Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 43


__ADS_3

"Ayo, kau cerita duluan!" kata Melati pada Hafsa saat mereka sudah sampai disebuah taman dan ditaman itu hanya ada mereka berdua.


"Tidak ah! kau duluan saja" jawab Hafsa malu-malu.


"Kau kan yang biasanya paling semangat, ayolah aku tidak sabar." Melati menggoyang-goyang kan lengan Hafsa agar cepat bercerita.


"Iya iya sabar dong!" akhirnya Hafsa menyerah dan dia duluan yang berbicara tapi belum berbicara dia sudah senyum-senyum sendiri.


"Ey, kenapa malah senyum-senyum? bikin tambah penasaran aja sih!" Melati tidak sabar dan terus berceloteh.


"Iyaa, kau tau tadi aku dan tuan Elang..." Hafsa semakin tersenyum sambil memegangi bibirnya hal itu sudah membuat Melati mengerti maksudnya.


"Dari gerak gerikmu aku bisa menebak kau dan tuan muda pasti sudah ehem... ehem...!" kata Melati sambil tangannya memperagakan sepasang suami istri jika berduaan.


Tapi hal itu malah membuat Hafsa tidak mengerti.


"Apaan itu?" Hafsa jadi mengernyitkan alisnya tidak paham dengan maksud Melati.


"Hah... kau tidak mengerti ini." Melati mengulangi gerakan tangannya rupanya Hafsa tidak tau arti dari gerakan itu jadi apa maksud Hafsa senyum-senyum sambil pegang bibir.


Melati pun tepok jidat.

__ADS_1


"Ya ampun Hafsa aku kira kau tau artinya?".


"Memangnya kau berfikir sejauh mana tentang yang aku pikirkan."


"Ya... aku pikir kau sudah melakukan hubungan suami istri dengan tuan." Melati jadi menunduk lemas sebab apa yang dia pikirkan sepertinya tidak sama.


"Ya ampun Melati, kau sudah berfikir sejauh itu. Kau tau kan aku dan Elang hanya menikah kontrak dan diperjanjian itu tidak boleh ada kontak fisik apalagi sampai melakukan itu. Lagi pula aku tidak mau, tidak apa-apa aku jadi janda tapi masih perawan." tutur Hafsa panjang lebar menatap kedepan dengan penuh harapan.


"Terus... yang tadi maksudnya apa?" tanya Melati lesu.


Saat ditanya seperti itu lagi dia pun nyengir kuda pasalnya apa yang dia lakukan dengan Elang sama saja melanggar perjanjian tapi inikan sebuah ketidak sengajaan tidak apa-apa lah pikirnya.


"Emm... tadi itu ini sebuah ketidak sengajaan dan diluar undang-undang perjanjian. Elang menciumku." cicitnya dengan suara kecil diakhir.


Melati melebarkan matanya serius menatap Hafsa,


"Kau serius." ucap Melati dan Hafsa mengangguk.


"Aaaakkhh.... !!!" sejurus kemudian Melati berteriak membuat Hafsa terkesiap kaget.


"Melati apa-apa in sih! kenapa kau malah berteriak!" Hafsa segera membekap mulut Melati, takut terdengar yang lain dan jadi salah paham.

__ADS_1


"Kau berciuman dengan Elang, ciyee... bagaimana rasanya?. Enak!" kata Melati mengedipkan sebelah matanya menggoda Sahabatnya itu.


"Kau berbicara seperti itu, seperti sudah pernah saja." balas Hafsa menyenggol bahu Melati.


Melati hanya menyengir kuda dan menggeleng membuat Hafsa menoyor kepalanya.


"Dasar Melati...!"


"Memangnya aku salah yah!" Melati hanya mencebik sambil mengusap kepalanya.


"Eh! tapi serius aku tanya, karena aku belum pernah mangkanya aku tanya padamu bagaimana rasanya." Melati kembali memasang mode serius.


"Rasanya.... ah nanti kau juga merasakannya sendiri. Sudah sudah lallu bagaimana dengan ceritamu." Hafsa segera mengalihkan pembicaraan karena dia malu jika harus bercerita soal itu.


Melati yang tadinya lemas karena tidak mendapatkan jawaban jadi semangat kembali mengingat kejadian antara dirinya dan Rey.


"Kau tau Hafsa tuan Rey sangat berbeda kali ini dan itu membuatku sedikit ngeri." ucap Melati membayangkan kejadian tadi.


"Maksudmu apa yang berbeda?" tanya Hafsa tidak mengerti.


"Iya dia berbeda dia...

__ADS_1


__ADS_2