
Berbagai acara pernikahan pun telah selesai kini tinggal para tamu mengucapkan selamat kepada pengantin.
"Melati selamat yah! akhirnya kau menikah juga dengan Rey." ucap Hafsa senang.
"Terimakasih." jawab Melati tersenyum cerah.
"Selamat Rey akhirnya kau tidak jadi jomblo abadi." ucap Elang meledek.
"Sama-sama tuan,."
"Hey, ini bukan waktu bekerja. Kenapa kau selalu memanggilku tuan?." kata Elang sedikit tidak terima.
"Maaf, aku sudah terbiasa." jawab Rey santai.
"Hem.. ya sudahlah terserah dirimu."
"Ngomong-ngomong kalian bisa minggir tidak, di belakang sudah antri." ujar Melati pada Hafsa dan Elang.
Hahh ternyata di belakang sudah banyak yang ngantri.
"Sayang, ayo kita pergi dari sini." Hafsa hanya mengangguk.
Setelah agak menjauh, Elang mulai berbicara, "Sayang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
"Siapa?." Hafsa senang dia menduga bahwa yang ingin bertemu dengannya adalah ayahnya.
"Tuh dia di sana." tunjuk Elang pada pria paruh baya yang sedang duduk sendiri di tempat yang tidak banyak orang.
"Ayah...?" ucap Hafsa ternyata itu adalah Anton ayahnya yang selama ini ia rindukan dan tidak tau dimana keberadaan nya semenjak menghadiri pernikahan nya kala itu.
"Itu ayah kak." ulang Hafsa menatap sang suami dengan mata berbinar.
"Ya, silahkan kau temui dia aku akan menemanimu." kata Elang senang melihat istrinya yang bahagia bisa bertemu ayahnya.
Hafsa pun berjalan cepat di susul Elang di belakangnya, dia melihat ayahnya yang seperti orang linglung karena tidak mengenal siapapun disini.
"Ayah...!" panggil Hafsa saat sudah di depan ayahnya.
Anton terkesiap mendengar panggilan itu, suara itu tak asing dan suara yang sangat ia rindukan juga.
Lalu dia mendongak melihat putrinya yang kini semakin cantik dengan gaun panjang dan perutnya yang sedikit menonjol serta di belakang nya Elang yang tersenyum menatap nya.
"Hafsa, putriku." mata Anton berkaca-kaca mengingat putri satu-satunya ini, dia menyesal telah menelantarkan dan tidak peduli dengannya semenjak istri pertamanya sudah tiada, dia jadi sering memarahi Hafsa dan tidak pernah pulang ke rumah.
Tapi apa yang dia lihat, dia melihat di mata putri nya yang merindukan seorang ayah tanpa dendam dan marah sedikitpun.
Dia pun menunduk menangis di tengah keramaian, Hafsa segera meraihnya dalam pelukan.
"Ayah jangan menangis, ayah kemana saja aku rindu ayah. Apa ayah masih membenciku? tolong maafkan aku yah." ungkap Hafsa ikut menangis di dalam pelukan ayahnya.
Sedang Elang memalingkan wajahnya tak kuat melihat istrinya menangis seperti itu.
Anton melepaskan pelukannya dan menatap Hafsa dengan penuh kasih sayang.
"Ayah yang seharusnya minta maaf padamu nak, ayah telah menelantarkan mu ayah juga tidak pernah peduli dengan mu maafkan ayah." Anton terisak mengatakan nya.
"Aku sudah melupakan semuanya yah, yang lalu biarlah berlalu yang penting ayah berjanji padaku untuk menjadi yang lebih baik. Dan ayah tau ayah akan menjadi kakek." kata Hafsa memberi tau kehamilan nya pada Anton.
"Kau hamil nak."
__ADS_1
"Iya yah." ucap Hafsa mengangguk.
"Ya Tuhan terimakasih karena kau telah memberiku kesempatan untuk hidup lebih baik." ucap Anton sambil menengadah ke atas.
"Terimakasih juga kau telah mengirimkan malaikat penyelamat untuk menolong ku." lanjutnya membuat Hafsa menautkan alisnya.
"Maksud ayah apa?."
"Suamimu telah menolong ayahmu dari orang-orang yang ingin membunuh ayah." ungkap Anton membuat Hafsa terbeliak kaget.
"Apa...? ayah mau di bunuh.Ke-kenapa?."
"Karena ayah mempunyai banyak hutang dan tidak mampu untuk membayar dan di saat ayah pasrah saat mereka ingin menusuk ayah suamimu datang dan menghentikannya, suamimu juga yang telah membayar semua hutang ayah dan saat itu juga ayah tersadar." cerita Anton sambil menangis.
Hafsa kemudian menatap Elang yang dari tadi diam saja.
"Kak Elang terimakasih, aku tidak tau apa yang akan terjadi dengan ayahku jika kau tidak ada." ucap Hafsa dengan mata berkaca-kaca menatap sang suami.
Elang segera merengkuh dalam pelukannya.
"Sudah seharusnya aku melakukan itu sayang, kau tidak perlu berterimakasih." balas Elang apa jadinya juga jika dirinya hidup tanpa istrinya.
"Ayah sebaiknya ayah beristirahat, anak buah ku yang akan mengantar ayah." ucap Elang kemudian kasian melihat Anton yang linglung di tempat ramai seperti ini.
Lalu tak berapa lama datanglah anak buah Elang yang sudah di beri kode."
"Silahkan ayah ikutlah dengannya." kata Elang.
"Terimakasih nak! terimakasih."
Anton pun pergi bersama anak buah Elang.
Elang tersenyum kecil, "Tapi ini tidak gratis loh."
"Hem... mulai deh." Hafsa memutar bola mata malas jika Elang sudah berkata begitu.
"Sayang aku serius."
"Terserah mu lah."
Mereka pun kemudian tertawa bersama.
Di saat mereka sedang tertawa bersama, di sisi lain ada yang tidak menyukai kebersamaan mereka.
Dia tersenyum smirk sambil berkata, "Kau bisa tersenyum hari ini, beberapa menit lagi jangan harap kau masih bisa tersenyum." ucap Diana memandangi Hafsa dengan penuh rasa iri.
"Kau sudah lakukan apa yang aku suruh?." tanya Diana pada Meliana di sebelahnya.
"Sudah, aku juga sudah menyiapkan kamar untuk mereka. Aku yakin rencana kita akan berhasil." jawab Meliana sangat yakin.
"Bagus, kita tunggu kesempatan Elang lengah menjaga istrinya. Dan kau tunggu instruksi ku" kata Diana menatap Meliana.
"Iya, aku mengerti."
Diana tanpa di undang tiba-tiba datang dan tak tau malu, kemudian dia menghampiri pasangan suami istri itu.
"Hay,..!" sapa nya lembut nan anggun.
Elang dan Hafsa seketika terdiam melihat Diana ada di depannya.
__ADS_1
"Diana." ucap Elang datar.
Apa-apaan ini?, apa Rey yang mengundang Diana kemari.
Hafsa yang melihat perubahan wajah Elang jadi berfikir kalau Elang tidak bisa melupakan mantan nya.
"Hay Hafsa apa kabar? ku dengar kau sedang hamil yah selamat yah aku senang mendengarnya." kata Diana pura-pura senang.
"Iya, tapi kau tau dari mana aku hamil."
"Semua orang juga sudah tau jadi ini hal yang lumrah." jawabnya dengan senyum kecil.
"Untuk apa kau kesini? apa kau di undang?." tanya Elang langsung pada intinya.
Diana terkekeh, "Elang kau kejam sekali, memangnya aku tidak boleh memberikan ucapan selamat pada sekretaris mu."
"Lalu kenapa kau kesini?."
"Karena aku ingin melihat kalian dan menyapa kalian, tidak boleh juga kah."
"Tuan, maaf ada yang ingin bertemu denganmu di sana." ucap anak buah Elang.
"Baiklah aku akan ke sana." jawab Elang.
"Sayang, ayo kita ke sana." ajak Elang.
"Tidak kak, aku malu aku disini saja aku ingin makan." jawab Hafsa menunjuk ke stand makanan.
Hafsa pun berjalan ke arah stand makanan dan ternyata Diana mengikutinya.
Saat Hafsa mengambil makanan, Diana juga ikut mengambil makanan.
"Selamat yah! aku tidak menyangka kau telah berhasil masuk ke relung hatinya sampai dia menikahi mu dan kau mengandung." ucap Diana tangannya cekatan sambil mengambil sesuatu dalam tas kecilnya.
"Iya, terimakasih pujiannya tapi aku sama sekali tidak mempunyai maksud apapun saat pertama kali bertemu dengannya." jawab Hafsa tersenyum paksa.
Entah mengapa berada dekat dengan Diana perasaan nya menjadi tidak enak.
"Kau kenapa? kau gugup sekali denganku." kata Diana tangannya begitu terampil memasukan sesuatu ke makanan Hafsa hingga Hafsa tidak menyadari nya.
"Tidak, apa aku terlihat gugup."
"Tidak juga sih! Hem.. ini enak sekali." kata Diana sambil memasukan makanan itu ke mulutnya.
Hafsa jadi tergiur dia pun memasukan makanan itu ke mulutnya sendiri. Saat mengunyah ada perasaan menang yang di rasakan Diana karena misinya berhasil.
Tak lama kemudian kepala Hafsa mendadak berputar-putar.
"Kepalaku pusing sekali." ucap Hafsa sambil memegangi kepalanya.
Tak lama kemudian Hafsa jatuh di pundak Diana.
"Hey, sadarlah." sambil menepuk pipinya.
"Heh... penderitaan mu akan di mulai." sambung Diana menatap sinis Hafsa.
Diana pun melihat Elang yang serius mengobrol dengan client nya dia pun memberi kode pada Meliana untuk membantu nya.
"Ayo bantu aku." pinta Diana.
__ADS_1
Meliana datang dan ikut memapah Hafsa membawanya ke suatu tempat.