Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 83


__ADS_3

Setelah mereka selesai mandi berdua, kini mereka sedang bersiap untuk makan malam.


Elang sudah menyiapkan gaun indah untuk dikenakan Hafsa gaun yang sangat cocok dan cantik.


"Kau pakailah ini." Elang memberikan paper bag yang berisi gaun.


"Terimakasih." Hafsa menerimanya dan membukanya.


"Wah cantik sekali, tapi kita kan hanya mau makan malam saja kenapa harus pakai baju bagus seperti ini." kata Hafsa merasa Elang berlebihan.


"Kau tinggal memakai tidak perlu protes. Cepat pakai aku sudah lapar" jawaban Elang tentu saja membuat Hafsa cemberut.


"Mentang-mentang ini darimu huh.." Hafsa menggerutu namun tetap menuruti perintah Elang.


Selagi Hafsa berganti pakaian dikamar mandi Elang juga berganti pakaian dengan jas mahal rambut yang disisir rapi serta parfum yang sangat maskulin sudah pasti para kaum hawa akan terpesona melihatnya karena Elang berdandan tampan sekali.


Disisi lain Hafsa sedang mencoba gaun yang diberikan Elang dia sangat takjub sekali karena gaun itu sangat indah lebih indah dari pemberian ibu Sinta dulu.


"Wah aku merasa insecure sekali memakai gaun ini, ini pertama kalinya aku diberikan gaun oleh pria dan pria itu sudah jadi suami." Hafsa berbicara sendiri sambil memandangi gaun indah itu.


Gaun selutut dan lebar bagian bawahnya serta berenda bagian lehernya dan gaun itu tanpa lengan dengan bercorak bunga transparan bagian bawahnya dan gaun itu berwarna pink soft.


Kemudian Hafsa memakainya dengan sangat hati-hati takut jika sobek, setelah itu Hafsa menyisir rambutnya dia berdandan sesuai yang dia bisa.


Ternyata Elang juga menyiapkan alat make up didalam paper bag itu untuk Hafsa berhias namun sebenarnya Hafsa tidak lihai dalam berdandan tapi karena ini permintaan Elang jadi dia harus bisa.


Hafsa berdandan sesuai yang dia bisa tapi memang pada dasarnya sudah cantik dandan tipis pun akan terlihat cantik.


Ya make up yang digunakan Hafsa hanya make up tipis saja namun sangat sesuai dengan penampilannya dengan rambut digerai dan diberi jepit rambut sebelah menambah kesan anggun dan berkelas.


"Duh... berhias seperti ini berlebihan tidak yah!" ucap Hafsa pada dirinya sendiri didepan cermin.


Namun tiba-tiba Elang sudah mengetuk pintunya.

__ADS_1


"Hafsa... kau sudah selesai ini sudah malam kau ingin makan malam jam berapa?". teriak Elang karena dirasa Elang Hafsa lama sekali.


"Iya, kak ini aku sudah selesai." jawab Hafsa ikut berteriak.


"Hah lama sekali padahal hanya ingin makan saja." gerutu Elang padahal dia sendiri yang menyuruh istrinya berdandan.


Lalu pintu terbuka menampakan Hafsa yang maju sambil menunduk malu untuk memperlihatkan dirinya yang cantik dan manis pada Elang.


Elang segera berbalik saat mendengar suar pintu dibuka dan dia terpaku dengan pemandangan didepannya apalagi saat Hafsa menengadahkan wajahnya yang seketika membuat Elang tak bisa berpaling.


'Cantik.' satu kata dalam hati yang diucapkan Elang sambil tersenyum.


Lalu Elang mendekati Hafsa, "Aku tidak menyangka kau bisa berhias juga, tapi sayang kau masih dibawah standar kecantikan." ucap Elang menyentil dagu Hafsa.


"Hm... tidak apa-apa aku bukan artis ini, yang penting aku punya suami tampan dan kaya." balas Hafsa tak mau kalah.


"Oh begitu kah, punya suami tampan dan kaya. Bagaimana kalau suami tampan mu itu tidak mau denganmu." Elang malah memancing.


"Aku tidak menyangka kau jahat, ternyata aku salah pilih istri."


Hafsa menghela nafas mendengar ledekan suaminya, "Terserah aku lapar."


Dia langsung pergi namun Elang segera menarik tangannya dan tanpa aba-aba dia mencium bibir istrinya dengan lembut tangannya menekan bagian belakang kepala Hafsa agar Hafsa tidak bisa berontak.


Mendapat serangan tiba-tiba seperti itu membuat Hafsa tidak bisa berkutik dia hanya bisa pasrah dengan yang dilakukan suaminya.


"Bibirmu manis sekali membuatku selalu ketagihan." ucap Elang saat melepaskan tautan bibirnya.


Hafsa tidak menjawab dia hanya tersipu malu.


"Dan kau juga tidak bisa pergi dariku atau pun meninggalkanku." ucap Elang berbisik dengan gesitnya Elang sudah memakaikan gelang dipergelangan tangan Hafsa.


Entah dari mana gelang itu yang pasti Elang sudah menyiapkannya.

__ADS_1


"Lihatlah ini." Elang memperlihatkan tangan Hafsa.


"Wah... bagus sekali ini untukku." Hafsa terkagum dengan gelang berlian yang diberikan Elang.


"Tidak, aku hanya ingin menitip saja padamu." jawab Elang tersenyum simpul.


Hafsa cemberut mendengarnya membuat Elang gemas.


"Aku bukan tempat penitipan." jawab Hafsa memalingkan wajahnya.


Elang tersenyum gemas, "Jika tempat penitipan hati, apa kau mau?"


"Hati siapa dulu, aku tidak mau sembarangan menitipkan hati."


"Kalau hatiku, bagaimana?." Elang mendekatkan wajahnya sangat dekat dengan Hafsa membuat jantung Hafsa berdetak keras.


Bagaimana tidak karena Elang sangat dekat dan wajahnya pun sangat tampan apalagi Elang tersenyum manis padanya.


"Ee... gimana yah!" Hafsa memalingkan wajah karena tidak tahan malu.


tangan Elang menyentuh dagu Hafsa supaya menatapnya, "Kenapa kau memalingkan wajah, apa kau malu?"


"Ah.. kita kapan makannya kalau begini terus, aku sudah lapar sekali." Hafsa segera mengalihkan sebelum hal yang tadi terjadi lagi karena memang dia juga sudah lapar.


"Kau lapar, tapi kenapa aku hanya melihatmu saja sudah kenyang yah."


Apa ini apakah Elang sedang menggombal Hafsa sampai memutar bola mata malas.


"Tapi gombalan mu itu membuatku lapar. Ayo cepat."


"Aku tidak menggombal aku hanya berbicara saja."


"Sama saja, sudahlah meladeni mu tidak ada habis-habisnya." Hafsa menarik tangan suaminya supaya keluar dan yang ditarik hanya tersenyum saja.

__ADS_1


__ADS_2