Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 17


__ADS_3

Hafsa mengikuti dua nyonya besar itu masuk kedalam untuk melihat gaun pengantinnya. Hafsa hanya diam saja membiarkan dua nyonya itu yang memilih.


"Hafsa sayang, sini nak!" panggil nyonya Sinta pada Hafsa.


"Iya Tante." jawab Hafsa gugup dia melangkah pelan menghampiri nyonya Sinta yang sudah memegang sebuah gaun yang sangat indah.


"Coba kau pakai ini!" nyonya Sinta menyodorkan gaun yang panjang dan atasnya terbuka tanpa lengan.


Bahkan Hafsa sampai meringis melihatnya tapi dia tidak berani membantah.


"Baik Tante." kemudian Hafsa masuk kekamar ganti dibantu oleh asisten nyonya Dewi.


Kemudian datanglah nyonya Dewi membawa beberapa gaun yang direkomendasikannya dan dibelakangnya ada Satria.


"Sinta lihat! aku bawa beberapa gaun yang spesial untuk menantumu dan gaun ini adalah hasilku sendiri." pamer Dewi dengan bangga pada sahabatnya.


Nyonya Sinta melirik gaun itu dan terperangah takjub, "Wah... bagus sekali gaun hasil rancanganmu dia pasti cantik memakai gaun ini." ujar nyonya Sinta memegang gaun itu.


Lalu tak lama kemudian Hafsa keluar dengan gaun itu rambutnya yang panjang dan lurus digerai untuk menutupi bagian dadanya yang terbuka.


Hafsa bahkan terus menutupi bagian dadanya itu karena merasa tidak nyaman.


"Nyonya, nona sudah selesai." kata asistennya memberi tahu.


Dua nyonya dan Satria segera menoleh dan mereka bertiga terperangah takjub bahkan Satria jantungnya jadi berdegup kencang melihat Hafsa yang begitu cantik dengan gaun indah itu apalagi rambutnya digerai indah.


'Sayang sekali Elang tidak bisa melihat pemandangan indah ini' kata Satria dalam hati.


"Waw... kau cantik sekali nak! Tante benar-benar tidak menyangka." puji Tante Sinta pada Hafsa begitu juga dengan nyonya Dewi yang terus berdecak kagum.


"Waw, kau belum di rias saja sudah secantik ini, bagaimana jika wajahmu sudah dipoles?" ucap nyonya Dewi.


Hafsa yang dipuji tersenyum kikuk apalagi melihat Satria yang terus memandanginya tanpa henti dan selalu mengembangkan senyumnya.


"Iya dia memang cantik, tapi sayang sekali bukan untukku." gumam Satria pelan tapi terdengar oleh ibunya yang berada tak jauh darinya.


"Apa kau bilang? ingat dia milik orang lain jangan berani-berani tertarik dengannya." bisik ibunya pada Satria takut terdengar oleh Sinta.


"Tapi sudah terlambat mah, aku sudah tertarik pada pandangan pertama." jawabnya ikut berbisik membuat Dewi mencubit pinggangnya.


"Aww... sakit mah!" keluhnya tersadar.


Nyonya Sinta dan yang lain menoleh, "Kenapa Wi?"


"Oh, tidak ada apa-apa kok?" jawabnya tersenyum kikuk.

__ADS_1


"Eh lebih baik kita coba yang lain!" sambungnya mengalihkan dan Sinta pun menyetujui.


Dari gaun satu kegaun yang lain sudah dicoba sampai Hafsa merasa lelah sendiri tapi dua nyonya ini terlihat senang dan bersemangat sedangkan Satria tak henti-hentinya memandang takjub dan jantungnya semakin berdegup.


Akhirnya yang ditunggu Hafsa selesai juga dia kemudian duduk bersandar untuk mengurangi rasa lelah.


"Ternyata capek juga yah!" ucapnya pelan sambil memijit-mijit kakinya.


"Ini kau pasti haus!" Satria menyodorkan segelas jus jeruk dingin pada Hafsa yang kecapean.


Karena Hafsa juga haus maka dia menerimanya, "Terimakasih." ucapnya kemudian meminumnya.


Saat nyonya Sinta sedang berdiskusi dengan nyonya Dewi tiba-tiba panggilan masuk diponsel nyonya Sinta, dengan terpaksa diapun mengangkatnya.


"Hallo! oh iya baik, saya akan segera kesana!" lalu mematikan panggilan telfon itu.


"Aduh.. Dewi maaf banget aku ada urusan mendadak yang tidak bisa aku tinggalkan." katanya dengan merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa menjadi ibu negara memang seperti itu, aku maklum kok." balasnya tersenyum.


"Tapi bagaimana ini? aku tidak bisa mengantar menantuku pulang." katanya teringat Hafsa.


"kau ini yang begitu saja dipikirkan kan ada Satria yang bisa mengantarnya, sekalian dia mengunjungi Elang." ucap Dewi membuat Sinta lega.


"Iya sama-sama."


Kemudian Sinta bersiap untuk pergi sebelum itu ingin berpamitan pada Hafsa.


"Sayang, maafkan Tante yah! Tante buru-buru harus pergi ada urusan mendadak dan tidak bisa mengantarmu pulang." ucap Tante Sinta berhasil membuat Hafsa panik.


"Tapi kau tidak perlu khawatir, kau akan diantar oleh Satria karena dia juga ingin menjenguk Elang, iya kan Satria." sambung nyonya Sinta membuat Hafsa lega dan juga risih karena harus bersama dengan lelaki aneh itu.


"Dengan senang hati Tante." tentu saja Satria mau dengan tersenyum lebar.


"Baiklah! aku lega jika begitu." dan menoleh pada Dewi.


"Aku pergi dulu yah Dew, ingat kau siapkan semuanya."


"Kau tenang saja, kau terima beres saja. Oke!"


"Baiklah aku percaya padamu." kemudian cipika cipiki lalu menoleh kembali ke Hafsa.


"Sayang, maafin ibu yah! ibu tidak bisa mengantarmu pulang."


"Iya tidak apa-apa kok!" ucapnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Kemudian Dewi mengantar Sinta kedepan, tinggalah kini Hafsa dan Satria yang saling terdiam.


"Ayo aku antarkan pulang, kau lelah bukan." Satria beranjak dan mengulurkan tangannya berharap dapat disambut.


Hafsa masih memandangi tangan itu dirinya mengabaikan lalu berdiri sendiri.


"Terimakasih, tapi aku bisa sendiri." ucap Hafsa berjalan terlebih dahulu dan Satria menurunkan tangannya kemudian mengikuti dengan menggedikkan bahu sambil tersenyum.


****


Didalam mobil tidak ada pembicaraan diantara mereka tapi sebenarnya Satria selalu mengajaknya berbicara tapi Hafsa menjawab dengan seadanya saja. Sampai mereka tibalah dimansion Elang yang megah.


Satria keluar lebih dulu dan ketika ingin membukakan pintu untuk Hafsa, Hafsa sudah turun duluan membuat Satria mengangkat tangannya.


Elang saat ini sedang berada ditaman ditemani oleh Rey yang setia mendampingi.


"Siapa itu Rey?" tanya Elang, karena dia mendengar ada suara mobil masuk.


"Itu pengasuh tuan dan juga tuan Satria." jawab Rey sambil memandang mereka.


Rey sebenarnya sudah tau berita tentang Elang yang akan menikah dengan pengasuhnya namun dia diam saja karena menghargai Elang.


"Satria...!" ulang Elang.


"Iya tuan muda, tuan Satria baru saja kembali."


"Tapi kenapa bisa datang dengan pengasuhku?" tanya Elang lagi heran.


"Nyonya sedang terburu-buru dan dia menitipkan pengasuh tuan pada tuan Satria." jawabnya karena mendapat pesan dari nyonya Sinta.


Lalu Satria pun mendekati tapi Hafsa karena malu dia malah langsung pergi kebelakang.


"Hai Elang, apa kabarmu? sudah lama kita tidak bertemu." ucap Satria meraih tangan Elang untuk ditos sahabat. Lalu menatap Rey.


"Aku baik." jawab Elang datar.


"Hai Rey, kau masih disini, setia sekali dirimu. Bagaimana kabarmu juga?" ucap Satria dengan bercanda.


"Aku baik tuan." jawab Rey datar.


"Hey, kenapa wajahmu kalian seperti itu? tidak senangkah kalian melihat diriku." kata Satria mendramatisir.


"Karena kau telah lupa padaku, dan meninggalkan ku selama ini." jawab Elang membalas.


"Oh maafkan aku itu sama sekali tidak disengaja, aku tidak tau kalau waktunya akan selama ini. Aku mohon maafkan aku." ujar Satria dengan memelas namun itu membuat Rey dan Elang jijik mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2