersambung.
"Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit." jawab Rey disebrang sudah tidak heran dengan Elang yang tanpa basa basi.
"Cepat kembali." Elang langsung saja menutup telfon itu sepihak.
'Kenapa dia diam saja padaku? malah terlihat tidak peduli. Ah kasian sekali kau Hafsa ternyata tuan muda tidak mencintaimu.' ucap Sesil dalam hati tertawa puas.
"Baiklah, mungkin kau butuh istirahat dan berbincang dengan istrimu." ucap Ziyan merasa Elang tidak ingin di ganggu.
"Ya aku memang ingin beristirahat tanpa siapapun." ucap Elang dengan penuh penekanan.
Ziyan terkejut mendengar jawaban Elang tanpa siapa pun berarti termasuk istrinya, ada apa padahal kemarin yang dia lihat mereka baik-baik saja bahkan Elang terlihat romantis tapi kenapa sekarang.. ah sudah lah itu urusan suami istri pikir Ziyan.
"Ya sudah tidak apa-apa, kalau begitu aku duluan." pamit Ziyan.
"Hemm terimakasih Ziyan." untunglah Elang masih sempat mengucapkan terimakasih jika tidak mungkin Ziyan akan kembali mengoperasinya karena biasanya Elang tidak tau terimakasih.
"Ziyan sekali lagi terimakasih." tambah Sinta.
Ziyan hanya tersenyum kemudian pergi.
"Bu, tolong aku ingin istirahat tinggalkan aku sendiri." kata Elang saat ibunya ingin mendekati.
"Tapi istrimu." Sinta merasa bersalah karena Elang seperti cuek terhadap istrinya.
"Ibu...!"
Melihat tatapan anaknya yang mengisyaratkan pergi akhirnya Sinta menurut dan mengajak Hafsa keluar.
Antara senang dan sedih yang dirasakan oleh Sesil saat ini yang pertama dia hanya mengetahui bahwa Elang tidak mencintai Hafsa bahkan melihat saja tidak mau yang kedua dia jadi tidak bisa menikmati kebersamaannya dengan Elang meski harus menjadi Hafsa.
Diluar Sinta menyentuh tangan Hafsa dan berucap, "Nak, maafkan anak ibu yah! mungkin ibu rasa dia sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja."
"Tidak apa-apa Bu aku mengerti." jawab Sesil tersenyum paksa.
"Kalau begitu lebih baik kita makan saja dan berbelanja, kau mau." ajak Sinta demi untuk menyenangkan menantunya.
"Iya Bu aku mau." tentu saja mau karena Sesil lebih memilih ini dari pada harus melihat sikap dingin Elang.
__ADS_1
Dengan riang Sesil dan Sinta pergi dari rumah sakit menuju ke tempat pusat perbelanjaan.
*****
"Jadi sekarang apa yang ingin kau katakan?" tanya Elang saat berhadapan dengan Rey.
Rey saat sampai dia langsung menuju kamar Elang dan langsung disambut dengan tatapan dingin yang menakutkan.
"Aku membawa kabar buruk tuan." ucap Rey langsung.
"Kenapa kau tidak membawa kabar baik? kenapa harus buruk setelah aku operasi." Elang malah bertanya yang tidak masuk akal.
Rey menghela nafas sejenak, "Kabar ini menyangkut nona tuan."
"Maksudmu istriku, ada apa dengannya?"
"Aku menduga bahwa nona dan pelayan pribadinya yang bernama Melati diculik tuan." jelas Rey.
Elang terkejut mendengarnya, "Kau yakin mereka diculik."
"Sangat yakin tuan, aku mendapatkan pesan dari Melati bahwa nona diculik dan aku juga sudah memastikan ucapan istri tuan yang sekarang yang mengatakan bahwa Melati menikah itu tidak benar tuan." jelas Rey panjang lebar.
"Pantas saja aku seperti tidak merasa kehadirannya." ucap Elang pelan menyadari perasaannya.
"Lalu.. apa kau sudah mencari mereka?" tanya Elang serius.
"Sudah tuan dan mereka sedang bergerak." jawab Rey.
"Kau tau siapa yang menculik istriku?" tanya Elang lagi.
"Aku tidak tau tuan, aku hanya menduga pelaku nya dekat dengan kita." analisis Rey karena dia tidak ingin yakin sebelum melihatnya.
Elang malah terdiam.
"Lalu tuan, wanita yang sekarang ini mau diapakan tuan?" tanya Rey karena Sesil juga harus diatasi.
Elang tersenyum miring, "Dia biar menjadi urusanku." jawabnya.
"Baiklah tuan, aku akan mengabari tuan jika anak buahku sudah berhasil menemukan mereka." kata Rey hendak pamit.
"Secepatnya Rey, karena aku sudah merindukan istriku." jawab Elang.
"Baik tuan." Rey pun melangkah dan meninggalkan Elang tanpa bertanya kondisi Elang pasca operasi, Elang pun tidak mempermasalahkannya karena nanti juga Rey bicara.
Sepeninggal Rey, Elang tersenyum smirk, "Berani sekali kau menculik istriku, apa kau sedang bermain-main denganku?". ucapnya penuh penekanan dengan mata mengkilat merah menandakan bahwa Elang saat ini sangat marah.
Dia mengepalkan tangannya berjanji jika terjadi sesuatu terhadap istri kecilnya maka Elang tidak akan membiarkan penculik itu hidup bahkan dia akan membuat menderita sebelum mengakhirinya.
__ADS_1