Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 102


__ADS_3

"Apa kau masih tidak mengerti? apa kau bodoh? haruskah aku mengulangi kata-kata ku lagi." kata Elang tersenyum.


"Tapi kau mau denganku selamanya, kenapa?" tanya Hafsa karena untuk apa bersama selamanya jika tidak ada rasa cinta sama sekali.


"Kenapa kau bertanya?, tentu saja aku mau."


"Tapi kenapa? bukannya kau tidak men..." Hafsa tidak melanjutkan ucapannya karena Elang telah meletakkan jari telunjuknya di bibir Hafsa.


"Apa kau ingin aku mengatakan sesuatu untukmu tentang cinta." ucap Elang dengan wajah yang sangat dekat.


Hafsa hanya mengangguk dia sangat terpesona dengan ketampanan wajah suaminya.


"Apa kau mencintaiku?" Elang malah bertanya pada Hafsa yang sudah pasti tau jawabannya.


"Iya, aku mencintaimu dan kau?"


"Aku juga... " Elang malah menjeda ucapannya dan membuat Hafsa penasaran.


"Kau tidak sabar sekali."


Hafsa mendesah merasa kesal karena Elang malah mengerjainya.


Elang terkekeh kemudian dia berdiri membuat Hafsa bingung. Lalu Elang mengatur nafasnya.


"Baiklah, untuk semua orang yang ada disini mohon dengarkan aku baik-baik." ucap Elang dengan lantang sehingga perhatian seluruh orang jadi teralihkan pada mereka berdua.


"Aku Elang Rahardian dan ini pertama kalinya aku mengutarakan perasaan pada seorang wanita yang tidak cantik namun sangat manis dia juga lucu dan sangat peduli. Entah kapan rasa itu muncul yang pasti perasaan itu tumbuh dengan sangat kuat terus tumbuh hingga aku menyadari bahwa perasaan ini benar-benar ada." ucap Elang menjeda kalimatnya.

__ADS_1


Banyak orang yang terhipnotis akan kata-kata Elang yang menurut mereka sangat indah dan romantis, apalagi Hafsa begitu terhanyut dengan ucapan Elang sehingga dia hanya bisa menatap Elang sambil tersenyum.


"Dan wanita yang beruntung itu adalah Hafsa Aulia, aku sangat mencintainya. Aku mohon tetaplah bersamaku dan menjadi ibu dari anak-anakku." lanjut Elang menatap Hafsa dengan penuh cinta yang mana mendapat tepuk tangan dan sorakan dari para penonton.


Ada yang mengenal nama Elang Rahardian mereka tak ingin menyia-nyiakan momen ini dengan mengabadikannya melalui ponsel memvidio mereka dari awal sampai akhir.


Sudah seperti dalam drama saja, ada rasa bahagia namun juga malu karena tidak menyangka bahwa Elang akan mengutarakan perasaan nya di depan umum.


"Bagaimana apa kau mau menjadi ibu dari anak-anakku?" tanya Elang sambil mengulurkan tangannya.


"Eh... i- iya." Hafsa gugup menjawab menerima uluran tangan suaminya.


Yey.... begitulah sorakan dari penonton.


Elang tersenyum kemudian menyuruh Hafsa berdiri, berjalan perlahan mendekati pria yang memvidio mereka.


"Datanglah ke kantor ku besok dan berikan rekaman video itu jangan sampai ada yang terlewat." ucap Elang dingin dan datar memberikan kartu namanya pada pria itu.


*****


Hafsa dan Elang memutuskan untuk pulang, dalam mobil Hafsa tak henti-hentinya terus tersenyum hatinya berbunga-bunga dan setiap kali mata nya berpandangan dengan mata Elang maka dia akan tersipu malu membuat Elang menjadi gemas dan tak sabar ingin cepat sampai rumah dan menerkamnya.


"Kau jangan terus tersenyum seperti itu Hafsa." ucap Elang dengan suara paraunya.


"Kenapa? aku kan lagi senang." jawab Hafsa tersenyum lagi.


"Tunggu aku di rumah, aku akan menghabisi bibirmu." kata Elang menahan hasratnya.

__ADS_1


Hah Hafsa segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya terkejut dengan ucapan Elang.


"Kau ini memangnya aku penjahat di habisi." ujar Hafsa pelan.


"Kau memang penjahat hatiku, jadi kau harus dihabisi dan hanya aku yang boleh menghabisi mu." jawab Elang datar.


Hafsa hanya mengernyit tak meladeni lagi, lalu dia melihat jalanan seperti berbeda dari yang biasanya, jalan malam itu bukan menuju rumah besar Elang jalan itu terlihat sepi hanya ada beberapa saja yang lewat.


"Kak Elang sepertinya kau salah jalan." ucap Hafsa memberi tahu.


"Kita akan pulang ke rumah kita."


"Ke rumah kita."


"Ya, aku sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari. Dan kita akan tinggal di sana bersama anak-anak kita."


"Tapi kak rumah yang di sana juga besar dan lagi kasian ibu hanya sendiri di sana." pikir Hafsa karena memang di sana keluarga utama hanya ada nyonya Sinta dan Elang tapi jumlah pekerjanya yang banyak.


"Kita bisa pulang kesana tapi untuk malam ini aku tidak ingin di ganggu." ucap Elang telak dan Hafsa hanya menurut.


Maka sampailah mereka di rumah baru Elang, pintu pagar terbuka secara otomatis dan itu berlaku hanya untuk pemilik rumah.


Elang memarkirkan mobilnya di teras rumah.


"Ayo ikut aku." ajak Elang, Hafsa mengangguk.


Saat turun dari mobil pandangan Hafsa beredar melihat rumah yang tidak terlalu besar namun sangat indah dan ada taman serta air mancur didalamnya.

__ADS_1


Hafsa dan Elang kemudian memasuki rumah itu sangat segar, luas dan nyaman didalamnya sudah ada semua barang-barang rumahan lengkap sekali jadi Hafsa tidak perlu memikirkannya lagi.


"Dimana kamar kita kak?" tanya Hafsa.


__ADS_2