
"Waw.. Melati kau memasak apa? sepertinya aku baru melihatnya." tanya Sinta pada Melati saat melihat hidangan spesial ini benar-benar berbeda.
Masakan yang disuguhkan oleh Melati memang hanya masakan khas Nusantara namun di tata sedemikian rupa hingga seperti masakan mewah khas restoran mahal.
Melati dari kecil memang hobi sekali dalam memasak hingga dewasa dia selalu membuat inovasi dan berkreasi jika berkesempatan memasak.
Maka dari itu waktu dia pertama kali diterima dalam bagian memasak dia sangat senang sekali dia berfikir karena bekerja ditempat orang kaya pasti fasilitas dalam memasak sudah pasti memadai.
Dia juga bercita-cita ingin mempunyai restoran sendiri dan menjadi chef nya sendiri.
"Ini masakan khas Padang nyonya ada rendang, ayam goreng kremes, paru, sambal ijo daun singkong dan sayur nangka. Aku buatnya setulus hati loh nyonya, nyonya pasti suka" jawab Melati tersenyum bangga, dia memang pintar memasak tradisional berhubung dia pernah bekerja di restoran Padang jadi inilah kesempatan ilmunya di keluarkan.
"Kau sangat optimis sekali, aku bangga padamu aku juga sudah mendapat laporan bahwa masakanmu memang paling enak." puji Sinta sambil tersenyum.
"Dia memang pintar sekali dalam memasak mah, aku saja banyak belajar darinya." tambah Hafsa memuji Melati.
Melati mengacungkan dua jempolnya pada Hafsa namun dibawah meja jadi Hafsa tidak melihat tapi Rey yang disampingnya bisa melihat.
__ADS_1
"Waw.. hebat sekali yah Sinta pelayanmu ini, lalu apa kelebihan menantumu?". tanya Dewi, entah ada maksud atau tidak sepertinya pertanyaan ini menyinggung Sinta.
Semuanya jadi terdiam tapi Dewi kebingungan mengapa tidak ada yang menjawab.
"Apa aku salah dalam bertanya? maafkan aku kalau aku salah." kata Dewi merasa tidak enak.
Hafsa yang melihat ketidak nyamanan mertua dan diamnya Elang menjadi gelisah dia harus menjawab demi menyelamatkan nama baik mertuanya.
"Tidak apa Tante, aku juga punya kelebihan." jawab Hafsa spontan membuat Elang dan Sinta bereaksi.
"Aku aku aku bisa membuat suamiku yang tampan ini jatuh cinta bahkan sangat takut jika aku meninggalkannya." cicit Hafsa sambil menggigit bibir bawahnya dan menoleh pada Elang.
Elang hanya tersenyum miring mendengar jawaban dari istri kecilnya.
"Benarkah Elang jatuh cinta padamu? tapi.. sepertinya yang aku lihat kalian.." Satria berucap sambil tangannya bersedekap dan punggungnya disandarkan dikursi.
"Apa kau perlu bukti? bukankah kau sudah melihatnya." jawab Elang sinis.
__ADS_1
"Lalu kenapa sampai sekarang tidak ada kabar tentang Elang junior?" balas Satria tersenyum sinis.
'Aduh kenapa jadi seperti ini, seharusnya aku tidak perlu menjawab tadi.' Hafsa menjadi tidak enak melihat perdebatan antara Satria dan Elang.
"Apa urusannya denganmu? kau tidak perlu mencampuri urusanku." balas Elang dingin.
"Eh kalian, ini makanan enak sekali dari pada dari tadi kita bicara terus lebih baik kita makan. Ayo suamiku kau harus makan banyak aku suapi yah!" ucap Hafsa dengan segera mengambil makanan dan menyuapi pada Elang sebelum situasi tambah memanas.
"Ya sudah cepat kita coba makanannya." Sinta membantu mengalihkan perhatian semuanya untuk menyantap makanan yang sejak tadi dihidangkan.
"Ayo. ayo."
Mereka pun menyendok makanan sesuai porsinya dan menyantapnya terasa sangat nikmat di lidah dan membuat mereka ketagihan apalagi dengan sambalnya.
"Masakanmu benar-benar nikmat Melati, cocok sekali aku suka. Setelah ini aku akan memberi mu bonus." kata Sinta.
"Terimakasih nyonya, nyonya baik sekali." jawab Melati sumringah.
__ADS_1