Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 84


__ADS_3

"Wah... tempatnya mewah sekali kak, aku sungguh beruntung bisa makan ditempat seperti ini." ucap Hafsa memuji dan kagum dengan restoran nya.


"Dan ku jamin kau pasti akan ketagihan dengan menu makanannya." ujar Elang membuat Hafsa penasaran.


"Benarkah, aku belum pernah makan makanan di restoran mahal." ungkapnya tidak malu.


"Benar, dan sudah aku pesankan untukmu." kata Elang tidak masalah dengan ke kampungan sang istri.


Mereka sedang berjalan menuju tempat yang sudah Elang pesan, semua mata tertuju pada pasangan ini mungkin mereka berkata bahwa pasangan ini sangat serasi cantik dan tampan dan ada juga yang iri dengan paras mereka.


"Ayo duduk." Elang mendorong kursi untuk diduduki Hafsa.


Hafsa merasa tersanjung diperlakukan seperti itu sungguh baru ini dia mendapat perlakuan seperti itu.


"Terimakasih." Hafsa tersenyum dan duduk.


Kemudian pelayan datang dengan membawa berbagai makanan yang terlihat lezat.


Rupanya Elang sudah memesannya lebih dulu sebelum mereka sampai.


"Wah.. banyak sekali makanannya dan semuanya sepertinya enak." ucap Hafsa melihat makanan yang begitu menggoda.


"Apa aku boleh memakan semuanya?" Hafsa bertanya pada Elang yang terus tersenyum.


"Silahkan, kau boleh makan sepuasnya. Tapi setelah ini kau harus membayarnya." kata Elang mulai lagi menggoda istrinya.


"Aku tidak punya uang, mana bisa aku bayar." jawab Hafsa memelas.


"Emm.. tidak punya uang yah! lalu kau bayar pakai apa.?".


"Aku kan punya suami, ya dirimu lah yang bayar. Sudahlah kau menggodaku terus aku sudah lapar dari tadi aku mau makan."


Hafsa tidak ingin meladeni Elang lagi dia langsung menyantap satu persatu makanan dimeja dengan lahap.


Sesekali matanya menutup membuka karena merasakan kenikmatan makanan itu tak lupa pula kepala yang digoyang-goyangkan sungguh seperti anak kecil namun dimata Elang itu sangat menggemaskan.


Elang jadi hanya melihat cara istrinya makan saja sambil senyum-senyum, dia hanya makan sedikit-sedikit.


Hafsa yang terus diperhatikan seperti itu jadi malu dia pun menghentikan suapannya.


"Kenapa kau malah melihatku terus? bukannya makan." kata Hafsa.


"Aku sudah puas dengan hanya melihatmu makan saja." jawab Elang tersenyum.


Lagi-lagi menggombal Hafsa sampai memutar bola mata malas.

__ADS_1


"Lebih baik kau makan ini, ini enak loh." Hafsa menyodorkan udang goreng pada Elang.


"Aku mau tapi dengan tanganmu sendiri tidak pakai sendok." pinta Elang matanya terus memandangi Hafsa.


Hafsa jadi malu namun tetap menuruti dia menyimpan sendok dan mengambil udang dengan tangannya lalu menyuapi pada Elang.


Apa yang terjadi setelah memasukan udang itu dia malah menjilat jari Hafsa membuat Hafsa terpekik.


"Ih kau ini jorok."


"Tidak apa-apa tangan istriku ini."


Setelah makanan semua habis mereka lalu pergi ke taman disekitar hotel Hafsa yang memintanya karena dia ingin menikmati malam bertabur bintang dengan orang terkasih.


Saat ini mereka sedang duduk di ayunan menikmati suasana indah hanya berdua Elang memangku istrinya sambil membelai rambut panjang Hafsa sebenarnya Hafsa malu namun Elang meminta jadilah dia ada dipangkuan Elang dengan jantung yang sudah bertalu-talu.


Demi untuk menstabilkan jantungnya Hafsa teringat ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di hatinya dia pun langsung menanyakannya.


"Kak Elang aku ingin bertanya."


"Tanya saja." masih membelai rambut Hafsa sambil menciuminya.


"Apa kak Elang tau aku diculik?" tanya Hafsa dan Elang terdiam beberapa saat.


"Apa? ada orang menyerupai diriku." Hafsa terkejut mengetahui faktanya.


"Ya, orang itu persis sekali seperti dirimu untuk mengelabui bahwa kau tidak kemana-mana." ujar Elang.


"Tapi aku sebenarnya dibawa oleh pria lalu Melati bagaiman?" Hafsa bingung sendiri.


"Melati, temanmu itu tidak ada di sana dia bilang dia akan menikah."


"Hah.. Melati menikah." Hafsa terkejut lagi sampai matanya membola sempurna.


"Tidak perlu terkejut seperti itu, dia belum menikah itu hanya alibi saja supaya aku dan ibu percaya." Elang memberi tahu.


"Tapi sayangnya aku tidak percaya, aku mengenal dirimu jadi aku tau kalau dia bukan dirimu." lanjut Elang tersenyum manis.


Hafsa ikut tersenyum, "Lalu siapa orang itu?"


"Dia adalah saudari tiri mu sendiri." jawab Elang


"Apa? Sesil." Elang mengangguk.


"Ya saudari dan ibu tirimu itu mempunyai maksud tertentu untuk datang kerumahku dan mereka juga telah bekerja sama dengan Satria tapi kau tenang saja aku sudah menyingkirkan mereka berdua dan aku pastikan mereka tidak akan mengganggumu lagi." ucap Elang panjang lebar.

__ADS_1


Hafsa terdiam tidak menyangka kalau Rahma dan Sesil masih ingin menyakitinya setelah mereka keluar dari rumah Hafsa, Hafsa kira mereka benar sudah berubah tapi ternyata mereka punya rencana lain untunglah suaminya tidak bisa dibohongi.


"Kenapa kau diam? apa kau berfikir aku akan terjebak." tanya Elang melihat Hafsa terdiam.


"Aku hanya berfikir saat aku diculik, berarti Sesil ada denganmu."


Elang tersenyum smirk dia malah mendapat ide untuk mengerjai istrinya.


"Ya memang benar bahkan dia tidur denganku."


"Benarkah, lalu apa yang kau lakukan?" Hafsa sudah menatap sinis.


"Em.. menurutmu apa yang dilakukan suami istri jika tidur berdua di atas ranjang." Elang malah memancing.


Hafsa menahan emosi, "Maksudmu kau melakukan apa yang biasa kita lakukan begitu."


"Kau bilang kau tidak percaya jika dia itu aku lalu apa ini kau melakukannya." lanjut Hafsa menggebu-gebu hatinya terasa panas dan tidak terima jika Elang memang melakukannya.


Melihat wajah istrinya yang merah padam membuat Elang menahan senyumnya.


"Apa kau cemburu?"


"Jelas aku cemburu, istri mana yang rela melihat suaminya tidur dengan wanita lain meski itu tanpa sengaja." jawab Hafsa dengan nada sedikit tinggi sambil beranjak bangun dari pangkuan Elang.


Lalu Elang langsung menarik pinggang Hafsa kembali kepangkuan Elang dan mendekatkan wajahnya.


"Apa benar kau cemburu?" Elang mengulangi lagi pertanyaannya namun wajahnya dekat sekali dengan wajah Hafsa membuat jantung Hafsa kembali berdenyut.


"I.. ya aku cemburu." jawab Hafsa terbata.


"Jika benar kau cemburu buktikan." kata Elang


"Buktikan bagaimana?"


Elang tersenyum smirk, "Cium aku."


Hafsa jadi malu jika itu yang diminta Elang.


"Ayo, hanya kau wanita yang beruntung bisa menciumku." kata Elang bangga.


Hafsa gugup sendiri karena seumur hidup dia belum pernah mencium pria.


"Kau tutup matamu dulu."


"Baiklah aku tutup." Elang menutup matanya dan Hafsa perlahan maju lalu dengan cepat mencium pipi Elang.

__ADS_1


__ADS_2