
Di waktu malam Sinta, Elang dan Hafsa sedang makan malam bersama Rey tidak ikut karena ada urusan yang harus diselesaikan.
Sinta sudah diberi tahu oleh Rey tentang donor mata untuk Elang tentu saja saat mendengarnya dia sangat senang sekali bahkan sampai menangis.
Elang anaknya itu memang jarang sekali memberi tahu ibunya untuk yang pertama terhadap sesuatu yang urgent maka dari itu dia menyuruh Rey agar selalu memberikan informasi yang pertama kepadanya tentang Elang.
Saat semua di rasa selesai menyantap makan malam Sinta menanyakan hal itu pada Elang.
"Jadi.. kau sudah menemukan pendonor untuk matamu." ucap Sinta senang.
"Sudah bu." jawab Elang singkat.
"Wah benarkah itu." Hafsa ikut senang.
"Benar." jawab Elang.
"Lalu kapan kau akan dioperasi?" tanya Sinta.
"Secepatnya."
"Ibu doakan semoga operasi nya berjalan dengan lancar yah nak! ibu senang mendengarnya" ucap Sinta mendoakan dengan tulus.
"Iya aku juga senang aku doakan semoga operasinya lancar dan berhasil." Hafsa juga ikut mendoakan.
Mendengar dari suara Hafsa yang sangat senang dan mendoakannya, entah mengapa membuat hatinya merasa tenang dan nyaman dia belum pernah merasakan sesuatu yang damai seperti ini bahkan dengan Diana pun tidak.
"Terimakasih kau sudah mau mendoakanku." ucap Elang.
Hafsa tersenyum, "Sama-sama, jangan lupa aku juga akan mengurusmu."
Elang tidak menjawab dia hanya tersenyum tipis begitu juga dengan Sinta.
*****
Satria sedang santai di balkon kamarnya sambil meminum whine nya yang sepertinya tidak habis-habisnya.
__ADS_1
Lalu datanglah dua perempuan berbeda usia mereka datang dengan didampingi dua orang pengawal yang berbadan tegap.
Mereka berdiri menghadap Satria yang membelakangi.
"Mah, kenapa kita ada disini?" tanya Sesil cemas melihat ruangan yang begitu asing.
"Mamah juga tidak tau." balas Rahma ikut cemas.
"Siapa dia mah?" tanya Sesil pelan pada ibunya tapi wajahnya menunjuk Satria.
"Mamah juga tidak tau." jawaban yang sama yang diberikan Rahma.
"Mamah dari tadi tidak tau terus." protes Sesil kesal.
"Mamah memang tidak tau Sesil." Rahma jadi geram karena Sesil.
"Hey, kenapa kalian berisik sekali?" bentak Satria dengan nada tinggi masih membelakangi, merasa terusik dengan pembicaraan Rahma dan Sesil sedari tadi.
Rahma dan Sesil terlonjak kaget mendengar bentakan itu mereka jadi saling memeluk.
"Mah, aku takut kita pulang yuk!" rengek Sesil seperti anak kecil.
Praanggg
"Jika kalian berani keluar dari sini, maka kalian akan bernasib sama seperti gelas ini." ucap Satria dingin.
"Hey, sebenarnya kau siapa? kenapa kau menculik kami?" Rahma memberanikan diri bertanya.
Satria tersenyum miring, lalu membalikkan badan dan menampakkan wajahnya pada Rahma dan Sesil sehingga membuat mereka terkejut sekali.
"Kau...!" Rahma menunjuk Satria berusaha mengingat siapa Satria.
"Mah, bukankah dia teman tuan muda." Sesil mengingat wajah Satria pada malam itu.
"Iya, aku Satria teman tuan muda Elang Rahardian. Kalian mengenaliku." kata Satria.
__ADS_1
"Eh.. kenal sih tidak hanya saja pernah melihat." Sesil menjawab dengan terbata.
Satria tersenyum, tidak masalah mereka tidak mengenal yang penting keinginannya dapat tercapai.
"Tidak masalah kalian tidak mengenalku, tapi aku mengetahui tentang kalian." kata Satria tersenyum miring membuat Sesil dan Rahma ketakutan.
"Memangnya apa hubunganmu dengan kami sampai tau tentang kami dan kenapa juga kau menculik kami? tidak ada untungnya menculik kami."
"Iya kami hanya orang miskin kau kan orang kaya kenapa malah menculik kami kau salah culik sepertinya."
Rahma dan Sesil terus berceloteh sehingga membuat Satria menggeram kesal lalu...
"Diam...!" Satria membentak sambil menggebrak meja membuat mereka langsung diam.
"Aku bukan menculik kalian, tapi justru ingin memberikan kalian kekayaan hanya dengan menjalankan tugas dariku." ucap Satria langsung pada intinya.
Rahma dan Sesil saling memandang bingung namun mereka penasaran juga.
"Maksud tuan apa? kami tidak mengerti."
"Mendekatlah aku punya tugas untuk kalian dan kalian akan mendapat imbalan yang besar dariku."
Tentu saja mata Rahma dan Sesil berbinar ketika mendengar imbalan besar mereka langsung mendekati Satria dengan semangat.
"Tugas apa tuan?" tanya Rahma.
Satria membisikan sesuatu ketelinga Rahma dan Sesil dengan detail, mereka mendengarkan sambil mengangguk-anggukkan kepala.
"Kalian mengerti." ucap Satria setelah selesai berbisik.
"Mengerti tuan." jawab ibu dan anak itu serempak
"Ingat, jika kalian sampai ketauan maka imbalan itu akan hilang." ancam Satria.
"Tuan tenang saja misi ini pasti akan berhasil." Rahma meyakinkan Satria sedang Sesil hanya menganggukkan kepalanya saja.
__ADS_1
Satria sudah mendapatkan kabar bahwa Elang sudah mendapat pendonor mata dan akan dioperasi.
Jika sudah begitu maka kemungkinan untuk bisa melihat Hafsa akan terwujud dan Satria tidak menginginkannya sebelum itu Satria akan melakukan sesuatu dulu agar Elang dan Hafsa tidak dapat saling melihat. Dan Satria juga sudah mendapatkan ide untuk itu.