
Di kamar Hafsa dia sedang berdiri mondar mandir perasaan nya mendadak gelisah dia juga selalu memikirkan Elang dan seperti merasakan kehadirannya, lalu tiba-tiba pintu kamarnya di buka oleh Satria dengan secara serampangan.
Satria berjalan dengan tergesa mendekati Hafsa lalu langsung meraih tangannya dan membawanya keluar.
"Satria, mau kemana?" tanya Hafsa saat dirinya di tarik keluar.
"Kau ikut aku." jawab Satria dia harus segera membawa Hafsa pergi sebelum Elang menemukannya.
"Aku tidak mau Satria aku mau pulang aku ingin bertemu suamiku." kata Hafsa memberontak tapi Satria tidak mempedulikannya.
Diluar sana anak buah Satria dan Elang terus beradu demi membantu tuan mereka, Rey kembali kepada Elang setelah berhasil menyelamatkan Melati.
"Tuan disini." Rey mengarahkan ruangan dimana disitu ada Hafsa namun sepertinya terlambat.
Elang masuk saja karena tidak tau, setelah masuk ternyata kosong istrinya sudah di bawa pergi.
"Satria brengsek." ucap Elang dengan suara tinggi.
Rey pun merutuki kesalahannya karena terlambat menyelamatkan Hafsa.
Melati yang ikut bersama Rey tak sengaja melihat Hafsa yang berada di bawah bersama Satria melalui jendela yang ingin menuju mobil segera saja dia memberi tahu pada mereka.
"Tuan, itu nona di bawah dia ingin di bawa Satria." ucap Melati cepat sambil menunjuk ke bawah.
Elang dan Rey langsung melihatnya.
"Hafsa." Elang langsung berlari menyusul ketika melihat istrinya di bawa Satria.
Rey dan Melati pun mengikuti.
Saat di bawah Hafsa terus saja memberontak menolak untuk ikut bersama Satria, Satria juga memaksa Hafsa untuk masuk kedalam mobil apalah daya Hafsa hanya seorang perempuan yang tak mampu melawan Satria yang seorang lelaki kuat.
Saat Satria menyalakan kunci sesuatu diluar dugaan terjadi mobilnya tidak menyala dia lalu keluar untuk memeriksa dan ternyata bannya kempes.
Satria memekik kesal kemudian menendang ban tersebut.
"Ini pasti ulah Elang. Sialaan.."Satria berteriak kesal.
__ADS_1
"Kau ingin lari." Elang berucap tepat didepan Satria.
Satria menoleh lalu tersenyum sinis pada asal suara.
"Heh aku lupa bahwa aku sedang berhadapan dengan Elang si jenius tapi jangan kau pikir kau bisa mengambilnya dariku." ucap Satria.
Kini giliran Elang yang tersenyum sinis.
"Aku heran kau tampan kau berpendidikan tapi kau malah menginginkan istri orang apakah kau tidak laku." balas Elang mengejek.
"Kau... beraninya mengatakan aku tidak laku." Satria marah dan menunjuk Elang dia maju menghadap Satria.
"Ya dasar pengecut." tambah Elang.
"Kau.." Satria terlihat marah dia mendekati Elang ingin memukul dan Elang mengamatinya dengan santai tapi saat Satria bersiap melayangkan pukulannya sebuah suara menghentikannya.
"Kak Elang.."
Elang tertegun saat namanya di panggil, suara itu begitu ia rindukan ingin dia mendengarnya lagi namun mata ini juga ingin melihat asal sumber suara itu.
Namun apa yang dia lihat ternyata tidak seindah memandang bunga sakura yang sedang mekar dia melihat pemandangan yang nyaris melukai hatinya karena apa yang kini ia lihat adalah Hafsa yang sedang ditodong pistol dikepalanya oleh seorang pria dan disampingnya berdiri seorang wanita paruh baya yang membawa sebuah amplop besar.
"Mamah." Satria terkejut ibu nya ternyata sudah ada disini.
"Kau anak yang payah Satria." ucap Dewi menghardik Satria.
"Kenapa kau malah membawa dia lari?, apa kau hanya ingin membuat semua ini sia-sia hah..." bentak Dewi pada Satria karena Satria sendiri telah menggagalkan rencananya.
"Maafkan aku mah, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku dan aku juga tidak bisa menyakitinya." ungkap Satria jujur.
"Hhh persetan dengan cinta, dasar semuanya tidak becus kalau begini lebih baik aku bekerja sendiri." ujar Dewi sangat emosi karena semua yang terlibat termasuk Sesil dan Rahma menggagalkan rencananya.
Dengan mengedipkan mata Dewi, anak buahnya langsung paham dia menjambak rambut belakang Hafsa hingga kesakitan.
"Awhh..." jerit Hafsa.
"Hafsa...!" reflek teriak Elang dan Satria karena Hafsa disakiti.
__ADS_1
"Lepaskan dia." hardik Elang dengan tajam.
"Mah, lepaskan dia mah." Satria juga ikut memohon.
Dewi tersenyum sinis, "Kompak sekali kalian."
Elang tidak sabar ingin mendekat namun ternyata Dewi mengeluarkan sebilah pisau kecil di bajunya dan langsung dia arahkan pada perut Hafsa.
"Jika kau berani mendekat, maka tubuh istrimu ini akan aku koyak dengan pisau yang tajam ini." ancam Dewi tidak main-main.
Mendengar ancaman itu membuat Elang menghentikan langkahnya dia tidak ingin istrinya kenapa-napa.
Kemudian datanglah Rey dan Melati yang terkejut melihat pemandangan didepannya.
"Tuan." Rey ingin maju namun di cegah oleh Elang dengan menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Elang karena Dewi pasti menginginkan sesuatu.
"Akhirnya kau mengatakan itu, sesuatu yang aku tunggu." kata Dewi tersenyum sinis.
Lalu Dewi mendekati Elang dan membuka amplopnya.
"Aku ingin kau menanda tangani surat kuasa ini." ucap Dewi menyeringai.
"Surat kuasa." beo Elang surat kuasa apa Elang tidak mengerti.
"Surat kuasa atas perusahaan juga seluruh kekayaan yang kau miliki menjadi atas namaku." kata Dewi tersenyum puas.
Elang langsung merebut kertas itu dan betapa terkejutnya dia saat melihat dan membaca berkas penting itu bagaimana bisa surat ini ada pada Dewi.
"Dari mana kau mendapatkan ini?". tanya Elang dengan penuh penekanan.
"Aku Dewi sangat mudah hanya untuk mendapatkan surat itu saja dan kau mau tau siapa penyebab kau kecelakaan dan ayahmu mati." ungkap Dewi tersenyum menyeringai dan Elang menunggu lanjutannya dengan penuh emosi.
"Semua itu aku yang melakukannya." ucap Dewi tersenyum tanpa dosa. Kini terlihat wajah aslinya yang sebenarnya.
Semua terkejut termasuk Satria karena Satria juga tidak tau bahwa ibunya ternyata dibalik semua ini dia hanya diperintah untuk menggoda wanita yang dekat dengan Elang saja untuk menguasai semua kekayaaan yang dimiliki Elang dan Sinta.
__ADS_1