Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 75


__ADS_3

Disaat hati sedang gelisah hanya orang tersayang yang ada di benak kita dimana pun dia berada, seperti sekarang Hafsa selalu larut dalam memikirkan Elang dia benar-benar sangat merindukan lelaki itu namun ada lagi yang paling dia pikirkan yaitu keberadaan Melati.


Apakah benar itu Melati? saat sedang berfikir tiba-tiba pintu terbuka membuat dia terlonjak kaget.


"Satria." ternyata yang masuk Satria dengan membawa nampan yang berisi makan dan minum.


"Hafsa, makanlah." ucap Satria dia mengambil kursi dan duduk di hadapan Hafsa.


"Iya." Hafsa menerimanya, namun belum langsung ia makan karena Satria masih di situ.


"Kenapa tidak kau makan?" tanya Satria.


"Kenapa kau juga masih di sini?" Hafsa malah balik bertanya membuat Satria menghela nafas sambil bersandar.


"Aku hanya ingin memastikan makanan itu masuk kedalam perutmu." kata Satria dengan tersenyum.


"Apa kau tidak percaya aku tidak akan memakannya." ujar Hafsa menantang.


"Ya.. aku hanya berfikir kau berfikiran makanan itu aku racuni atau apa bukankah begitu."


"Tidak, buktinya tadi siang aku makan." jawab Hafsa memang benar dirinya tidak sampai berfikir kesana malah dirinya butuh tenaga untuk bisa melarikan diri.


"Lalu sekarang."


"Kau cerewet juga ternyata baiklah aku makan." kesal juga mendengar Satria yang terus mengoceh Hafsa langsung memakan makanan itu didepan Satria.


"Kelinci kecil yang manis." kata Satria mengelus puncak kepala Hafsa.


Hafsa memakan sampai habis dan dia berniat ingin bertanya sesuatu pada Satria.


"Sudah habis."


"Pintar." Satria mengambil alih nampan itu dan menaruhnya di nakas.


"Satria." panggil Hafsa.


"Ya."


"Kenapa kau menculik ku?"

__ADS_1


Satria diam sejenak lalu kemudian tersenyum, "Karena aku menginginkanmu." jawabnya.


"Tidak ada alasan lain." Hafsa tidak percaya jika hanya itu alasannya.


"Lalu kau ingin apa?"


"Tante Dewi bilang..." belum sempat Hafsa melanjutkan sudah disela Satria.


"Jangan percaya omongan mamahku, dia hanya asal bicara saja."


"Tapi... jika begitu saja untuk apa juga kau menculik ku aku kan sudah bersuami." kata Hafsa tidak menyerah.


Satria menghela nafas wanita ini benar-benar mengujinya, "Ya aku tau kau bersuami tapi hanya suami kontrak." ucapnya dengan tersenyum miring.


Hafsa terkejut, dari mana Satria tau jika mereka hanya kontrak saja.


"Dari mana kau tau."


"Tidak perlu kau tau darimana yang terpenting sekarang adalah kau harus jadi milikku." dengan senyum miring Satria berucap membuat Hafsa mulai takut.


"Tidak bisa Satria aku milik Elang selamanya akan milik Elang." kata Hafsa.


"Sudah kubilang berapa kali jangan pernah menyebut nama itu di depanku." ucap Satria penuh penekanan.


"Dan kau harus mendapatkan hukuman mu kali ini." lanjutnya dengan senyum smirk.


Hafsa sudah ketakutan, keringat dingin mulai membasahi.


"Kenapa kau takut? tenang saja ini tidak akan sakit." kata Satria sambil membelai pipi Hafsa tapi Hafsa memalingkan wajahnya menolak.


"Kau mau apa Satria? lebih baik pulangkan aku."


"Jangan pernah bermimpi untuk bisa keluar dari sini karena setelah ini aku akan membawamu ke tempat yang lebih jauh bahkan Elang pun tidak akan bisa menemukanmu." ujar Satria dingin.


Hafsa menangis mendengarnya, dia tidak ingin dijauhkan dari Elang.


"Jangan menangis sayang, aku tidak akan menyakitimu." kata Satria.


"Aku menangis bukan karena dirimu tapi aku menangis karena kau mau menjauhkan aku dengan suamiku." Jawab Hafsa lanjut menangis.

__ADS_1


Mendengar jawaban Hafsa emosi Satria tersulut kembali dia langsung membaringkan tubuh Hafsa ke ranjang membuat Hafsa reflek terkejut.


"Satria apa yang kau lakukan?"


"Sepertinya tidak ada main-main lagi, aku harus melakukan ini." kata Satria dengan matanya yang memerah kembali.


"Jangan Satria."


Tapi kali ini Satria tidak mau mendengar dia melepas kemejanya sendiri dengan paksa kemudian ingin mencium dengan paksa namun tidak berhasil karena Hafsa selalu menggeleng-gelengkan wajahnya.


"Satria ku mohon jangan." Hafsa sudah berteriak memohon sambil menangis tapi tetap saja tidak diindahkan oleh Satria.


Karena Satria tidak berhasil menciumnya dia lari kearah leher dan tentu saja Hafsa memberontak sehingga Satria langsung meluncur ke bawah.


Satria ingin merobek pakaian Hafsa bagian bawah untuk mencoba menikmati surga dunia namun Hafsa segera berkata sesuatu yang membuat Satria terdiam.


"Aku hamil Satria." dengan lantangnya Hafsa mengucap sesuatu yang melintas dipikirannya.


"Iya aku hamil." ulang Hafsa dengan nada pelan.


"Kau hamil." ujar Satria setelah tadi terdiam.


"Iya, aku hamil anak Elang kami sudah melakukannya dua kali." jawab Hafsa sambil menatap mata Satria.


Diujung kelopak mata Satria seperti terlihat setitik air mata yang bersinar.


Satria langsung bangun dia kemudian kembali memakai kemejanya dengan asal dan pergi begitu saja, tak lupa pintunya dikunci kembali.


Hafsa bernafas lega karena Satria gagal untuk menyentuhnya dia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sebenarnya ide itu terlintas begitu saja dalam pikiran Hafsa dia hanya berdoa semoga idenya ini dapat menghentikan aksi Satria yang ingin menyentuhnya.


Dan ternyata benar Satria tidak jadi menyentuhnya.


"Syukurlah kau belum hadir saja sudah membantu ibumu bagaimana jika kau benar-benar hadir." ucap Hafsa tanpa sadar menyentuh perutnya.


"Ah bicara apa sih aku ini mana mungkin aku hamil kan hanya dua kali." monolognya berfikir sendiri.


"Sudahlah lebih baik aku cari cara lagi untuk keluar dari sini." ucapnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2