Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 8


__ADS_3

"Masuk Rey.!" ucap Elang datar.


"Terimakasih tuan." kemudian Rey masuk dan menundukkan kepala meski Elang tidak bisa melihatnya karena hal itu sudah menjadi kebiasaannya.


"Apa tuan baik-baik saja?" begitulah kata Rey pada Elang.


"Aku baik-baik saja." jawab Elang santai.


Rey terkejut karena Elang menjawabnya biasa saja tidak ada nada marah ataupun berkata dingin dan kejam pada pengasuh yang baru kali ini.


Rey pun tersenyum mendapati tuan sekaligus sahabatnya itu tidak marah sama sekali bahkan Rey melihat pengasuh itu tidak tertekan sama sekali atau ada gurat ketakutan diwajahnya.


"Sekarang kau boleh keluar." ucap Rey memancing dengan menyuruh Hafsa yang dibelakangnya keluar.


"Baik tuan!".


"Tunggu...!" Belum mencapai pintu bahkan belum melangkahkan kakinya Elang sudah menghentikan.


Hafsa mengernyit, "Aku tuan.!" tunjuknya pada dirinya sendiri.


"Iya kau siapa lagi?" ulang Elang datar.


"Ada apa tuan?"


"Kau tetap disisiku". ucap Elang membuat Rey kembali terkejut.


"Ah maksudnya apa yah tuan?" tanya Hafsa tak mengerti.


"Aku ingin makan puding coklat, dan kau harus menyuapiku. Ku tunggu kau diruang kerjaku, sekarang cepat !" titah Elang dingin.


Hafsa langsung menganggukkan kepala, "Baik tuan segera dilaksanakan." dengan hormat Hafsa keluar dari kamar Elang meninggalkan tuannya dan Rey.


"Ayo Rey, kita keruang kerja."


"Baik tuan muda."


Lalu Rey mendorong kursi roda Elang untuk menuju keruang kerjanya yang ada disebelah kamarnya.


Ya selama Elang sakit hampir setahun lamanya, Elang tidak pernah ke kantor dia hanya mengerjakannya dirumah sedangkan urusan kantor dia serahkan semuanya pada Rey karena dia sangat mempercayai sahabatnya itu bahkan diperusahaan mereka yang tidak tau mengira Yang jadi presdir perusahaan adalah Rey.


*****


Hafsa lalu turun kebawah untuk meminta Melati membuatkan puding coklat bukan karena dia tidak bisa hanya saja buatan Melati lebih enak.


"Melati...!" panggil Hafsa pada Melati yang sedang berkutat didapur.


"Ya Sa ada apa?" Melati menoleh saat namanya dipanggil.


"Tolong buatkan puding coklat untuk tuan Muda dia ingin makan puding." ucap Hafsa.


"Oh oke..!" kata Melati sambil menyatukan jari telunjuk dan ibu jari.

__ADS_1


"Aku bantu yah agar cepat selesai sekalian aku juga belajar." ujar Hafsa.


"Oke, sini!".


Mereka berdua pun membuat puding bersama dengan canda tawa dan mengobrol apa saja yang bisa diobrolkan sampai membuat pelayan lain hanya geleng-geleng kepala.


Akhirnya puding pun sudah jadi lebih cepat karena Melati pintar berkreasi dan tidak ingin membuat tuan Muda menunggu.


"Wah, ini enak sekali kau memang pandai ya Melati." puji Hafsa menghirup aroma puding itu.


"Ah biasa saja, aku itu pernah menang juara lomba masak sekampung bahkan waktu aku sekolah pernah mengadakan lomba memasak antar sekolah dan kau tau siapa juaranya." ucap Melati berbangga diri menceritakan pengalamannya.


"Pasti kau kan yang menang!" tebak Hafsa.


"Ah... bukan.!"


"Lah kok bukan." Hafsa mengkerut bingung.


"Iya karena aku tidak ikut.!" jawab Melati tertawa.


Hafsa merengut sambil tangannya disilangkan didada, "Untuk apa ngomong kalau begitu?"


Melati malah tambah tertawa melihat Hafsa yang cemberut.


"Hei, kalian ini waktunya bekerja bukan bercanda." tiba-tiba Nina datang dan mengejutkan mereka.


"Enak sekali kalian disini tertawa sedangkan pekerjaan masih banyak kalau nyonya tau kalian bisa langsung dipecat." omelnya dengan sinis, tapi Melati dan Hafsa tidak menjawab hanya diam saja lalu Nina melihat puding dihadapannya.


"Itu puding untuk tuan muda." jawab Hafsa.


"Lalu kenapa tidak diantarkan? malah mengobrol disini, kalau tuan muda tau kalian bisa langsung dipecat." oceh Nina.


"Sini biar aku yang berikan." tawar Nina.


"Eh jangan, biar aku saja." tolak Hafsa, karena bagaimana pun juga dia juga takut dipecat dan Nina bermulut ember.


"Kenapa kau takut? aku akan bilang kelakuan kalian berdua yang pemalas ini." oceh Nina tersenyum sinis.


"Sudah sini, dimana tuan muda?"kekehnya ingin dia yang mengantar.


Hafsa pasrah akhirnya dalam hatinya berkata semoga saja Nina tidak bawel.


"Diruangan kerjanya! tapi kau jangan bicara yang jelek-jelek tentang kami yah, yang tadi itu kami hanya sedang menunggu supaya pudingnya agak dingin jadi kami mengobrol sebentar." kata Hafsa dan diangguki melati.


"Heh! aku tidak bisa jamin." ucapnya melenggang pergi sambil membawa puding itu.


Hafsa dan Melati hanya menghembuskan nafas pasrah.


Dengan percaya diri yang tinggi Nina berjalan menaiki tangga keruang kerja Elang karena dia sudah tau tempatnya dimana dia tidak bertanya lagi, mungkin kalau Hafsa yang mengantar dia harus bertanya dulu karena dia belum tau tempatnya.


Sebelum mencapai pintu dia berhenti disebuah kaca yang tak jauh dari ruang kerja tuan muda dan meletakkan pudingnya Nina malah berdandan dulu dan melihat penampilannya.

__ADS_1


Nina memang cantik dan seksi badannya pun montok dan lebih menonjol dibanding Hafsa dan Melati yang dibawah rata-rata.


Saat menaburkan bedak tak sadar serbukan bedak itu jatuh mengenai pudingnya hanya sedikit, tapi apakah tuan Muda tau walau hanya sedikit.


Setelah dirasa penampilannya sudah sangat menggoda karena dia sengaja membuka kancing bagian paling depan agar terlihat belahan dadanya meskipun Elang tidak bisa melihat tapi dia bisa merasakan.


Nina berjalan berlenggak lenggok lalu mengetuk pintu ruang kerja Elang.


Tok tok tok


"Masuk...!" terdengar sahutan dari dalam.


Nina lalu membuka pintu dengan satu tangan sedang tangan yang satunya memegang puding. Dan dia masuk dengan percaya dirinya.


"Selamat pagi tuan muda!" salahnya dengan menampilkan senyuman terbaiknya.


Elang dan Rey mengernyit. Elang dapat mengenali suara seseorang dengan cepat meskipun hanya sekilas.


"Mau apa kau kesini?" tanya Elang dengan dingin.


"Aku ingin mengantarkan puding pesanan tuan muda." ucapnya dengan nada dibuat manja dan dengan berani mendekat serta meletakkan puding itu ke meja tak melihat tatapan tajam dari Rey.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Elang lagi dengan datar.


"Aku sendiri tuan, karena kulihat pengasuh tuan sedang sibuk dia tidak bisa mengantar karena aku kasihan makanya aku ingin membantunya." jawab Nina tersenyum.


Dalam hati dia berkata


'Pasti tuan muda tersentuh dengan kata-kata ku" dengan senyum-senyum sendiri.


"Benarkah! bukankah semua sudah ada bagiannya, kenapa dia malah mengerjakan yang lain?" Elang menatap Nina dengan kernyitan.


"Iya benar tuan, aku tidak tega melihatnya!" jawabnya dengan tatapan memelas.


Sedangkan Rey hanya menatapnya penuh misteri.


Lalu Elang mengambil puding itu dan memotong bagian yang terkena serbukan bedak itu, Nina tentu saja senang tapi dia tidak tau seberapa pekanya tuan muda itu dengan hal yang disekitarnya.


Saat mencoba dan masuk mulutnya dia langsung memuntahkannya kelantai membuat Nina terkejut.


"Ada apa tuan?".


"Kau ingin meracuniku dengan memberikan serbuk bedak kepudingku." ucap Elang menatap tajam pada Nina.


Nina gelagapan, "Tidak tuan, untuk apa aku melakukan itu. Lagi pula bukan aku yang membuatnya." ucap Nina gugup karena dia memang tadi memakai bedak tapi dia berfikir tidak mungkin serbuk bedak itu jatuh mengenai pudingnya.


"Kau ingin menipuku?" kata Elang.


"Rey perlihatkan." sambungnya lagi.


"Baik tuan!".

__ADS_1


__ADS_2