Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 70


__ADS_3

Satria memundurkan wajahnya, lalu dia menggelengkan kepalanya. Hafsa beringsut mundur dan duduk ditepian ranjang merasa bingung dengan tingkah Satria yang sekarang seperti orang tidak waras.


Tapi di balik itu Satria seperti menyembunyikan sesuatu yang tentu saja Hafsa tidak tau.


"Aaakkk" Satria berteriak kencang sambil menjambak rambutnya.


Karena Satria terus begitu membuat Hafsa merasa kasihan dengan mengumpulkan keberaniannya Hafsa bangun dan mendekati Satria dia takut kalau Satria menyakiti dirinya sendiri.


"Satria, kau kenapa? sudah jangan menyakiti dirimu sendiri." ucap Hafsa mencoba mengambil tangan Satria dari rambutnya.


Tapi Satria tidak mengindahkan dia terus berteriak. Hafsa menjadi bingung, apa yang harus dia lakukan.


"Satria, kau kenapa lihat aku Sat." Hafsa terus mencoba supaya Satria berhenti.


Kali ini Satria merespon dia berhenti lalu menatap Hafsa dengan tatapan sendu. Hafsa balas menatap dengan berlinang air mata.


Lalu tiba-tiba Satria memeluk Hafsa dengan erat.


"Maafkan aku, maafkan aku." hanya itu kata Satria yang diucapkan didekat telinga Hafsa dan hal itu tentu saja membuat Hafsa tambah bingung.


Karena tadi Satria seperti singa dan sekarang seperti kelinci sungguh berbanding terbalik.


Lalu tiba-tiba masuklah Dewi dengan tergesa-gesa dia panik karena mendengar Satria berteriak.


"Satria." panggil Dewi dengan panik.


"Tante Dewi." ucap Hafsa pelan.


Dipikirannya kenapa ada Tante Dewi juga apakah Tante Dewi juga yang menculiknya tapi atas dasar apa dan apa motifnya.


"Lepaskan." Dewi langsung melepas paksa pelukan Satria, kini wajahnya yang bijak dan baik berubah jadi wajah yang bengis dan tidak bersahabat.


"Apa yang kau lakukan pada anakku ******?". ucap Dewi dengan tuduhannya yang menyakitkan.


"Aku tidak melakukan apapun." Hafsa terkejut dengan kata-kata nya yang kasar.


"Bodoh, memangnya aku tidak tau kau telah melakukan sesuatu sampai Satria seperti ini." elaknya lagi dengan mata tajam.


"Tante, kenapa Tante kasar sekali? asal Tante tau anak Tante ini mau perkosa aku Tante dan anak Tante juga yang sudah culik aku." terang Hafsa dengan menggebu, bingung juga dengan keadaan sekitarnya.


"Hah, anakku menculikmu untuk apa kau jangan mimpi." Dewi terus membuat alibi semakin membuat Hafsa bingung.


"Cukup mah, lebih baik kita pergi." ucap Satria ditengah perdebatan itu.

__ADS_1


"Satria kau juga, kenapa kau bisa begini lemah sekali, dia ini hanya perempuan bodoh seharusnya tidak sulit untuk menaklukannya." kata Dewi sambil menunjuk Hafsa dengan sengit.


Hafsa mengernyit bingung dengan sikap Dewi yang sebenarnya, "Tante aku bingung sama Tante kenapa Tante beda sekali dengan waktu bertemu dengan ibu mertuaku? dan sekarang Tante seperti ini apa Tante bukan Tante Dewi? apa Tante punya kembaran yang kasar?" tanya Hafsa dengan beruntun kali ini tidak ada rasa takut atau cemas melainkan penasaran.


Dewi menatap tajam Hafsa tidak suka dengan pertanyaan itu tapi Hafsa malah semakin menatapnya semakin ingin tau.


"Kau tidak perlu bertanya seperti itu, asal kau tau didunia ini tidak ada manusia baik yang sempurna." ucap Dewi.


"Manusia baik yang sempurna ada kok Tante, yaitu ibu mertuaku ibu Sinta." kata Hafsa.


"Diam kau, jangan sebut nama itu didepanku." Dewi membentak Hafsa saat Hafsa menyebut nama Sinta.


Hafsa heran ada apa dengan ibu dan anak ini tadi Satria marah saat dirinya menyebut nama Elang sekarang ibunya juga sama marah saat dirinya menyebut nama Sinta. Apakah ada dendam diantara mereka?.


"Aku benci dengan nama itu. Aku tau kau pasti heran kan dengan semua ini. Kau tenang saja setelah nanti sesuatu yang aku mau tercapai maka kau akan mengetahui semuanya dan setelah itu kau gilirannya." ucap Dewi menatap Hafsa dengan bengis.


"Mamah, apa yang mamah bicarakan? dia tidak tau apa-apa mah jangan libatkan dia." kata Satria memberontak.


"Diam kau dasar anak payah! begitu saja tidak bisa." kata Dewi membentak Satria.


"Mah, sudahlah lebih baik kita keluar dulu aku ingin menjernihkan pikiranku dulu." ucap Satria karena tidak ingin melihat Hafsa terus bertanya-tanya.


Dewi tidak menjawab dia hanya melengos pergi.


"Tunggu." cegah Hafsa saat Satria dan Dewi ingin pergi.


"Jangan mimpi." jawab Dewi kasar kemudian langsung pergi.


"Bersabarlah." gumam Satria sambil tersenyum dan kata itu hanya Satria yang mendengarnya.


"Sebentar lagi pelayan akan kesini, kau tunggu lah disini." ucap Satria sebelum pergi.


Setelah kepergian mereka, Hafsa bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi antar keluarga mereka? tapi sayangnya dia tidak tau biarlah semua terjawab dengan sendirinya. Dan kali ini dia merindukan seseorang, seseorang yang selalu memerintah seenaknya dan selalu menjawab dingin, namun tatapan dan senyumannya yang selalu ia rindukan.


Ya dia merindukan suaminya Elang, apakah Elang tidak merasa kehilangan dirinya sehingga sampai saat ini dirinya belum di cari atau Elang tidak peduli padanya.


Hahh


Hafsa menghela nafas, lalu dia menuju jendela menerawang kan pikirannya yang terus memikirkan kehidupan masa depan nya.


Tidak mungkin Elang tidak kehilangan dirinya pasti sekarang dia sedang sibuk mencari dan dia pasti akan kecewa sekali jika ternyata yang menculiknya adalah sahabatnya sendiri.


"Kak Elang aku disini, apa kau tidak mencari ku? atau kau tidak peduli padaku ahh tidak mungkin kau tidak peduli padaku waktu aku pulang terlambat saja kau menghukumku apalagi ini aku diculik." celoteh Hafsa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Lalu pandangannya tiba-tiba terarah pada seseorang, samar-samar dia mengenali seseorang itu.


"Itu bukannya Melati, benarkan." ucap Hafsa yang ternyata seseorang itu yang ia kenali Melati.


"Dengan siapa dia? kenapa juga bisa ada disini?" ucapnya lagi karena Melati berjalan dibelakang seorang pria.


"Melatiii...!" panggilnya sambil berteriak, tapi sayangnya tidak terdengar karena jauh, dan juga kamar itu kedap suara Melati pun tak bergeming sedikitpun.


"Mel aku Hafsa Melati." meski terus-menerus dipanggil Melati tetap saja berjalan hingga menghilang.


"Hah, Melati tidak mendengarku. Apa aku dan Melati sama-sama diculik karena pria yang didepan seperti orang yang menculikku." kata Hafsa karena sebelum dia pingsan dia sempat melihat perawakan penculik itu.


"Aku harus bisa keluar dari sini, sepertinya tujuan Tante Dewi hanya pada Ibu Sinta, aku harus menolongnya." monolognya berfikir keras sambil mondar mandir.


"Hah tapi bagaimana?" Hafsa mengacak sendiri rambutnya karena merasa bodoh.


Tiba-tiba perutnya lapar.


"Hah ternyata perutku minta diisi dulu."


Saat dia berjalan menuju pintu dan ingin membukanya ternyata di kunci.


"Ya ampun kenapa juga pintunya harus dikunci? apakah mereka benar-benar takut jika aku kabur. Ya Allah tolong aku."


ceklek


suara pintu terbuka dari luar ternyata pelayan yang diperintahkan Satria masuk dengan membawa pakaian ganti juga makanan.


"Nona ini pakaian dan makanan untuk nona. Silahkan nona."


"Ah terimakasih kebetulan sekali aku lapar." ucapnya langsung mengambil makanannya dan duduk dikursi.


Lebih baik dia makan dulu barulah berfikir kembali.


_____________


Assalamualaikum readers...


Maaf othor baru up soalnya othor baru sembuh dari sakit kemarin2 dan alhamduliah othor sudah sehat dan bisa menulis lagi.


Maaf yah yang udah kecewa sama othor tapi othor ga marah kok karena memang ini sering terjadi tapi othor akan seneng banget jika kalian masih setia sama cerita othor ini.


Makasih banyak-banyak buat reader yang setia.

__ADS_1


Salam sayang


Author Titiawy


__ADS_2