
"Elang." panggil seorang pria tampan berjas putih berkaca mata dengan rambut disisir rapi.
Yang dipanggil menengok berikut Hafsa juga.
"Ziyan, kau kah itu." dengan hanya mendengar suaranya saja Elang dapat mengenali suara itu.
Pria yang dipanggil Ziyan itu mendekat kemudian merangkul Elang dan dibalas oleh Elang dengan senang.
"Bagaimana kabarmu Ziyan?" tanya Elang.
"Aku baik, kau bagaimana?" tanya balik Ziyan.
"Seperti yang kau lihat." jawab Elang.
"Kau jahat sekali Ziyan tidak mau mengunjungiku selama ini." ucap Elang merasa sedih.
"Maafkan aku Lang, aku tidak bisa meninggalkan putri kecilku yang sedang sakit. Tapi sekarang putri ku sudah sehat dan sekarang aku mendengar kabar baik dari ibumu maka dari itu aku langsung datang kesini untuk memeriksamu." ucap Ziyan panjang lebar, merasa dilema atas dua pilihan anak atau sahabat.
Elang tersenyum mendengar kekhawatiran sahabatnya.
"Tidak perlu merasa bersalah begitu, aku tidak apa-apa putrimu lebih penting dari segalanya." kata Elang bijak.
"Kau memang tidak berubah."
"Kau pun sama."
Elang dan Ziyan sudah bersahabat sejak mereka masih kecil sebelum bertemu dengan Satria dan Rey.
Hingga dewasa mereka masih terus bersama meski kesibukan meraja Lela mereka masih sempat untuk bertemu sekedar berkeluh kesah.
__ADS_1
Ziyan yang berprofesi sebagai dokter ditunjuk Elang untuk menjadi dokter pribadinya namun untuk cek up yang terakhir Ziyan tidak bisa menemui Elang karena keadaan darurat, namun setelah mendengar kabar bahwa Elang sudah bisa berjalan dia langsung terbang menemui Elang.
Ziyan juga sudah menikah dan mempunyai satu putri yang sangat cantik dan istri yang cantik yang berprofesi dokter juga.
Waktu Elang menikah Ziyan tidak datang karena masalah anaknya yang sedang sakit.
Hafsa gadis itu hanya menyimak dengan baik perbincangan dua pria tampan itu.
Lalu tak sengaja mata Ziyan beralih menatap Hafsa yang langsung memalingkan wajah.
"Elang, apa dia istrimu?" tanya Ziyan.
"Ya dia istriku." jawab Elang.
"Hay, perkenalkan aku Ziyan dokter pribadi Elang sekaligus sahabat Elang sedari kecil." Ziyan memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan.
Hafsa menerimanya, "Namaku Hafsa."
"Ziyan, ingat kau tidak boleh memuji istri orang lain sementara dirimu mempunyai istri." kata Elang menunjukkan ketidak sukaannya.
"Ah aku juga lupa bahwa Elang Rahardian adalah seorang yang pencemburu." Ziyan tersenyum getir mengingat hal itu.
'Hah Elang cemburu, cemburu kenapa yah! katanya kalau orang cemburu tandanya suka apa iya Elang suka padaku.' ucap Hafsa dalam hati sambil senyum-senyum sendiri.
"Hey nona kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Ziyan heran begitu juga Elang
Hafsa gelagapan karena terciduk dia jadi malu sendiri untuk menjawab.
"Ah.. tidak apa-apa aku hanya membayangkan kalian berdua itu lucu ternyata." Hafsa tertawa garing sendiri.
__ADS_1
Sedangkan Elang dan Ziyan mengerutkan alisnya merasa aneh dengan tingkah Hafsa.
"Eh! kenapa kalian melihatku begitu." Hafsa jadi bingung karena tatapan keduanya.
"Eh ya sudah! Elang aku kesini ingin memeriksa mu. Ayo kita ke kamar." kata Ziyan beralih ke pembicaraan lain.
"Untuk apa ke kamar, disini saja." Elang menolak untuk kembali ke kamar.
"Elang, aku butuh kau berbaring. Memangnya kau mau berbaring disini."
"Tentu saja kenapa tidak? aku malas jika harus ke kamar" Elang memang seperti itu jika sudah badmood.
Ziyan memutar bola mata malas, "Baiklah jika itu mau mu dimana kau berbaring." tanya Ziyan membuat Elang berfikir.
"Tunggu." Elang menyentuh lengan istrinya yang memang berada disampingnya.
"Kau geseran sampai ujung." perintahnya pada Hafsa.
Hafsa hanya menurut dia menggeser sampai ujung, "Sudah tuan."
Lalu Elang langsung merebahkan kepalanya diatas paha Hafsa sehingga membuat Hafsa terkejut. Karena kursi itu kurang panjang sehingga membuat kaki Elang bergantungan.
"Sudah, cepat periksa aku." titahnya.
Ziyan hanya menggelengkan kepalanya melihat cara Elang yang sesukanya, pasiennya ini benar-benar berbeda dari yang lain.
"Tunggu apa lagi cepat." perintah Elang lagi karena tidak ada pergerakan dari Ziyan.
"Baiklah sesukamu saja tuan muda."
__ADS_1
Setelah itu Ziyan memeriksa Elang meski tidak nyaman karena posisi tidur Elang dia hanya bisa bersabar menghadapi tuan muda.
Sedangkan Hafsa lagi-lagi hanya menyimak adegan baru ini.