Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Extra part 1


__ADS_3

"Sayang, bagaimana rasanya?." tanya Elang pada istrinya sambil menyentuh lembut perut Hafsa yang sudah membesar itu.


"Rasanya luar biasa kak, apalagi jika gerakannya aktif aku terkadang ingin tertawa sambil menangis sendiri." jawab Hafsa tersenyum geli kala mengingat kejadian dimana bayi nya aktif bergerak di dalam perut.


"Seperti itukah sayang, jagoan kita sangat aktif sekali ternyata." seru Elang tersenyum bahagia. Karena sudah mengecek bahwa anak mereka berjenis kelamin laki-laki.


"Ahh..." tiba-tiba si kecil menendang perut ibunya sampai terlihat kakinya di permukaan kulit Hafsa.


"Sayang lihat kakinya lucu sekali." Elang berseru senang, begitu terharu menyaksikan bayi yang aktif bergerak itu.


Perut Hafsa memang sudah besar sudah berusia 9 bulan lebih dan mungkin sebentar lagi akan melahirkan.


Perut yang awalnya hanya sakit biasa mendadak terus berdenyut hingga tiada henti membuat Hafsa terus berteriak kesakitan.


"Akhh... sakit sekali." keluh Hafsa sambil mencengkram erat jemari tangan Elang.


"Sesakit itukah sayang." Elang menjadi panik melihat Hafsa yang tiba-tiba berkeringat dingin.


"Akhh... perutku sakit se- sepertinya aku mau melahirkan." ucap Hafsa dengan nada yang di tekan karena menahan sakit.


"Apa?? mau melahirkan." Elang kalang kabut mendengar Hafsa mau melahirkan, dia mendadak jadi bodoh karena panik.


"Apa yang harus aku lakukan?." Elang malah bertanya dengan wajah cemas di saat Hafsa butuh pertolongan.


"Dasar bodoh, bawa aku ke rumah sakit." seru Hafsa kesal, pertama kalinya juga dia memarahi Elang.


"Ahh iya ke rumah sakit. Sebentar." dengan penuh kepanikan Elang menelfon Galang untuk mengantar mereka ke rumah sakit.


"Galang cepat kesini, istriku mau melahirkan." ucap Galang dengan berteriak langsung menutup telfon tanpa menunggu jawaban Galang.


"Cepat.... aku sudah tidak tahan." Hafsa dengan keringat bercucuran karena bayi itu seakan mengajak keluar.


"Iya sayang sebentar lagi Galang akan kesini. Bertahanlah." kata Elang sambil menyeka keringat di dahi sampai pelipis Hafsa.


"Ahh ... sakittt."


Lalu beberapa menit kemudian datanglah Galang dengan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek saja, rambutnya pun acak-acakan dengan mata yang di paksakan terbuka jadi seperti mata panda.

__ADS_1


Pasalnya Galang sedang tertidur beberapa menit yang lalu tiba-tiba di kejutkan dengan berita nona mudanya yang ingin melahirkan karena memang ini sudah jam 12 malam membuatnya ikut panik seketika tanpa mempedulikan penampilan nya Galang langsung tancap gas menuju kediaman rumah Galang dan Hafsa yang baru.


Elang tidak peduli dengan tampilan Galang saat ini, dia hanya mengkhawatirkan istrinya yang sedang mengalami kontraksi.


"Ayo tuan, kita bawa ke rumah sakit." meski masih mengantuk, Galang benar-benar mempunyai rasa kepedulian yang tinggi untuk


nona mudanya.


"Ayo..!" jawab Elang dengan keadaan panik.


Mereka pun berangkat menuju rumah sakit milik Ziyan, di perjalanan Hafsa terus saja merintih di karenakan dorongan yang begitu kuat dari sang bayi.


"Sayang bertahanlah, Galang cepat!." teriak Elang kalut, benar-benar tidak tega melihat istrinya yang begitu kesakitan.


"Iya tuan aku akan lebih cepat lagi." ucap Galang berusaha tenang karena dirinya membawa empat nyawa yang harus dilindungi.


Mereka pun sampai di rumah sakit, dan langsung di sambut oleh para dokter dan suster di depan mobil mereka, karena sebelumnya Galang sudah memberi tahu pihak rumah sakit agar menyiapkan segala perlengkapan dalam menangani persalinan.


"Dokter istri saya."


"Iya tuan, serahkan pada kami." ucap dokter kandungan, mereka mengambil alih Hafsa dan ditidurkan nya di ranjang pasien.


*****


Elang ikut menemani Hafsa melahirkan, di dalam sana Hafsa sudah bersiap untuk melahirkan karena sudah masuk pembukaan ke 8.


Di bantu dokter dan perawat dan Elang yang setia menggenggam jemari Hafsa untuk memberi kekuatan.


"Ayo sayang kau wanita tangguh dan kuat, keluar kan jagoan kita." ucap Elang di telinga Hafsa.


Dengan keringat bercucuran, Hafsa tidak bisa menjawab hanya bisa mendengarkan dia berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan bayi mungil ini.


"Aa.... ee....!" Hafsa terus mengejan, kepalanya ikut terangkat ke depan.


"Ayo nyonya kepalanya sudah terlihat." ucap dokter yang menangani Hafsa dengan begitu semangat.


"Akhhhh.....!" sambil terus mengejan dan menahan rasa sakit yang tiada tara, Harsa bertaruh demi mengeluarkan sang buah hati.

__ADS_1


Elang yang melihatnya begitu tidak tega, air matanya luruh seketika dan ini pertama kalinya dia mengeluarkan air mata setelah kepergian ayahnya.


Dia berjanji dalam hati akan menyayangi dan menjaga istrinya dengan seluruh jiwa raganya.


Oek ... oek... oek ...


Dan akhirnya bayi laki-laki mungil itu pun telah lahir ke dunia dengan suara tangisnya yang kencang membuat Elang dan Hafsa tersenyum sangat bahagia.


"Tuan, nyonya selamat bayi nya laki-laki." ucap sang dokter memperlihatkan bayi nya yang belum dibersihkan lalu meletakkan nya di dada sang ibu.


Elang menangis bahagia dia terus menciumi kening istrinya bahkan seluruh wajahnya karena sudah berjuang demi melahirkan anaknya.


"Terimakasih sayang, terimakasih." ucap Elang tak hentinya mengucap rasa syukur.


Bayi dalam pelukan ibunya itu menggeliat dengan mata yang masih terpejam begitu lucu dan menggemaskan, mulutnya seakan mencari sesuatu untuk dia rasakan.


Untungnya asi Hafsa sudah bisa keluar dia pun memberikan asi pertamanya yang sangat bagus untuk si bayi.


Sedangkan di luar sana sudah ada ibu Sinta, Galang, Melati dan juga Rey yang di hubungi Galang dan langsung meluncur.


Mereka menunggu dengan gelisah apalagi Melati yang terus mondar mandir.


"Sayang, duduklah ingat kau juga sedang hamil muda." ucap Rey menegur Melati karena saat ini Melati tengah mengandung tiga bulan.


"Iya sayang duduklah, mereka pasti baik-baik saja." tegur Sinta menyentuh pundak Melati.


"Iya Tante maaf, aku hanya gelisah saja." jawab Melati pelan.


Tak lama kemudian terdengar lah suara tangis bayi yang membuat mereka tersenyum lega.


"Dia lahir, cucuku lahir." Sinta antusias senang langsung berpelukan dengan Melati.


Rey dan Galang bernafas lega mendengarnya.


*****


"Wah... cucuku sangat tampan." ucap Sinta menggendong bayi itu dengan begitu gemas di sampingnya Melati yang juga turut melihat.

__ADS_1


"Tentu saja Bu, sudah pasti dia tampan sepertiku." jawab Elang tersenyum bangga.


Mereka begitu senang dengan kehadiran bayi mungil itu menambah warna dalam kehidupan mereka.


__ADS_2