
"Halo sayang, bisakah kau kekamarku sekarang."
Tiba-tiba Hafsa melebarkan matanya jadi segar saat mendengar kata dari tuan mudanya bahkan dia sampai memukul pipinya sendiri karena dikira dirinya sedang bermimpi.
"Aku mimpikah tapi kenapa rasanya seperti nyata" ucapnya pelan namun tetap terdengar oleh Elang.
"Sayang, cepat kesini aku menunggumu!" suara Elang terdengar lagi tapi dengan nada menekan mampu membuat Hafsa tersadar.
"Ah iya aku segera kesana." ucap Hafsa langsung mematikan interkomnya padahal Elang belum selesai bicara membuat Elang menahan geram.
"Lihat dia akan datang sebentar lagi. Kau tunggu saja!" kata Elang pada Diana setelah menaruh interkomnya.
Diana tidak menjawab dia hanya tersenyum dingin ingin membuktikan apakah Elang benar atau tidak.
Tok tok tok
Tak lama setelah itu pintu terketuk dia adalah Hafsa yang datang dengan wajah penuh kebingungan.
"Masuk sayang.!" kata Elang dengan suara lembut.
Hafsa perlahan membuka pintu dan masuk dengan ragu dan alangkah terkejutnya saat dia melihat pemandangan yang membuat otak polosnya berfikir.
Bagaimana tidak Elang yang hanya memakai celana bokser dan menampilkan bagian atasnya yang berotot sedang bersama wanita cantik dan seksi disampingnya dan Elang malah memanggil dirinya dengan sebutan sayang. Apa maksudnya?
Diana tersenyum mengejek saat melihat gadis yang dimaksud Elang, sungguh tidak ada apa-apa nya dengannya sangat beda jauh dia merasa pengasuh itu tidak menjadi saingannya.
"Jadi ini wanita muslim sekarang." ucap Diana mendekati Hafsa kemudian memutarinya.
"Hem... aku tidak menyangka seleramu begitu turun rendah sekali. Apa kau sudah kehabisan seorang wanita hingga wanita seperti ini kau pilih." kata Diana sambil menyentuh baju Hafsa dengan jijik.
Hafsa yang tidak mengerti segera menimpali, "Maaf nona kenapa nona berkata seperti itu? apa nona punya masalah denganku? dan kenal denganku." ucap Hafsa asal saja tapi itu mampu membuat Diana melotot karena seorang pelayan berani berkata seperti itu padanya.
Elang pun tersenyum tipis, "Sayang kemarilah aku ingin berbicara denganmu." ucap Elang tapi Hafsa tidak mengerti.
"Aku tuan!". ucap Hafsa menunjuk dirinya.
"Siapa lagi jika bukan kau, sini duduk di sampingku."
__ADS_1
Hafsa kemudian mendekat ragu dan setelah dekat Elang langsung menarik tangannya dan Hafsa jatuh kepelukannya, tangan Elang melingkarinya dengan erat membuat Hafsa benar-benar terkejut dan canggung.
"Menurutlah padaku dan berpura-pura menjadi kekasihku." bisik Elang ditelinga Hafsa membuat Hafsa menegak sempurna karena setelah itu Elang menggigit telinganya dengan lembut.
"Sayang, aku ingin mengenalkanmu dengan wanita itu, dia tidak percaya jika aku sudah memilikimu dan kita akan segera menikah." kata Elang lembut masih memeluk erat Hafsa.
Hafsa benar-benar tidak percaya dengan yang terjadi malam ini bahkan dia sampai melongo beberapa detik setelah itu menjawab perkataan Elang.
"Eh iya, jadi siapa wanita itu? kenapa dia ada dikamarmu." tanya Hafsa ikut berakting meski dia masih merasa canggung karena sedekat ini dengan Elang.
"Kau tidak perlu tau siapa wanita itu, yang pasti dia kini tidak penting dan tamu tidak diundang.
Mungkin dia ingin menggodaku maka dari itu aku memanggilmu." kata Elang tersenyum manis pada Hafsa.
Hafsa hampir pingsan melihatnya karena diberi senyuman oleh Elang jantungnya jadi berdegup dengan cepat karena dia tidak pernah seperti ini sebelumnya terhadap pria.
Diana mencebikkan bibirnya kesal, dia menghentak-hentakkan kakinya lalu memutuskan akan pergi tapi sebelum itu pintu sudah terbuka kembali ternyata nyonya Sinta sudah sampai dan langsung memasuki kamar Elang.
Nyonya Sinta terkejut dengan apa yang dilihatnya, Hafsa juga terkejut tapi dia bingung ingin berbuat apa Elang juga tidak melepaskan dirinya padahal ibunya datang. Nyonya Sinta terlihat marah, dia marah ternyata ada wanita yang sering menyakiti anaknya.
"Kau untuk apa kau kesini?" tanya nya dengan penuh emosi namun terlihat tenang.
Tapi nyonya Sinta tidak terpengaruh dari dulu pun dia tidak terpengaruh karena dirinya sama sekali tidak menyukai Diana.
"Tidak perlu sok lembut dan sopan kepadaku, aku muak melihatmu." lanjut nyonya Sinta tanpa melihat Diana, dia malah terfokus melihat anaknya yang memeluk erat pengasuhnya.
Seketika otaknya langsung bekerja dan langsung menangkap sesuatu yang direncanakan oleh anaknya.
"Kau sudah melihat kan, anakku sedang bersama kekasihnya jadi untuk apa kau mengganggu mereka." ucapnya dengan menunjuk Elang dan Hafsa.
Tentu saja Hafsa tambah terkejut dengan pernyataan nyonya Sinta yang sama dengan anaknya. Apakah mereka bekerja sama? begitulah pikirnya.
"Ibu, kau sudah pulang. Kapan kau pulang?" tanya Elang barulah Elang melepaskan pelukannya membuat Hafsa bernafas lega.
"Iya nak, ibu baru pulang dan ingin melihat kalian berdua. Bagaimana keadaan kalian setelah ibu tinggal?" ucap nyonya Sinta berjalan mendekati mereka berdua.
Hafsa segera bangkit saat nyonya Sinta mendekat tapi nyonya Sinta menahannya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kau disini saja!" ucap nyonya Sinta tersenyum Hafsa pun kembali duduk.
"Ibu dengar kalian akan menikah, apakah itu benar." tanya nyonya Sinta semangat.
Hafsa tergugup bagaimana dia menjawabnya?.
"Benar Bu, aku akan menikah dengannya." Elang yang menjawab dengan yakin.
Diana yang merasa tersisih dan tidak dipedulikan pun jadi geram sendiri dan dia berjanji dalam hati tidak akan membuat mereka bahagia diatas penderitaannya.
"Maaf, aku mengganggu aku pergi." ucapnya langsung pergi dengan kesal.
Dan mereka bertiga hanya menatap tak peduli kemudian kembali fokus pada permasalahannya.
"Maaf, aku juga permisi." Hafsa juga ingin pergi karena dirinya merasa canggung.
"Kau disini saja, untuk apa pergi." kata nyonya Sinta menahan.
"Sudah Bu, biarkan dia pergi karena wanita itu juga sudah pergi." sambut Elang merasa dramanya sudah selesai tapi tidak dengan nyonya Sinta dia malah berfikir ini adalah kesempatan bagus.
"Hey, kau kira Hafsa ini gadis apa, seenaknya saja kau menyuruhnya pergi setelah kau memanfaatkannya." nyonya Sinta berhenti sejenak.
"Ibu ingin kalian tetap melanjutkan sandiwara ini, kau dan Hafsa harus menikah." telaknya yakin membuat Hafsa dan Elang terkejut seketika dan membulatkan matanya.
"Ibu, kenapa begini? aku hanya ingin mengelabuinya saja supaya dia tidak menggangguku." protes Elang karena ini tidak seperti yang dipikirkannya.
"Elang, apa kau pikir wanita itu akan percaya dan tidak berhenti mengganggumu? hanya dengan melihat adegan kalian seperti ini saja. Pikirkan Elang dia pasti akan mencari tau kebenaranya. Maka dari itu kau memang harus menikahi dia." ucap nyonya Sinta panjang lebar.
Elang nampak berfikir, ucapan ibunya ada benarnya juga dan masuk akal bagaimanapun juga dia tau sifat Diana seperti apa karena dirinya sudah bersama wanita itu selama 4 tahun.
Sedangkan Hafsa kepalanya serasa berputar mendapati kenyataan tak terduga dalam hidupnya bahkan dia tak mampu berkata-kata karena disuruh menikah dengan tuan mudanya sendiri.
Tiba-tiba Hafsa pun ambruk disamping Elang membuat Elang reflek menangkapnya.
Nyonya Sinta terkejut, "Ya ampun dia sampai pingsan. Elang biarkan dia tidur disini." ucapnya kemudian.
Elang mengerutkan alisnya mendengar perintah ibunya, "Ibu yang benar saja, dia ini hanya pengasuhku kenapa harus tidur disini?" protes Elang.
__ADS_1
"Hey, sudah sebentar lagi dia akan berganti status menjadi istrimu jadi biarkan dia disini. Lagi pula semua sudah tidur dan jangan sekali-kali mengganggu pelayan lain hanya untuk memindahkannya. Mengerti." kata Nyonya tersenyum penuh arti meninggalkan Elang yang pasrah.
Mau tak mau karena Elang tidak bisa memindahkannya disofa terpaksa dia memindahkan Hafsa disampingnya dan memejamkan matanya.