Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 79


__ADS_3

"Kau benar-benar licik." ucap Elang penuh penekanan.


Dewi tertawa terbahak-bahak, "Sekarang kau sudah tau jadi lebih baik kau sekarang tanda tangani ini." Dewi kembali ke mode bengis saat menyerahkan pulpen sedangkan Satria hanya diam saja tidak tau harus berbuat apa.


"Jika aku tidak mau, apa yang akan kau lakukan?". Elang malah bertanya yang jawabannya pasti sudah tau.


Dewi tersenyum sinis, "Mudah saja, istrimu yang cantik dan manis ini mungkin kulitnya yang halus ini akan terkoyak oleh pisau ini." balas Dewi santai tangannya sambil memperagakan pisau yang diasah.


Semua bingung apa yang harus di lakukan karena disini Hafsa dalam bahaya meski mereka bisa saja melawan.


Sedangkan Hafsa tentu saja ketakutan dirinya sudah banjir keringat dan terus saja berdoa dalam hati. Bagaimana tidak? Hafsa ditodong pistol dan pisau yang kapan saja akan melayang kearahnya.


"Ayolah sayang, apa kau mau melihat darah istrimu menetes? atau... kau memang tidak peduli dengan istrimu, kau tidak mencintainya Hah kasian sekali kau nak." ucap Dewi tertawa seperti orang yang tidak waras.


"Baiklah, karena aku tidak suka menunda-nunda waktu jadi lebih baik kita mulai " Dewi mendekati Hafsa yang masih dibekap.


"Tuan Rey, bagaimana ini?" tanya Melati pada Rey karena melihat Elang diam saja.


"Biarkan tuan Elang yang menyelesaikannya." jawab Rey tetap tenang. Karena Rey tau Elang tidak mungkin mengorbankan istrinya.


Mendengar jawaban Rey, Melati memanyunkan bibirnya kesal.


Saat pisau itu bergerak kearah pipi Hafsa, Elang dilanda dilema apakah dia rela kehilangan semua harta kekayaannya yang sudah ayahnya emban dan diperjuangkan olehnya berpuluh-puluh tahun hanya demi satu wanita yang bahkan Elang saja tidak tau apakah dia mencintainya atau tidak.


Namun yang Elang rasa saat dia jauh dari istrinya dia memang merasa kehilangan dan disaat Satria juga menginginkan istrinya perasaan tidak rela dihatinya jika istrinya diambil olehnya.


Hafsa hanya bisa pasrah saat pisau itu sudah menempel dipipinya yang pasti sebentar lagi mampu menembus kulitnya. Dia juga tidak menyalahkan Elang jika Elang lebih memilih hartanya karena semua itu dia perjuangkan dari semenjak ayahnya masih hidup dan Hafsa tidak mungkin membiarkan Elang hanya demi dirinya Elang mau kehilangan segalanya.


"Aah.." sebuah jeritan kecil keluar dari mulut Hafsa dibarengi dengan menetesnya darah segar dikulit pipinya.


"Hey berani kau menyakiti istriku." mata Elang memerah dengan rahang yang mengeras saat Dewi benar-benar menggores pipi Hafsa dengan pisau.


Satria dan Melati tentu saja khawatir namun tidak bisa berbuat apa-apa sedang Rey masih mengamati meski sebenarnya dia juga mengkhawatirkan nona nya.


"Kau pikir aku main-main hah cepat kau tanda tangan." bentak Dewi kemudian.

__ADS_1


Mata Elang dan Hafsa beradu sejenak kemudian Elang mengalihkannya karena tidak mampu menatap mata yang membuatnya rindu itu.


"Baik akan aku tanda tangani." tanpa berfikir lagi Elang langsung menanda tangani surat itu dan Dewi langsung mengambilnya.


Dewi memeriksanya kemudian tertawa merasa menang dengan apa yang sudah dilakukannya.


"Akhirnya yang selama ini aku tunggu-tunggu aku dapatkan juga."


"Lepaskan istriku." ucap Elang.


"Ya ya lepaskan dia." kata Dewi memerintah pada anak buah dan anak buahnya pun melepaskan nya dan mendorong Hafsa dan langsung ditangkap Elang.


"Hafsa." panggil Elang pelan menatap istrinya penuh rindu sambil menyentuh darah yang di luka istrinya.


Hafsa mendesis karena perih, "Kak Elang."


"Maafkan aku." Elang lalu memeluk Hafsa dengan erat, Hafsa juga membalasnya dia tersenyum ini pertama kalinya dirinya di peluk Elang sangat nyaman sekali.


Satria mengepalkan tangannya dan menundukkan wajahnya tidak ingin melihat adegan di depannya yang bisa membuat nya sakit hati sepertinya dia harus merelakan wanita itu untuk Elang.


Lalu tiba-tiba sebuah tepukan tangan membuat fokus mereka teralihkan. Sinta datang bersama bi Rum dan para polisi.


Polisi itu mengangguk kemudian bergerak menangkap Dewi yang kebingungan.


"Hey, apa-apa an ini lepaskan." kata Dewi berontak.


"Ibu..." ucap Elang dan Hafsa.


Tentu saja semua heran karena Sinta datang dengan membawa polisi.


Sinta tersenyum kearah anak dan menantunya kemudian mendekati Dewi dan mengambil kertas itu.


"Hey itu milikku." teriak Dewi.


"Asal kau tau Dewi surat ini adalah palsu." ucap Sinta sambil merobek surat itu.

__ADS_1


Tentu saja Dewi tercengang dengan mata melotot dia melihat kertas itu disobek.


"Palsu maksud ibu apa." ujar Elang tidak mengerti.


Sinta tersenyum, "Elang, sebenarnya ibu sudah tau jika Dewi akan melakukan ini makanya ibu mengambil surat yang asli dan menaruhnya yang palsu tanpa membuat Dewi curiga, ibu juga tau bahwa semuanya ulah Dewi namun bukan berarti ibu membiarkan karena ibu ingin lihat permainannya dan dia akan membongkar dengan sendirinya." terang Sinta.


"Jadi kau tau selama ini aku hanya..." Dewi tak melanjutkan kata-katanya.


"Ya aku memang tau, tapi aku pura-pura tidak tau hanya untuk mengelabuimu." lanjut Sinta.


"Kurang ajar." ucap Dewi emosi.


Sinta yang tadinya tenang kini ikut emosi dia mendekati Dewi kemudian menamparnya.


Plakk


"Aku sudah baik padamu, tapi kau memang manusia yang tidak punya hati menghalalkan segala cara hanya untuk ambisimu menyesal aku telah mengenalmu." ucap Sinta penuh penekanan.


Elang tersenyum dalam hati merasa ibunya ini ternyata sangat hebat.


"Bawa dia." lanjut Sinta memerintah pada para polisi.


"Baik nyonya."


Dewi tak terima dengan semua ini lagi-lagi tak terduga Sinta mengalahkannya padahal rencananya ini sudah matang-matang dia buat namun dapat dikalahkan oleh Sinta hanya dalam sekejap.


Dulu saja dia juga dikalahkan dalam mendapatkan cinta seseorang yang menjadi suami Sinta makanya Dewi tidak rela dia merencanankan pembunuhan supaya pria itu tidak dimiliki siapapun.


Dan sekarang Sinta menjadi sukses dan terkenal melebihi dirinya dia juga tidak terima maka dia ingin merebut dan menguasai semuanya tapi rupanya Sinta tidak membiarkannya.


"Nak, kau tidak apa-apa." ucap Sinta mendekati Hafsa.


"Tidak apa-apa Bu." jawab Hafsa.


Dewi menahan amarahnya saat melihat Sinta dan Hafsa berpelukan, dia melihat pistol yang ada disaku polisi dia tersenyum menyeringai merasa mendapat ide.

__ADS_1


Disaat polisi lengah Dewi sekuat tenaga melepaskan tangannya dari cekalan polisi kemudian mengambil pistol itu untuk ia arahkan pada orang yang ditujunya yaitu Hafsa.


Dorr...


__ADS_2