
Di saat Elang sedang membayangkan hal itu tiba-tiba ponselnya berdering segera dia mengangkatnya.
"Tuan muda." ternyata Rey yang menelpon diseberang sana.
"Ya ada apa Rey?" tanya Elang.
"Tuan, aku sudah berhasil menemukan pendonor mata yang cocok untuk tuan." ucap Rey senang.
Elang senang mendengarnya sampai menegakkan duduknya, "Benarkah itu Rey."
"Benar tuan, aku sudah mengonfirmasi dengan dokter Ziyan dan akan bertemu dengannya untuk membicarakan hal ini." terang Rey.
"Terimakasih Rey, kau memang bisa diandalkan." puji Elang.
"Sama-sama tuan, jika aku sudah bertemu dengan dokter Ziyan maka aku akan mengabarimu tuan."
"Baik Rey segera kabari aku." telfon pun ditutup.
Elang semakin tersenyum kini ucapannya menjadi doa, dia terus memandangi arah suara istri kecilnya yang masih mengobrol dengan para ibu-ibu.
*****
Dilain sisi seorang pria sedang duduk sambil meminum whine nya secara perlahan. ruangan yang redup karena semua gorden jendela di tutup hanya menyisakan sedikit cahaya yang masuk kedalam ruangan melalui fentilasi udara.
Pria itu terus meminum minuman haram itu tapi tidak menjadikannya mabuk mungkin karena sudah terbiasa dengan pikiran yang tak menentu.
__ADS_1
Hanya satu yang ada dipikirannya yaitu seorang gadis yang berhasil menarik perhatiannya namun telah menjadi milik orang lain.
Dia tidak mengerti ada apa dengan dirinya, biasanya dia tidak akan memusingkan hal ini jika gadis itu sudah milik orang lain maka dia tidak jadi masalah meski dia menyukainya namun kali ini berbeda.
Ada perasaan yang tidak bisa diubah dan ditolenrasi, kini dia merasakan bagaimana rasanya ingin memiliki dan menjadikannya miliknya seorang.
Apakah dia benar jatuh cinta atau hanya obsesi semata, dia jadi tidak habis pikir kenapa gadis itu terus menghantui pikirannya.
"Aku harus memilikimu, bagaimanapun caranya kau harus menjadi milikku." gumamnya tersenyum miring.
tok tok tok
Terdengarlah suara pintu diketuk.
"Tuan, ini yang kau minta." ucap pengawal itu sambil memberikan ponsel karena sesuatu itu ada pada ponselnya.
Pria itu berbalik dan menampakan wajah yang tidak asing dialah Satria dengan senyum dinginnya dia berucap.
"Kemarikan."
"Ini tuan." pengawal itu memberikan ponsel itu dan Satria menerimanya.
Satria menonton video berdurasi pendek itu dengan senyum miringnya yang menakutkan dia melempar ponsel itu begitu saja setelah selesai menonton.
"Bagus, bawa mereka kesini dan buat kesepakatan." titahnya dingin.
__ADS_1
"Baik tuan." setelah itu pengawal itu pergi.
Satria tersenyum miring dan bahkan tertawa, "Dia milikku Elang, bukan milikmu dan kali ini aku tidak akan mengalah." ucapnya.
Karena dulu Satria juga menyukai Diana namun Diana lebih memilih Elang karena Elang lebih segalanya dari dirinya dan dia merelakan, Satria juga tidak memiliki perasaan lebih untuk Diana namun untuk Hafsa berbeda, Satria seperti menemukan hidupnya.
Dia juga mengetahui bahwa Hafsa dan Elang membuat kesepakatan menikah kontrak saja dan juga mereka tidak saling mencintai jadi menurut Satria itu akan lebih mudah untuk merebut Hafsa dari Elang.
Tapi siapa sangka hati tidak ada yang tau kapan kita akan jatuh cinta seperti juga yang dialami Elang dan Hafsa mungkin saja seiring waktu berjalan terdapat benih-benih cinta yang tumbuh diantara mereka.
*****
"Jadi bagaimana?" tanya Elang pada Ziyan.
"Dari hasil pemeriksaan ku 95% cocok untukmu dan kau bisa langsung melakukan operasi." papar Ziyan.
Mereka sedang berada dirumah sakit terbesar milik orang tua Ziyan namun dikelola langsung oleh Ziyan.
Rey sudah menemukan pendonor mata yang cocok untuk Elang maka dari itu dia langsung saja mengonfirmasi nya dengan Ziyan.
"Tentukan saja kapan waktu nya untuk aku operasi." kata Elang seperti tidak sabar.
Ziyan tersenyum, "Baiklah akan aku urus semuanya, kupastikan secepatnya."
"Aku percaya padamu." kata Elang.
__ADS_1