Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 88


__ADS_3

"Hafsa....!" teriak Melati sambil berlarian tak peduli dengan tatapan para manusia disekitarnya.


"Melati...!" balas Hafsa ikut berlari sambil merentangkan tangan.


Elang dan Rey hanya geleng kepala melihatnya mungkin memang begini jika dua sahabat perempuan bertemu setelah tragedi menegangkan.


"Aku rindu sekali denganmu." ucap Melati.


"Aku juga.".


"Kenapa kau pergi meninggalkan aku? aku kesepian."


"Aku tidak pergi, tidak mungkin aku meninggalkanmu aku juga kesepian."


"Aku mencari mu dan terus memikirkan mu.


Apa kau juga begitu?".


"Sudah pasti aku begitu tidak mungkin tidak."


Mereka berpelukan layaknya Teletubbies lepas lagi peluk lagi sambil berceloteh tidak jelas seperti pasangan kekasih sampai membuat telinga Elang dan Rey merasa panas dan geli.


Bisa-bisanya Hafsa dan Melati mengabaikan dua pria tampan disampingnya hanya karena rindu.


"Sampai kapan kalian terus begitu, pesawat akan lepas landas. Kita pergi." ucap Elang akhirnya memancing pergi bersama Rey yang sudah di isyarat kan dengan dagu.


"Eh.. tunggu tunggu tunggu ayo Melati nanti kita ketinggalan pesawat." Hafsa segera menarik lengan Melati untuk mengejar Elang dan Rey.


"Ayo ayo cepat." Melati pun sama dia ikut berlari dengan semangat.


Tak disangka larinya mereka mendahului Elang dan Rey yang di depan sampai mereka berhenti dan melongo.


Sumpah baru kali ini dua pria tampan itu dibuat tak bergeming oleh dua gadis polos dari kampung.


*****


Mereka pun berada di pesawat, Hafsa dan Melati sangat takjub ingin berteriak namun melihat tatapan tajam Elang yang mengintimidasi membuat mereka tidak jadi melakukan itu tapi mereka berteriak tanpa suara dengan menutup mulut dengan kedua tangan.


Saat akan duduk Hafsa dan Melati ingin duduk berdua karena ingin bercerita bersama namun lagi-lagi tatapan Elang mampu membuat Melati pindah duduk di samping Rey yang sudah duduk sedari tadi disebelahnya.


Hafsa hanya bisa pasrah jika Elang sudah begitu, toh masih ada banyak waktu untuk bertemu dan bercerita bukan.


"Sepertinya kamu senang sekali sampai melupakan suamimu." ucap Elang menyindir dengan halus tanpa menatap.


Hafsa menoleh ke samping menatap maha karya Tuhan yang sempurna seperti sedang merajuk.


"Cie... cemburu nih ye.. tidak dapat perhatian dariku." Hafsa malah menggoda dengan menoel-noel pipi Elang.


"Untuk apa aku cemburu dengan seorang wanita." Elak Elang menangkis pelan tangan Hafsa.


Tapi Hafsa terus saja menggodanya, "Cie... tidak mau ngaku jujur saja lah tidak apa-apa kok."

__ADS_1


"Kau ingin menggodaku kah?". Elang masih sabar.


"Aku kan lagi menanyai mu bukan menggoda mu." kata Hafsa tersenyum sangat manis.


Kini Elang tidak tahan dia langsung menarik tangan Hafsa hingga tubuh Hafsa condong ke depan wajah Elang hampir bibir mereka bersentuhan dan itu jelas membuat Hafsa begitu terkejut pasalnya mereka berada ditempat umum.


"Aku bisa saja menciummu di sini jika kau terus menggodaku." bisik Elang tersenyum smirk.


Hafsa langsung mengiyakan tubuhnya langsung duduk dengan sempurna ciut juga nyalinya jika itu terjadi.


Bahkan Melati saja sampai menutup matanya karena saking terkejutnya dia juga menjerit tanpa suara namun meski ditutup dengan tangannya dia masih mengintip di bagian celah-celah jari.


"Tuan muda tidak akan melakukan itu ditempat seperti ini." ucap Rey paham dengan tingkah Melati.


"Benarkah." Melati kemudian membuka matanya dan benar saja mereka kembali duduk seperti semula karena mereka berada didepan Melati.


"Ya sayang sekali padahal aku ingin lihat." kata Melati merasa kecewa.


"Lihat apa?" Rey mengernyitkan alisnya, lihat apa? tidak ada yang perlu di lihat.


"Lihat ini." Melati memperagakan jarinya seperti orang berciuman.


"Hey, kau tidak sopan. Atau kau pernah seperti itu." spontan Rey berucap dan malah terkena gaplakan dari Melati.


"Sembarangan, justru karena aku tidak tau mangkanya aku penasaran." Melati reflek memukul lengan Rey dengan keras.


"Kau memukulku." kata Rey karena baru kali ini ada seorang gadis yang berani menyentuhnya.


"Tidak apa." jawab Rey datar kemudian diam dengan tenang.


Melati makin tidak enak.


"Dasar aku ini, meski ini di pesawat tapi aku dan dia tetap saja majikan dan pelayan jadi harus punya sopan santun jadi kamu ini tangan main pukul saja lihat tuh tuan Rey marah." celoteh Melati berbicara dengan tangannya sendiri.


Rey hanya tersenyum tipis mendengarnya merasa lucu dengan tingkah Melati dan yang lebih buat dia tidak percaya dia tidak tau berciuman berarti dia belum pernah berciuman, tiba-tiba ada rasa senang di hati Rey.


"Maaf yah tuan, maaf." Melati sekali lagi meminta maaf.


"Ya sudah aku maafkan, lebih baik sekarang kau tidur karena perjalanan masih panjang." kata Rey menyarankan.


"Iya aku juga ngantuk." setelah itu Melati memejamkan mata.


*****


Beberapa jam kemudian mereka pun sudah sampai ditempat tujuan tempat dimana yang diinginkan oleh Hafsa dan kebetulan sekarang ini sedang musim salju jadi mereka bisa menikmatinya.


"Bangun kita sudah sampai." Elang menepuk-nepuk pipi Hafsa lembut untuk membangunkannya.


Hafsa melenguh karena tepukan itu dia membuka mata tidurnya lumayan nyenyak.


"Sudah sampai." ucapnya sambil menguap.

__ADS_1


"Hey, ini di pesawat kau seperti bangun dari ranjang saja." kata Elang mencibir.


"Terserah." Hafsa berdiri tak pedulikan suaminya yang ingin menggodanya.


"Hey tunggu kau mengabaikan ku. Beraninya." Elang kemudian mengikuti istrinya yang duluan.


"Melati, cepat bangun kalau tidak aku tinggal." ucap Rey pergi begitu saja.


Melati dengan sigap langsung bangun dan mengejar Rey.


"Tunggu tuan..!"


*****


"Wahh... dinginnya." ucap Hafsa dan Melati berbarengan saat mereka sudah keluar dari bandara.


"Rey, kau sudah mempersiapkan semuanya." tanya Elang.


"Sudah tuan." jawab Rey.


"Baiklah, lebih baik kita beristirahat dulu." ucap Elang kemudian menggandeng tanganu Hafsa.


Rey dan Melati pun mengikuti tapi Melati sambil senyum-senyum.


"Kenapa kau senyum-senyum?". tanya Rey heran.


"Aku senang melihat mereka, serasi sekali semoga mereka tidak akan terpisahkan oleh apapun dan siapapun." kata Melati mendoakan sahabatnya.


"Ya aku yakin kali ini tuan akan mempertahankan wanitanya." balas Rey, dia juga yakin "bahwa Hafsa adalah wanita yang tepat untuk tuan nya.


"Eh tapi ngomong-ngomong pria seumuran tuan ini sudah pada menikah, kenapa tuan belum?." tanya Melati asal saja.


"Perlukah aku menjawabnya." balas Rey datar.


"Perlu sekali, atau.. kau menungguku yah!" dengan pedenya Melati berujar.


"Hah percaya diri sekali anda." Rey mencibir.


"Harus dong, Melati memang pantang menyerah dan selalu percaya diri."


"Ingat yah tuan di saat aku mengejar mu tapi kau malah semakin lari maka jangan salahkan jika ada orang yang mengejarku duluan nanti kau menyesal." kata Melati mengingatkan.


"Memangnya ada yang ingin mengejar mu." kata Rey meledek.


"Banyak dong tuan, jika aku pulang ke kampung halamanku banyak sekali pria yang suka dan mau melamarku tapi aku yang tidak mau dan tuan lah yang beruntung." oceh Melati.


"Sudahlah aku cape mendengar ocehanmu, kita sudah sampai lebih baik kau beristirahat." Kata Rey menghentikan karena tidak terasa sudah sampai di tempat penginapan.


"Hah sudah sampai eh cepat juga yah tidak terasa." Melati terkekeh sendiri.


Dan Rey pun hanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2