
"Kamar kita, akan aku tunjukkan." ucap Elang dengan melepas jaketnya juga kaosnya.
Lalu terpampang lah tubuh bagian atas yang sempurna, menampakkan otot perut yang seperti roti sobek membuat Hafsa sampai menahan air liurnya.
"Kenapa?, kau tergoda" tanya Elang tersenyum sambil berjalan perlahan mendekati Hafsa.
"Eh...!" Hafsa bingung ingin menjawab apa tapi tangannya malah bergerak menyentuh dada bidang Elang sampai ke perut sixpack Elang.
Tentu saja hal itu membuat darah Elang berdesir menciptakan hasrat yang tak terbendung karena Hafsa melakukannya secara pelan dan lembut.
"Apa kau suka sayang?" ucap Elang dengan suara parau nya.
"Iya, aku suka."
"Apa kau ingin menyentuh juga bagian yang lain." ucapnya sambil membuka caci dan resleting celananya.
"Apa?" Hafsa ikut terbawa suasana dan menurut saja apa yang di katakan Elang.
"Aku akan menuntun mu." lalu Elang membawa tangan Hafsa masuk kedalam celana Elang, seketika Hafsa kaget saat memegang sesuatu yang keras dan menegang.
"Peganglah seperti ini." Elang mengajari Hafsa untuk memegang maju mundur dan Hafsa menurutinya.
Hal itu tentu saja membuat Elang tak karuan karena dia merasakan sensasi yang nikmat dan berbeda.
Hafsa melihat wajah Elang yang sangat menikmati itu menjadi lebih mempercepat gerakannya dan itu tambah membuat Elang tak karuan.
Karena Elang tak tahan dia melahap bibir Hafsa dan memagutnya dengan liar sampai Hafsa melepaskan tangannya dari benda keras itu, Elang juga membuka cardigan Hafsa dengan cepat sambil terus mencium bibirnya, leher jenjang Hafsa juga tidak tertinggal meninggalkan bekas merah yang terpampang nyata.
"Eh.. Kak Elang pelan-pelan." ucap Hafsa menghentikan aksi Elang yang brutal.
Elang berhenti dan mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang." ucap Elang sambil menangkup pipi Hafsa, menyandarkan dahinya ke dahi Hafsa.
Elang juga menyadari dirinya tak terkontrol merasa bersalah karena di dalam rahim istri nya ada buah hati yang harus di jaga.
"Maafkan aku, aku akan melakukannya dengan pelan." lanjutnya lalu mencium kening Hafsa dengan lembut sambil memejamkan kedua matanya.
Hafsa juga sama memejamkan matanya terasa begitu hangat dan penuh cinta yang tulus yang ia rasakan.
"Kita lanjutkan lagi yah!" ucap Elang kemudian dan Hafsa mengangguk malu.
Elang pun menggendongnya ala bridal style dan membawanya ke kamar, setelah itu terjadilah sesuatu yang terjadi pada pasangan suami istri.
*****
Pagi hari Melati mencari Hafsa yang biasanya sudah berkeliaran, dia cari kesana kesini tidak ketemu, tidak mungkin Hafsa masih tidur karena dia terbiasa bangun pagi.
Sedang berjalan tiba-tiba dia menabrak seseorang karena dia meleng, tapi lucunya dia yang menabrak dia juga yang jatuh.
"Maksudmu aku tembok." ucap suara berat di depan Melati.
Melati seperti tidak asing dengan suara berat itu, lalu dia mendongakkan wajahnya dan terkejut begitu mengetahui siapa di depannya.
"Tuan Rey." ternyata Rey sedang memandangnya tanpa ekspresi.
Melati kemudian bangun dan bersungut, "Kenapa tidak membangunkan ku sih!"
Rey menghela nafas pelan tanpa menjawab kemudian ingin pergi namun di halangi oleh Melati.
"Eh! tunggu, mau kemana?"
"Bukan urusanmu."
__ADS_1
Melati mencibir memang Rey ini kadang sikapnya lembut, kadang dingin kadang juga lucu.
"Eh! kau tau dimana nona Hafsa dari tadi aku tidak menemukannya." tanya Melati tidak peduli jika Rey bersikap datar padanya karena itu sudah biasa.
"Aku tidak tau." jawab Rey singkat, kemudian ingin pergi namun di halang oleh Melati lagi.
"Kau ini dingin sekali padaku."
"Lalu aku harus bagaimana, bukannya kau tau aku begini." jawab Rey tidak datar.
Gemas dengan sikap Rey yang dingin dan datar padanya seakan melupakan kejadian yang telah dilalui bersama, Melati menginjak kaki Rey dengan sengaja membuat Rey mengaduh.
"Kau, beraninya menginjak kaki ku." kata Rey emosi, karena baru Melati yang berani melakukannya.
"Ya kenapa? kau marah mau balas menginjak ku juga atau mau memecat ku hah..." Melati malah menantang Rey dengan memajukan tubuhnya.
"Kau ini bicara seperti tidak kenal diriku saja, kalau begitu lebih baik kita tidak perlu kenal." Melati menjadi kesal, dia ingin pergi namun sebuah tangan kekar menariknya.
Karena tarikan itu sangat kuat membuat Melati jatuh dalam pelukan hangat Rey membuat jantung berdebar-debar.
'Ah, sial... kenapa saat sedang kesal masih saja suka berdebar-debar begini jika di dekatnya.' ucap Melati dalam hati.
"Melati kau...!"
"Anakku...!"
Ucapan Rey terhenti saat ada suara yang tak asing baginya, lalu dia menoleh dan terkejut ternyata ibu nya ada di depannya matanya sedang berbinar menampakkan kebahagiaan yang nyata.
"Ibu." Rey cepat melepaskan pelukan itu dan bersikap datar kembali.
Melati menjadi salah tingkah saat Rey mengatakan wanita paruh baya yang baru datang itu mengatakan ibu.
__ADS_1