Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 21


__ADS_3

Acara pernikahan pun telah selesai, para tamu juga sudah pulang semua tinggal para pelayan yang sedang membereskan segala kekacauan pesta pernikahan.


Hafsa sudah ada didalam kamar Elang yang luas dan mewah seperti lapangan futsal dan dia berdiri menatap cermin yang memang sampai bawah, dia melihat dirinya sendiri sangat berbeda dengan memakai baju pengantin dan riasan.


Bahkan dia mengira itu bukan dirinya, sampai dia terus menatap cermin dan alangkah terkejutnya dia mendengar suara Elang dibelakangnya yang entah kapan datangnya dan bisa tau bahwa dirinya ada disitu.


"Sudah cukup memandangi cermin, cermin itu akan pecah jika terus kau pandangi." ucapnya sadis membuat Hafsa mengerucutkan bibirnya.


"Mana bisa cermin pecah jika hanya dipandangi saja, ada-ada saja.!" gumam Hafsa pelan.


"Cepat, bantu aku melepaskan baju sialan ini." titah Elang dengan suara ketusnya sambil menggoyangkan dasi kupu-kupu nya.


Hafsa mendelik kesal, 'Tidak bisakah dia menyuruh dengan biasa saja kenapa ketus sekali? sangat berbeda.' ucapnya dalam hati.


"Hey, kau jangan mengumpatku yah! cepat lama sekali." oceh Elang dengan suaranya yang tambah ketus.


"Baik tuan." jawab Hafsa pelan dan lembut memaksakan senyumnya.


"Tapi...!" Hafsa teringat sesuatu


"Apa lagi?". ucap Elang menahan geramnya.


"Aku juga belum membuka baju pengantin dan semacamnya, ini akan membuatku sulit untuk bergerak. Jadi aku buka punyaku dulu yah!" kata Hafsa karena saking terpesona dengan diri sendiri sampai lupa untuk membuka.


Elang jadi menahan kesalnya akan ulah pengasuh itu.


"Cepat kau buka duluan." ucapnya dengan menahan kesal.


"Ah baik.!" Hafsa kemudian membuka satu persatu aksesoris dirambutnya yang mudah ia jangkau dan tak lupa membersihkan wajahnya dari riasan itu, Elang tetap menunggu di kursi rodanya dengan tidak sabar.


Setelah pada saat gaunnya Hafsa kesulitan untuk membuka resleting bagian belakangnya karena sulit dia jangkau.

__ADS_1


'Aduh bagaimana ini? sulit sekali.' Lalu dirinya menatap Elang yang wajahnya sangat datar. Hafsa pun meringis. Apakah Elang mau diminta bantuannya? tapi kalau dia diam saja sampai kapanpun baju ini tidak akan terbuka.


Ah... mau bagaimana lagi disini hanya ada dia dan Elang tidak mungkin dia keluar dan meminta bantuan Melati, dia pun memberanikan diri mendekati Elang dan berbicara pelan padanya.


"Eh... tuan maaf, aku kesulitan membuka resleting belakangnya, bolehkah aku meminta bantuanmu?" ucap Hafsa ragu.


Elang menoleh tajam padanya, "Sedari tadi aku menunggu kau belum membuka bajumu juga."


Hafsa menutup matanya saat mendengar nada bicara Elang yang keras.


"Tadi aku baru selesai dibagian wajah dan kepala dan sekarang aku kesulitan untuk membuka baju ini tuan, karena aku tidak bisa menjangkaunya. Kenapa kau harus marah-marah? apakah aku harus berlarian keluar dan meminta tolong pada orang lain hanya untuk membukakan baju ini." oceh Hafsa mendramatisir membuat Elang sakit kepala mendengarnya.


"Kau berani sekali mengomeliku," ucap Elang dingin.


"Tidak, tidak berani tuan hanya saja aku meminta bantuan. Ya sudah tidak apa-apa kalau tuan tidak bisa membantu aku akan mencari bantuan keluar." Hafsa ciut juga saat melihat Elang yang seperti akan marah dengan wajah yang memerah.


Saat Hafsa ingin membuka pintu, Elang jadi teringat perkataan Satria sebelum dia pergi.


"Ingat Elang, jika aku melihat istrimu keluar dengan masih memakai baju pengantin. Itu artinya kau menyerahkan istrimu padaku dan pada saat itu juga aku akan mengambilnya darimu, karena aku masih disini sampai lampumu dimatikan." ucapnya dengan nada becanda tapi itu seolah seperti ancaman untuk Elang sehingga membuatnya waspada.


"Jangan sekali-kali kau keluar dalam keadaan seperti itu? cepat sini aku akan membantumu." kata Elang merasa gugup sendiri, dia hanya teringat dengan kata Satria yang tiba-tiba melintas belum lagi jika ibunya mengetahui bisa panjang urusannya.


Hafsa berbinar senang meskipun bingung dia menghampiri Elang dan berjongkok dibelakangnya.


"Terimakasih tuan, aku sudah didepanmu."


Elang dapat merasakan aroma tubuh yang memabukkan dari pengasuhnya itu. Tiba-tiba saja darahnya berdesir saat berdekatan dengan gadis itu, meskipun dia tidak bisa melihat tapi dia bisa merasakan harumnya tubuh itu membuat Elang terus memejamkan matanya.


Hafsa yang menyadari tak ada pergerakan dari tuannya merasa insecure sendiri, apakah tuannya tidak ingin menyentuhnya karena dirinya hanya pengasuh atau tuannya ragu dan malu yang mana yang harus dibuka.


Tanpa diduga Hafsa menyentuh tangan Elang untuk mengarahkan pada punggungnya seketika Elang langsung jantung Elang langsung berdegup dengan kencang saat tak sengaja tangannya menyentuh punggung Hafsa yang halus dan mulus itu.

__ADS_1


"Maaf tuan, habisnya kau diam saja aku pikir kau butuh bantuan untuk mengarahkan tanganmu." kata Hafsa melihat wajah Elang yang kaget.


Elang tak menjawab tangannya malah menyusuri lembut punggung Hafsa dengan pelan. Kini gadis itu yang terkejut dan darahnya langsung berdesir tidak nyaman.


'Kenapa ini? apa aku salah yah malah mengarahkan tangannya ke punggungku sekarang aku merasa tidak nyaman.' ucapnya dalam hati kegelian sendiri.


Berbeda dengan Elang yang merasa nyaman malah ingin meneruskan lebih karena walau bagaimanapun dia adalah lelaki normal yang butuh menumpahkan hasratnya, apalagi dia tidak pernah melakukannya meski dengan Diana sekalipun, karena itulah Diana berpaling.


Tangan itu terus menyusuri sambil resleting itu terbuka sepenuhnya dan dia langsung tersadar, atas apa yang dilakukannya barusan.


Dengan tenang Elang memasang wajah datarnya, "Sudah selesai kau jangan mencari kesempatan dalam kesempitan karena aku tidak akan menyentuhmu." ucapnya sangat berbeda dengan hatinya.


Hafsa terdiam dengan raut wajah bingung dia malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


'Siapa yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.' ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudah tidak usah melamun, cepat ganti pakaianmu dan gantikan aku." titahnya lagi.


"Ah iya baik!" buru-buru Hafsa ke kamar mandi dan mengganti bajunya sebelum singa itu mengamuk lagi.


Setelah merasakan Hafsa pergi, Elang mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya.


"Sial, hampir saja aku kebablasan. Tubuh pengasuh itu menggoda juga, aku harus menjaga jarak dengannya. Kenapa juga dia tidak bisa diam begini membuatku tak nyaman saja." gerutu Elang yang sedari tadi dia tahan dan mengarah pada juniornya yang tiba-tiba terbangun.


"Argh.." teriak Elang sambil memukul udara.


"Ada apa tuan?" Hafsa melongokan kepalanya cemas mendengar teriakan Elang yang keras.


Menyadari dirinya berteriak dan ketahuan membuat Elang gugup dan mencoba tenang kembali.


"Aku tidak apa-apa! lanjutkan saja." katanya.

__ADS_1


"Oh yasudah!." Hafsa pun kembali masuk.


"Ayolah Elang, kau jangan memalukan dirimu sendiri pada pengasuh itu." ujar nya kesal sendiri dan menjalankan kursi rodanya pada meja yang terdapat minuman karena dia sudah hafal lalu meminum minuman yang sudah tersedia dengan rakusnya untuk menjernihkan otaknya.


__ADS_2