
Ketika waktu makan malam tiba semua berkumpul dimeja makan termasuk Rey malam ini dia ikut makan sekaligus menginap dirumah Elang karena urusan pekerjaan yang belum selesai belum lagi Rey harus mempersiapkan operasi Elang yang sebentar lagi akan dilaksanakan.
Pada saat sedang makan Sinta memperhatikan Hafsa yang cara makannya agak berbeda yang biasanya makannya cepat namun rapih tapi kali ini makannya sangat pelan. Sinta malah berfikir mungkin karena itu efek telah ditinggalkan sahabatnya secara mendadak.
Sinta memang sudah diberi tahu oleh kepala pelayan tentang Melati namun dia juga ingin menanyakannya langsung pada Hafsa.
"Sayang, ibu mau bertanya kepadamu?" tanya Sinta saat makan belum selesai.
Semua menoleh termasuk Elang.
"Ya mah, ada apa?" jawab Hafsa reflek.
Sinta mengernyitkan alisnya dengan kata panggilan 'mah' sejak kapan Hafsa memanggil dirinya mamah bukan ibu.
"Mah!" ulang Sinta merasa heran.
uuppss
Hafsa menutup mulutnya keceplosan.
"Maaf Bu, aku teringat mamahku." kata Hafsa dengan muka memelas.
"Kau teringat mamahmu sayang."
"Iya Bu, aku rindu sekali karena sudah lama aku tidak mengunjunginya." jawab Hafsa terlihat sedih.
Sinta ikut sedih juga, "Maafkan ibu ya nak! baiklah sebelum operasi Elang kita kunjungi makam ibumu yah.!"
"Iya Bu terimakasih." balas Hafsa tersenyum.
"Bagaimana Elang, apa kau mau mengunjungi makam mertuamu?" tanya Sinta pada anaknya.
__ADS_1
"Itu tidak masalah bagiku, aku pun ingin bertemu dengannya." jawab Elang santai.
"Terimakasih sayang kau mau mengunjungi makam ibuku." ucap Hafsa dengan manjanya.
Sinta malah merasa heran dengan panggilan sayang Hafsa pada Elang tapi lagi-lagi dia tidak mempermasalahkannya justru itu bagus rencananya yang dulu jadi berhasil membuat anaknya jatuh cinta pada Hafsa.
Sedangkan Rey hanya menyimak saja dengan raut wajah yang sangat datar.
"Oh iya nak! ibu sampai lupa ingin bertanya sesuatu padamu." kata Sinta mengingat pertanyaan yang pertama.
"Iya Bu, tanya saja."
"Benarkah, sahabatmu Melati pergi ke kampung halamannya secara mendadak karena ingin menikah." papar Sinta.
Tiba-tiba Rey langsung bereaksi mendengar penuturan dari Nyonya besarnya yang tadi berwajah datar kini menampilkan sedikit guratan pertanyaan.
"Iya Bu, dia dijemput oleh calon suaminya sewaktu di mall dan dia hanya pamit padaku tapi dia tidak mengundangku. Aku kesal padanya sekarang." terang Hafsa sambil menumbuk-menumbuk makanannya.
"Ibu mengerti, mungkin Melati memang tidak ingin kita mengetahui urusannya biarkan saja tapi jika dia masih menginginkan bekerja disini ibu tidak masalah untuk menerimanya lagi." begitu baiknya Sinta, Melati yang di beri tahu pergi mendadak dan tidak memberi tahu majikannya saja itu termasuk tindakan tidak sopan tidak mempunyai etika tapi Sinta masih mau menerimanya jika Melati kembali.
Sinta hanya tersenyum membalasnya dan mereka melanjutkan makannya.
Tapi tidak dengan Rey, entah mengapa ada hati yang teriris sedikit mendengar gadis yang tadinya mengatakan menyukainya dan selalu menggodanya kini menikah dengan orang lain.
Hati yang sudah perlahan terbuka itu kini teriris tipis tapi tidak berdarah namun Rey tetap saja bersikap tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
*****
"Bi Rum." panggil Rey pada bi Rum yang membelakangi.
"Tuan Rey." Bi Rum terkejut dengan kedatangan Rey di malam hari yang biasanya tidak pernah ke rumah belakang.
__ADS_1
"Ada apa tuan Rey sampai kesini malam-malam." tanya bi Rum.
"Bi Rum antarkan aku ke kamar Melati." ucap Rey tambah membuat bi Rum terkejut, karena seorang Rey mau ke kamar pelayan.
"Untuk apa tuan Rey ke kamar Melati." tanya bi Rum penasaran.
"Turuti saja perintahku." balas Rey datar tidak suka dengan orang yang banyak bertanya.
"Maaf tuan, mari aku antarkan." kata bi Rum merasa tidak enak dia mempersilahkan agar Rey jalan duluan.
Tapi melihat tatapan dingin Rey bi Rum kemudian menyela.
"Baik tuan ikuti saya." kata bi Rum mendahului Rey dan Rey mengikuti dibelakangnya.
Bi Rum seperti tidak kenal Rey saja sampai gugup begitu, mungkin karena tidak menyangka seorang tuan Rey lagi-lagi mencari Melati, apakah tuan Rey memiliki hati pada Melati pikir bi Rum tiba-tiba bibirnya tersenyum tipis.
mungkin merasa senang karena Rey selama ini jomblo.
Sampailah didepan kamar Melati
"Ini tuan kamarnya." tunjuk bi Rum.
"Hemm.. apakah kau membawa kuncinya." tanya Rey karena kamar Melati pasti dikunci.
"Ada tuan, ini selalu ku bawa." Bi Rum menyerahkan kunci cadangan milik kamar Melati pada Rey.
"Terimakasih! silahkan pergi." Rey menerimanya sambil menyuruh Bi Rum pergi.
"Baik tuan aku pergi dulu." bi Rum menundukkan kepalanya kemudian pergi.
Rey membuka kamar itu secara perlahan, aroma mawar langsung tercium dari kamarnya.
__ADS_1
Rey perlahan memasuki kamar itu tak lupa menutupnya lalu berjalan perlahan mengitari ruangan kosong itu.
Namun kamar ini sangat rapih dan cantik didekor sendiri sesuai kemauannya.