
Dengan perlahan Hafsa membantu Elang berdiri, meski susah payah dan keringat sudah membanjiri tapi Elang dan Hafsa terus berusaha demi kesehatannya.
"Ayo tuan, jangan menyerah!" Hafsa membantu menyemangati Elang saat Elang sudah berdiri tegak dan melangkah sedikit jauh dari kursi rodanya.
Hafsa terus memapah Elang untuk melangkah sedikit demi sedikit, kaki Elang gemetaran dan seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat.
"Horee.. tuan bisa berjalan!" sorak Hafsa bertepuk tangan seperti anak kecil yang mampu membuat Elang tersenyum tipis.
Karena menyadari suaminya kelelahan dan berkeringat, Hafsa menyudahi latihannya untuk kali ini.
"Tuan, sepertinya latihan kita sampai disini dulu. Istirahatlah dulu tuan." ucap Hafsa mendudukkan Elang dibangku taman.
Elang hari ini berhasil berjalan sejauh 30 meter dengan dipapah awalan yang bagus untuk latihannya.
Kenapa tidak dari dulu dia latihan? karena dulu Elang frustasi dan tidak mempunyai semangat dia hanya kontrol dan terapi chek saja tidak ada pelatihan khusus untuk berjalan.
Pernah dirinya ditawarkan beberapa kali untuk berlatih berjalan tapi tidak pernah dia terima sama sekali dan selalu menolak dengan cara yang kasar sehingga nyonya Sinta kehabisan akal untuk mencarinya lagi.
Sampai kedatangan Hafsa yang merubahnya,
Entah kenapa Elang mau dilatih oleh Hafsa yang notabene istri kontraknya sekarang.
Dia tidak menolak waktu Hafsa menawarkan diri dan itu membuat nyonya Sinta senang karena perkembangan Elang yang semakin baik. Makanya dia menikahkan Hafsa dengan anaknya dengan berbagai tujuan baik.
"Tuan, apa tuan haus aku ambilkan minum yah!" tawar Hafsa dan Elang mengangguk tanpa suara.
Hafsa langsung bergegas ke dapur untuk mengambilkan minuman segar serta beberapa cemilan.
Dan pada saat yang sama Satria datang dengan membawa sesuatu yaitu kue yang terlihat enak dan dia berpapasan dengan Hafsa saat ingin mengambil minum.
"Hay, cantik!" sapa Satria
"Eh! Hay." jawab Hafsa.
"Kau mau kemana?"
"Aku mau kedapur, mau mengambilkan minum untuk tuan muda, eh maksudku suamiku." kata Hafsa yang bibirnya keceplosan saat memanggil Elang.
__ADS_1
"Oh memangnya Elang ada dimana?"
"Ada ditaman, dia habis berlatih jalan. temui saja, dia disana sedang istirahat." jawab Hafsa kemudian ingin melangkah tapi dihentikan Satria.
"Eh tunggu!"
"Ada apa?"
"Ini untukmu!"
"Apa ini?"
"Hanya sekedar cemilan, sengaja aku bawa untukmu."
"Wah kebetulan sekali terimakasih yah!".
Hafsa menerima bingkisan itu dengan senyum merekah membuat Satria hanya mampu mengangguk dan terus memandangi gadis itu karena terpesona sampai Hafsa hilang dipandangannya barulah Satria tersadar dia menggelengkan kepalanya.
"Ah Satria sadarlah dia sudah jadi istri orang." gumamnya kemudian berjalan kearah taman.
****
"Kau tidak lihat aku sedang apa?" jawab Elang ketus.
"Hey, kenapa kau selalu ketus padaku setiap aku tanya? apa salahku?". kata Satria memelas.
"Aku juga tidak tau, instingku mengatakan kau seperti punya rahasia yang disembunyikan padaku." jawab Elang asal tapi itu mampu membuat Satria menjadi menjadi gugup sendiri.
"Ah kau ini, Lang membuat aku tidak enak saja." ucap Satria berusaha mengusir kegugupan.
Tak lama kemudian datanglah Hafsa dengan membawa tiga minuman karena sudah tau ada Satria disana dan juga cemilan kue yang diberi Satria tadi.
"Tu_ eh Kak Elang ini minumannya." kata Hafsa meletakkan minuman dan kue itu dimeja.
"Wah terimakasih kau tau saja aku sedang haus." balas Satria langsung mengambil minuman itu dan meneguknya.
"Kau membawa minuman lebih." tebak Elang yang memang benar.
__ADS_1
"Iya tadi aku bertemu Satria didepan, karena aku yang memberi tahu Satria kalau kau ada disini mangkanya aku buatkan untuknya juga." terang Hafsa tersenyum.
Elang diam saja tak menjawab, namun dihatinya ada keraguan tentang Satria yang dia sendiri pun tidak tau apa sebabnya.
"Ini kak Elang diminum.!" Elang menyodorkan minuman itu kedepan wajah Elang tapi Elang meminta diminumkan dengan alasan masuk akal.
"Kau terlalu jauh, mana bisa aku menggapinya. Sini bantu aku minum." kata Elang menyuruh Hafsa untuk duduk disampingnya menyingkirkan Satria yang duduk disampingnya.
Hafsa melirik Satria, bagaimana dia bisa duduk sedangkan ada Satria disitu. Melihat tatapan Hafsa yang seperti mengusir secara halus, Satria segera menyingkir.
"Baiklah, baiklah aku mengerti." Satria mengangkat kedua tangannya keatas seperti penjahat yang menyerahkan diri.
Satria kemudian menyingkir dan berpindah tempat sehingga Hafsa menggantikan tempatnya.
Setelah itu Hafsa duduk dan memberikan minuman pada Elang. Seperti sengaja Elang menyentuh tangan Hafsa yang langsung membuat Hafsa berjengkit kaget karena Elang tidak pernah menyentuhnya.
Sambil memegang sambil menyentuh, Elang minum dengan perlahan membuat Satria yang didepannya jadi seperti tidak dipedulikan.
"Eh, sepertinya aku mengganggu kalian. Lebih baik aku pulang yah!" ucapnya beranjak dari duduknya, menyugar jaketnya dan hendak pergi.
"Eh mau kemana?" kata Hafsa bertanya.
"Aku ingin pulang saja, aku takut mengganggu kalian." kata Satria.
"Lain kali kalau kau ingin kesini bawalah wanita supaya kau tidak kesepian." ucap Elang datar.
"Ya baiklah saranmu akan aku pakai. Kalau begitu aku pulang dulu ya cantik."
Satria mengerlingkan matanya pada Hafsa membuat gadis itu mengernyit.
"Perempuan yang kau bilang cantik itu sudah memiliki suami jangan mengganggunya." kata Elang melirik tajam.
"Ya ya ya aku tau kau sensi sekali."
Lalu pergilah Satria dengan perasaan yang tidak menentu dan kini Elang menatap tajam pada Hafsa yang membuat gadis itu terhenyak seketika.
'Kenapa dia menatapku seperti itu? menakutkan sekali.' gumamnya dalam hati sambil memundurkan wajahnya.
__ADS_1
"Mundurkan kau terlalu dekat." ucap Elang seolah tadi tidak terjadi apapun.
"Ah iya baiklah!" Hafsa lalu mundur dan mendengus sebal. Ternyata Elang berbuat seperti itu hanya agar Satria cepat pulang.