Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 72


__ADS_3

Rey dan Elang sudah sampai dirumah sakit, mereka disambut dengan para jajaran dokter ahli berbagai medis, karena tau tuan muda Elang Rahardian hari ini akan dioperasi maka seluruh pihak rumah sakit telah menyiapkan segalanya yang terbaik tidak ingin ada satu kesalahan pun karena mereka tau siapa itu tuan muda Elang.


"Sudah disiapkan semuanya." tanya Elang pada sahabatnya Ziyan yang berdiri menyambut paling depan.


"Sudah tuan, dan tuan tinggal mempersiapkan diri." jawab Ziyan sopan.


"Baiklah Rey, segera saja dilakukan sekarang aku tidak mau menunda lagi." perintahnya pada Rey.


"Baik tuan." jawab Rey tegas.


"Ayo ikuti saya tuan." kata Rey lagi berjalan mendahului Elang diikuti oleh Ziyan dan beberapa dokter yang lain.


"Tuan, apakah aku harus memerintah nyonya dan Nona untuk datang kesini saja sekarang." tanya Rey di sela-sela jalan.


"Tidak perlu, kabari mereka jika operasi telah berhasil di lakukan aku tidak ingin membuat ibuku khawatir jika menunggu disini." jawab Elang.


"Baiklah tuan." dan Rey hanya bisa menuruti.


Tak berapa lama sampailah diruang operasi yang sangat bersih dan steril, Elang juga harus mengganti bajunya dengan baju operasi dibantu dengan Ziyan.


Yang ada dipikiran Elang kali ini adalah ada sesuatu yang berbeda yang terjadi dengan istrinya dia merasa istrinya tidak sepolos dan semenarik dulu meski hanya dengan kata-kata nya saja.


Untuk operasi pun perasaannya yang tadinya gembira karena ingin segera melihat wajah Hafsa, entah mengapa jadi berbalik enggan tapi dia tetap harus melakukan ini untuk membuktikannya.


Lagi pula hatinya juga seperti merasa jauh dengan istrinya ini padahal dia ada didekatnya, entah perasaan apakah ini?.


"Elang kau sudah siap?" tanya Ziyan menepuk pundak Elang.


"Aku siap." jawab Elang mantap.


"Baiklah ayo ikut aku!".


Ziyan menuntun Elang keruangan operasi yang mana disitu sudah ada dokter dan suster yang berdiri tegap dan gugup namun Ziyan dapat melihatnya dan Ziyan mengisyaratkan agar tetap tenang siapapun pasien yang mereka hadapi.


"Silahkan tuan berbaring disini." kata dokter yang lain menyarankan Elang agar tidur ditempat operasi.

__ADS_1


Elang tak menjawab hanya menurut perintah dokter itu saja. Mereka pun membantu menaiki Elang ketempat operasi.


"Baiklah semua sudah siap." kata Ziyan menginstruksi dokter dan suster yang lain.


"Siap dok." jawab yang lain serempak.


"Sebelum kita memulai kita membaca doa dulu menurut keyakinan masing-masing. Berdoa dimulai." perintah Ziyan dan merekapun menundukkan kepala untuk mulai berdoa.


"Berdoa selesai."


Setelah itu dokter anestesi membius Elang dengan sekali suntikan, tak berapa lama Elang pun terpengaruh dengan bius itu dan operasi pun berjalan.


*****


Didalam kamar yang tak terlalu luas, Hafsa langsung tiba-tiba langsung terbangun dari tidurnya dan dia merasakan sesuatu yang terjadi pada Elang.


"Perasaan tidak enak apa ini? kenapa aku jadi teringat Kak Elang." kata Hafsa menyentuh dadanya sendiri.


Kemudian diapun bangun dan berjalan kesana kemari seperti orang gelisah.


"Ah kenapa aku begitu sekali, yang penting dia sudah bisa melihat aku bahagia meski bukan aku yang pertama dia lihat. Mudah-mudahan jika memang benar dia dioperasi hari ini semuanya berjalan dengan lancar dan operasinya berhasil dan dia pasti akan semakin tampan." Hafsa tersenyum di akhir kata sambil membayangkan wajah tampan pari purna milik suaminya.


"Tapi aneh sekali, kenapa tidak ada yang mencari ku yah bahkan Rey saja tidak kelihatan batang hidungnya. Apa mereka semua sebenarnya tidak peduli padaku kah? atau mereka hanya mempermainkan aku saja karena aku bukan dari kalangan seperti mereka." ucap Hafsa sedih kala mengingat jika sampai saat ini dirinya belum dicari.


"Ah Hafsa jangan berpikiran yang buruk dulu mungkin mereka sedang mencari tapi belum ketemu ah iya begitu mungkin." celotehnya lagi menebak apa yang ada dipikirannya.


"Ah tapi aku bosen aku ingin keluar, bagaimana caranya aku keluar yah!" Hafsa mencari-cari celah dimanapun matanya melihat di jendela di atap di lemari di kursi di ranjang bahkan sampai di dinding dan lantai dia cermati, siapa tau ada pintu rahasia yang bisa ia buka seperti yang ia tonton di film-film.


"Ah sama sekali tidak ada, atau aku nya yang bodoh yah!" ucapnya memukul kepalanya sendiri.


Dan semua tingkah Hafsa yang dilakukannya tidak luput dari pantauan Satria yang melihat diruangannya sendiri.


Melalui CCTV yang dipasang tersembunyi Satria terus memantau Hafsa bahkan dia sampai tertawa melihat tingkah Hafsa saat mencari pintu rahasia.


"Kau sangat menggemaskan sekali, sayangnya kau tidak akan bisa keluar dari sini karena kau akan menjadi milikku." ucap Satria tersenyum smirk.

__ADS_1


*****


Diruangan lain yang begitu sempit Melati masih saja diikat tapi hanya tangan saja dan mulutnya pun tidak dilakban dan masih ditemani dengan seorang pria yang menculiknya.


"Hey, kau ini tega sekali yah menculik tanpa memberi makan." ucap Melati pada pria itu.


Pria itu berbalik menampakan wajahnya yang begitu sangar sehingga membuat Melati bergidik.


"Wajahmu ternyata begitu, tidak lebih tampan dari kekasihku ternyata." celetuk Melati saat melihat wajah pria itu yang tidak memakai masker.


"Apa aku peduli dengan ucapan mu?" kata pria itu dingin.


"Harus, karena asal kau tau jika kekasihku tau aku diculik kau pasti tidak akan selamat." kata Melati mengarang.


"Lalu mana kekasihmu, dia tidak datang kan."


"Ya iyalah dia tidak datang dihubungi saja tidak bagaimana kau ini." Melati malah menyolot pria itu yang membuat pria itu sedikit kaget.


"Jadi, kau mau aku menghubungi kekasihmu."


Melati menghela nafas pelan merasa penculik ini sangat lamban.


"Terus siapa yang mau menghubungi ponselku saja hilang, lagian untuk apa kau menculik ku jika tidak menghubungi kekasihku untuk minta tebusan. Hah aneh sekali." ucap Melati memarahi pria itu.


Pria itu tersenyum sedikit, "Baru kali ini aku menculik seorang wanita tapi dia tidak merasa takut sama sekali atau ku buat saja kau trauma dan kehilangan kekasihmu." ucap pria itu tersenyum smirk sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Melati.


Sontak Melati memundurkan wajahnya karena merasa risih.


"Jangan dekat-dekat, kau bau sekali." celetuk Melati.


Pria itu terbengong langsung mundur, tidak menyangka reaksi sandera nya malah menyentil dirinya.


"Kau ternyata cerewet juga yah!"


"Aku begini karena aku lapar, coba kalau aku dikasih makan aku akan duduk cantik sambil menunggu kekasihku datang." jawabnya sambil tersenyum sumringah.

__ADS_1


"Hah menyusahkan saja kau tunggu disini." akhirnya pria itu mengalah dia beranjak untuk mengambil makanan dan minum untuk Melati.


__ADS_2