Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 107


__ADS_3

"Sayang, kau masak apa?" tanya Elang tangannya sambil melingkar di perut istrinya.


"Eh! Kak Elang sudah bangun, ini aku lagi masak nasi goreng seafood." jawab Hafsa sambil mengaduk.


"Hem.. dari aromanya sepertinya enak tapi... lebih enak dirimu di atas ranjang." balas nya menggombal.


"Ih.. kak Elang pagi-pagi sudah guyon, sayangnya aku lapar." kata Hafsa bergurau.


Dia pun mematikan kompor karena sudah matang dan berbalik menatap suaminya yang tampan.


"Kau sudah mandi?." tanya Hafsa menghirup aroma segar di tubuh Elang.


"Aku memang sudah mandi tapi melihat dirimu aku jadi ingin mandi lagi." ucap Elang, tangannya sambil bergerilya kemana-mana.


"Kak geli." kata Hafsa mencekal tangan Elang.


Tapi bibir Elang yang kini mencium leher jenjang Hafsa.


"Kak emm..." Elang malah mencium lembut bibir yang membuatnya candu itu.


Jadilah mereka berciuman di siang hari dengan syahdu.


"Kak Elang sudah kapan kita makannya? aku sudah lapar." Hafsa menghentikan Elang yang ingin menciumnya lagi.


"Baiklah aku mengalah, ayo kita makan." kata Elang tersenyum.


"Kau tunggu dulu di sana aku akan menyiapkannya dulu." kata Hafsa dan Elang menurut duduk dikursi dengan santai.


Kemudian Hafsa menyiapkan dua piring dan menuangkan nasi goreng nya dengan bentuk hati dia hias sedemekian rupa dengan tambahan telur ceplok setengah matang juga irisan timun, tomat dan daun seledri.


Jadilah nasi goreng buatannya sendiri dia merasa bangga semoga Elang menyukainya, pikir Hafsa.


"Sudah siap, silahkan dimakan." kata Hafsa memberikan pada Elang.


Elang menatapnya dengan senyum lebar, "Aku jadi tidak tega untuk memakannya jika begini bentuknya."


"Kenapa? tidak cantik yah!" kata Hafsa mulai merajuk, hormon kehamilan nya muncul kembali.


Elang langsung teringat buru-buru dia beralih, "Oh tidak, kau salah karena saking cantiknya aku jadi ingin terus menatap nya tanpa memakannya."


"Ah kau ini, sudah cepat makan." Elang bernafas lega karena Hafsa tidak jadi marah.


Lalu Elang pun menyendok kan nasi itu ke mulutnya hemm.. ternyata sangat enak, istrinya pandai juga memasak.


"Masakan mu enak juga."


"Terimakasih, aku belajar dari Melati. Eh ngomong-ngomong aku rindu padanya." kata Hafsa tiba-tiba ingin berjumpa Melati.


"Kau tau sayang temanmu itu sebentar lagi akan menikah." ucap Elang begitu saja.


"Hah yang benar dengan siapa?." Hafsa terkejut, pasalnya dia tidak tau kejadiannya.


"Dengan sekretaris ku dengan siapa lagi." jawab Elang santai.


"Dengan Rey, serius."


"Ya, bahkan orang tua Rey datang menemui nya."


"Yang benar, ah Melati kau punya hutang cerita untukku aku akan menagihnya nanti." kata Hafsa dengan semangat menggebu sampai membuat Elang menggeleng.


"Oh iya sayang, aku akan kembali ke perusahaan hari ini apa kau mau ikut, di sini saja atau ke rumah ibu." kata Elang mencoba menawarkan pilihan.


"Aku ke rumah ibu saja, di sini aku pasti kesepian lagi pula aku juga ingin bertemu Melati." jawab Hafsa.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang kita siap-siap aku akan mengantarmu." kata Elang, kemudian mereka menghabiskan makanannya sebelum pergi.


*****


"Hafsa, menantuku kau sudah kembali sayang." sapa Sinta sambil memeluk saat Hafsa dan Elang tiba di rumah.


"Ibu juga sudah kembali, sejak kapan?." tanya balik Hafsa balas memeluk.


"Sejak tadi pagi dan sepertinya ibu ketinggalan berita darimu." ucap Sinta tersenyum menyindir.


"Ibu, kau selalu saja begini tidakkah kami di suruh masuk terlebih dahulu." Elang langsung menyela saat Hafsa ingin menjawab.


"Oh ya ampun nak! maafkan ibu saking rindunya ibu sampai lupa. Ayo sayang masuk." kata Sinta kemudian.


Hafsa hanya tersenyum melihat kelakuan mertuanya.


"Eh.. Bu aku tidak lama, aku kesini hanya mengantar Hafsa karena aku akan datang ke perusahaan." ucap Elang sebelum mereka melangkah.


"Baiklah, kau pergi saja Hafsa biar bersama ibu." balas Sinta tersenyum.


"Sayang, aku pergi dulu aku akan cepat pulang." Elang pamit pada Hafsa dan mencium keningnya.


"Iya, hati-hati kak Elang." timpal Hafsa balas tersenyum malu karena Elang menciumnya di depan mertuanya.


"Jaga diri kalian baik-baik." setelah itu Elang keluar dan ternyata di luar Rey sudah datang dan menunggu Elang di luar.


"Ayo Rey! kita berangkat."


"Baik tuan."


Di dalam rumah Sinta mengajak Hafsa duduk di gajebo depan taman dengan di suguhkan dua gelas teh serta kue desert yang enak.


"Sayang, jadi apa ada kabar untuk ibu?." Sinta bertanya lagi pertanyaan yang belum di jawab tadi.


"Kau hamil nak!" ucap Sinta begitu senang bukan main.


"Iya ibu."


"Ah... akhirnya aku akan segera mempunyai cucu. Selamat yah sayang." ucap Sinta memeluk Hafsa.


Hafsa balas memeluk dan tersenyum, "Terimakasih Bu."


Sinta melepas pelukan dan memandang Hafsa dengan serius.


"Ibu yang seharusnya berterimakasih kepadamu nak, karena berkat kau hadir dalam hidup anakku dan telah memberikan kehidupan baru di dalam rahimmu anakku Elang jadi lebih sering tersenyum dan ibu juga sangat bersyukur bisa mengenalmu."


ucap Sinta merasa bahagia atas perubahan Elang.


"Ibu, ini tidak sepenuhnya karena diriku kak Elang sebenarnya baik dia juga penyayang dan juga perhatian, aku juga bersyukur bisa mengenal kak Elang dan ibu." balas Hafsa senang mendapatkan mertua yang begitu baik tapi tiba-tiba dia jadi sedih.


"Kau kenapa nak? kenapa jadi murung begitu." tanya Sinta melihat perubahan wajah Hafsa.


"Aku sedih Bu, karena sampai saat ini aku tidak bertemu dengan ayahku aku tidak tau ayahku ada dimana, tinggal dimana dan dengan siapa?." papar Hafsa merindukan ayahnya.


"Kau rindu dengan ayahmu nak!."


"Iya ibu sejujurnya aku rindu."


"Tenanglah, ayahmu baik-baik saja ibu berjanji akan mempertemukan mu dengan ayahmu." kata Sinta demi membuat menantu kesayangannya ini merasa tenang.


"Terimakasih ibu." ucap Hafsa dengan mata berbinar.


"Sama-sama."

__ADS_1


Setelah itu mereka pun menghabiskan waktu mereka dengan terus mengobrol sambil tertawa, terlihat dari raut wajah keduanya yang terlihat senang.


*****


Di pusat kota tempat perusahaan Elang bernaung, hari ini CEO perusahaan Wijaya telah kembali dan akan memimpin perusahaan tersebut secara langsung.


Diantara mereka banyak yang tidak tau siapa itu Elang Rahardian mereka hanya tau almarhum ayah Elang saja, karena setelah ayah Elang meninggal perusahaan itu di pegang oleh Sinta ibunya itu pun hanya sebentar lalu diambil alih oleh Elang hanya dalam waktu setengah tahun dan mengalami kecelakaan fatal yang menyebabkan kelumpuhan dan buta sehingga membuat dirinya tidak ingin mengelola perusahaan tersebut dan perusahaan itu jadi di tangani oleh Rey sekretaris nya yang dulu pernah menjadi sekretaris Sinta juga.


Dan sekarang setelah sembuh total Elang kembali untuk menjadi pemimpin di perusahaan ini.


Hari ini di kantor banyak kasak kusuk karyawan kantor yang sedang membicarakan CEO di perusahaan itu.


"Eh! dengar-dengar tuan Elang pemilik perusahaan ini akan kembali setelah kecelakaan yang membuatnya cacat." ucap seorang wanita bertubuh gempal pada dua rekannya.


"Tuan Elang." ulang wanita yang bertubuh seksi.


"Iya Meliana kau kan baru disini jadi belum tau siapa tuan Elang." kata satu temannya lagi, yang bertubuh standar.


"Memangnya kenapa kalau aku belum tau." kata Meliana penasaran.


"Asal kau tau tuan Elang itu sangat tampan, tampan sekali dan aku senang dia kembali setelah aku menunggunya beberapa tahun ini." ucap wanita yang bertubuh gempal yang bernama Cici yang memang bekerja disana semenjak ayah Elang masih ada dengan mata berbinar.


"Iya kau benar ci, aku juga rindu dengannya pasti sekarang dia makin tampan, ku dengar kan dia sudah sembuh dari sakitnya makanya dia kembali ke perusahaan ini ah senangnya bisa melihat wajah tampan itu lagi." tambah wanita yang bertubuh standar yang bernama Dian sambil menangkup kedua tangannya di pipi.


"Apa dia setampan itu sampai kalian seperti itu?." tanya Meliana makin penasaran.


"Dia sangat tampan melebihi sekretaris Rey juga sangat royal ah pokoknya aku senang dia kembali." kata Dian dengan mata terus berbinar.


"Tapi.. apa dia sudah memiliki istri atau kekasih?." tanya Meliana mulai mengorek informasi karena dalam nalurinya dia sangat tertarik dengan lelaki tampan dan kaya.


"Yang aku dengar dia sudah punya kekasih tapi tidak tau kalau sekarang tidak ada kabar burung lagi." jawab Dian menggedikkan bahu.


"Hey, memangnya apa urusan kita jika dia sudah punya kekasih atau belum. Ingat kita hanya sebatas mengagumi saja tidak boleh lebih itu peraturan di sini kau ingat kan Dian." Cici memberi tahu tentang peraturan perusahaan ini.


"Hem... benar juga kalau tidak aku akan kehilangan pekerjaan ini yang gajinya lumayan besar." kata Dian mengeluh.


"Lagi pula sadar diri lah kau wajah dan tubuh standar begitu mana bisa mendapatkan tuan Elang, tuan Elang melirik pun tidak mau." ucap Cici bergurau dan Meliana hanya menahan senyum.


"Kau ini terus saja mengejekku, kau pun sama saja." Dian merajuk sambil manyun.


"Eh aku sadar diri karena aku gendut makanya aku tidak mau berharap." kata Cici lagi.


"Kalau aku bagaimana bisa kah aku berharap." Meliana menampakkan tubuhnya yang menonjol depan dan belakang dengan gaya genit.


Cici dan Dian saling pandang kemudian mengernyitkan alisnya.


"Tidak boleh." jawab keduanya serempak membuat Meliana cemberut.


"Hey, hey kalian ini mengobrol saja ayo cepat ke depan berbaris." ucap sang atasan tiba-tiba memberi arahan.


"Ada apa pak?." tanya Cici diangguki Dian.


"Kau malah bertanya CEO perusahaan ini sebentar lagi tiba." kata sang atasan membuat mereka bereaksi.


"Wah CEO datang aku harus cantik, aku bagaimana?." Dian heboh sendiri menatap penampilan nya.


"Sudah kau rapih, aku bagaimana?." kini giliran Cici yang juga heboh sendiri.


"Kau juga sudah rapih sudah ayo cepat ke depan." Cici dan Dian pergi begitu saja tanpa mengajak Meliana.


"Eh tunggu aku." Meliana memanggil tapi mereka sudah berlari.


Sang atasan lalu tersenyum genit menatap Meliana, "Mari pergi denganku saja."

__ADS_1


__ADS_2