Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 105


__ADS_3

Melati sampai ternganga melihat gaun-gaun yang berderet sempurna menampakkan keindahan yang nyata. Dari dia masuk butik sampai ke ruangan ini matanya terus berbinar rasanya ingin sekali dia memiliki gaun-gaun yang indah di lemarinya.


"Nah sepertinya ini cocok denganmu!." pria itu memberikan gaun panjang dengan belahan di dada jika di pakai pasti akan sangat terlihat.


"Tidak, dia tidak cocok. Ganti." melihat itu Rey langsung menolak. Melati hanya nurut saja.


"Em.. baiklah bagaimana kalau di coba dulu yang aku pilih baru kau bisa menentukan yang cocok untuknya." pria itu memberi saran yang masuk akal.


"Baiklah terserah padamu." jawab Rey datar.


"Baiklah aku akan memilihkan 5 gaun yang boleh di coba." kemudian pria itu memilihkan 5 gaun untuk Melati, dia memilih gaun yang pasti akan disukai Rey.


"Sudah, ayo masuk!"


"Tunggu." Rey menyela saat Melati ingin mengikuti.


"Ada apa?" tanya Melati.


"Siapa yang akan membantu mencoba gaunnya?." tanya Rey cemas karena pria itu ingin mengajak Melati.


"Tentu saja aku, siapa lagi?." seperti paham dengan kecemasan Rey, pria itu malah menggodanya.


"Hey, jangan macam-macam kau. Memangnya kau tidak punya asisten wanita." kata Rey dingin menatap tajam sang pemilik butik.


"Oh tenang nak! aku hanya becanda. Siska...!." ucap pemilik itu menahan tawanya lalu memanggil asistennya.


"Ya tuan, saya." yang dipanggil segera menyahut.


"Tolong bantu gadis ini untuk mencoba semua gaun ini yah dan perlihatkan padanya satu persatu." kata tuannya dengan memberikan gaun-gaun nya.


"Baik tuan, mari nona saya bantu." ucap Siska ramah, Melati mengangguk dan masuk ke dalam kamar ganti.


"Tuan Rey, bagaimana denganmu? apa kau ingin mencoba baju mu juga?" ucap pria itu menawarkan.


"Tidak perlu." jawabnya singkat.


"Baiklah, aku tidak memaksa kau tunggu calon istrimu di sini. Aku ingin menemui ibumu dulu." pamitnya kemudian.


"Hemm.." hanya itu jawaban Rey.


Di dalam kamar ganti Melati mencoba satu gaun yang di bantu Siska kemudian memperlihatkan pada Rey.


"Tuan, bagaimana?" tanya Melati.


Rey yang sedang duduk mengamati, melihatnya begitu terpana karena Melati cantik sekali dengan gaun indah yang menjuntai tanpa lengan tapi Rey langsung panik saat punggung belakang Melati yang putih bersih terlihat olehnya.

__ADS_1


"Tidak cocok ganti." ucap Rey begitu saja.


Melati cemberut kemudian masuk lagi.


Seperti itu seterusnya, gaun pengantinnya sih bagus-bagus hanya saja gaun nya terbuka di mana-mana, ada yang terbuka di punggung, di paha, di dada, di perut dan itu membuat Rey sakit mata dia tidak ingin tubuh Melati di lihat oleh orang lain kecuali dirinya.


Hingga gaun yang terakhir berlengan sampai batas siku namun transparan sampai batas dada dan bawahan yang seperti payung.


Rey benar-benar terpesona melihatnya dia tersenyum tipis karena gaun ini cocok sekali untuk Melati.


"Bagaimana dengan yang ini? jika yang ini tidak cocok juga lebih baik tidak usah pakai gaun." Melati bersungut kesal karena Rey selalu bilang tidak cocok, apa dia tidak merasakan begitu lelahnya terus-terusan ganti gaun apalagi berat dan ribet pikir Melati.


"Cocok, ini saja." jawab Rey membuat Melati bernafas lega.


"Dari tadi kenapa, aku lelah tau." sungut Melati membuat Rey gemas.


"Mbak, sudah selesai yang ini saja."


"Baiklah mari nona di lepas dulu."


Mereka pun masuk kembali untuk melepas gaunnya tapi ponsel Siska berdering dan dia mengangkatnya dulu.


"Iya tuan, baik aku segera ke sana." lalu Siska mematikan ponselnya.


"Nona maaf, aku di panggil bos nona tunggu sebentar yah!." lanjutnya pamit pada Melati.


Siska keluar dari ruangan, melihat Rey yang sedang santai sambil memainkan ponselnya dia pun berfikir dari pada client nya menunggu dirinya yang di panggil bos entah lama atau tidak lebih baik dia menyuruh calon suaminya saja yang membantu melepaskan.


"Eh.. tuan maaf bisa minta tolong." ucap Siska dengan hati-hati.


Rey mendongak menatap Siska dengan datar, "Ada apa?"


"Eh.. saya di panggil bos dan nona ada di dalam bisa minta tolong untuk membantunya. Soalnya saya takut kelamaan kasian nona ke gerahan." jawab Siska penuh teliti.


Rey tersenyum smirk, "Baiklah tidak apa-apa aku akan bantu."


"Terimakasih tuan." setelah itu dia langsung pergi.


Didalam kamar ganti Melati sedang berusaha mengganti gaunnya sendiri namun dia kesulitan untuk membuka resleting bagian belakang karena gaunnya yang terlalu ketat jika di paksa dia takut gaun nya akan rusak.


Lalu tiba-tiba sebuah tangan menyentuhnya.


"Eh! mbak sudah datang cepat sekali. Maaf yah aku tadi berusaha membuka sendiri." ucap Melati di kira Siska.


Rey diam saja tidak menjawab dia malah memandangi kulit putih bersih milik Melati membuat darahnya berdesir lalu tiba-tiba jarinya menyentuh punggung Melati dengan lembut.

__ADS_1


Melati tersentak kaget karena yang dia kira adalah Siska dan dia merasa di lecehkan.


Melati pun langsung berbalik hendak memukul si pelaku tapi dia begitu lebih terkejut karena ternyata Rey yang melakukannya.


"Tu- an Rey." kejut Melati.


"Melati, aku tidak tau bagaimana rasanya namun ketika melihat dirimu naluri lelaki ku selalu bekerja. Apa kau telah mengguna-gunaiku?." ucap Rey dengan suara parau karena terbawa hasrat.


Melati bingung apa yang Rey bicarakan namun dia melihat Rey seperti menahan sesuatu.


"Aku tidak mengguna-guna dirimu, aku hanya terus menggoda mu saja." jawab Melati menatap mata Rey.


Lalu Rey mendekatkan wajahnya pada Melati membuat jantung Melati berdetak-detak.


"Ya, dan kau telah berhasil melakukannya aku sangat tergoda denganmu." menjeda ucapannya sambil memandangi bibir Melati yang merekah.


Jari Rey kemudian menyentuh bibir Melati dan mengusap-ngusapnya.


Kemudian Rey ingin mencium bibir yang selalu menggodanya itu saat itu juga Melati memejamkan matanya, namun sebelum bibir itu saling bersentuhan sebuah suara menghentikannya.


"Rey, Melati.. upps!".


Ibu Rey, pemilik butik serta Siska terbengong melihat adegan yang hampir saja terjadi.


"Ibu..!" Melati langsung menjauhkan diri dari Rey dia jadi kikuk dan malu sendiri karena terciduk ingin berciuman.


Sedang Rey mengepalkan tangannya karena kesal padahal dari tadi dia sudah menahan dan sekarang dia harus menahan sakit karena hasrat yang tak tersalurkan.


"Maafkan ibu nak, ibu datang di waktu yang tidak tepat yah!" ucap Mala tersenyum menggoda.


"Ti-dak i-bu kami tidak sedang apa-apa kok! benar." jawab Melati gugup dan malu.


"Nyonya, sepertinya anakmu sudah tidak sabar ingin segera menikah." kata pemilik butik tersenyum.


"Ya, aku tau itu mangkanya aku kesini untuk membantunya. Kau tau dia itu sudah lama menyendiri." kata Mala tersenyum jahil menatap Rey.


"Jika ibu sudah selesai lebih baik aku pulang." ujar Rey tak tahan terus di goda, dia pergi sambil menarik tangan Melati.


"Hey, menantuku mau di bawa kemana?." tanya Mala melihat Rey membawa Melati.


"Dia pulang bersamaku, dan ibu pulang sendiri." ucapnya kemudian lalu pergi.


"Anak itu memang benar-benar yah! aku, ibunya di tinggal." kata Mala memelas seperti orang yang paling menderita.


"Sudah biarkan saja, anakmu sedang kasmaran." jawab pemilik butik.

__ADS_1


"Ya, tidak apa-apa asal dia punya kekasih." kata Mala pura-pura menghapus air matanya.


__ADS_2