
"Elang, kamu tau nak! mamah ini sudah tua mamah ingin sekali menimang cucu." ucap nyonya Sinta memelas sambil duduk dikursi sofa samping meja kerja Elang.
Hafsa ikut duduk disamping mertuanya saat mertuanya duduk.
"Mah, kata siapa mamah sudah tua, mamah itu masih muda cantik lagi dan mamah juga masih bisa menikah lagi." kata Hafsa asal membuat nyonya Sinta dan Elang mengerutkan kening dan terdiam.
"Kenapa? memang benar kan." kata Hafsa heran melihat keduanya.
"Apa mamah mau menikah lagi?" tanya Elang.
"Tidak.untuk apa?" jawab ibunya singkat.
"Untuk mengusir rasa kesepian mamah sekaligus membuat adik untukku." ucap Elang begitu saja membuat Hafsa menahan senyumnya.
"Mempunyai adik lagi, memangnya kau tidak malu di usiamu yang sudah tua ini punya adik kecil." balas nyonya Sinta kesal, ingin punya cucu malah disuruh menikah lagi dan buat adik memangnya mudah apa
Hafsa kini bukan menahan senyum tapi sudah menahan tawa melihat perdebatan ibu dan anak itu.
"Apa? aku tua." ulang Elang tidak terima.
"Ya kau memang sudah tua, sudah seharusnya kau memberikan cucu pada ibumu ini." lanjut nyonya Sinta dengan senyum sinis tapi masih tetap kalem.
"Sudahlah mah, aku malas berdebat dengan mamah. Jadi ada apa mamah kesini.?" Elang lebih memilih mengalah jika berdebat dengan ibunya karena meski kalem ibunya itu jika berdebat akan terus maju.
"Baiklah, mamah juga cape baru sampai sudah harus berdebat denganmu. Mamah kesini ya ingin memberitahukan bahwa urusan mamah selesai dan mamah pulang." katanya dengan tersenyum.
"Hanya itu." kata Elang, dahinya ikut berkerut.
"Ya, dan siap-siap lah malam ini kita makan malam istimewa." jawab nyonya Sinta tak peduli ekpresi wajah anaknya yang terlihat kesal.
"Ya sudah mamah ke kamar dulu yah mau istirahat. Kalian silahkan lanjutkan yang tertunda tadi." Nyonya Sinta beranjak dari sofa sambil tersenyum jahil pada Hafsa dan Hafsa hanya membalas dengan cengiran saja sedang Elang tidak menjawab dia nampak kembali fokus pada laptopnya.
"Mengganggu saja, kenapa Rey tidak memberitahuku?." gerutu Elang saat ibunya sudah pergi.
Hafsa yang mendengar gerutuan itu segera berucap.
"Tadi aku juga ingin memberitahumu soal itu, tapi kau malah menundanya." ucap Hafsa pelan sambil menunduk takut salah bicara.
Elang bereaksi mendengar Hafsa berbicara, "Jadi ini salahku."
'Tentu saja salahmu, kenapa malah masih nanya.' jawab Hafsa dalam hati.
"Em.. bagaimana ya tuan? tuan kan yang mengulur-ulur jadi aku tidak sempat bicara sampai mamah datang."
__ADS_1
"Em... baiklah aku akui ini memang salahku, lalu apa aku mendapat hukuman." kata Elang membuat Hafsa bingung.
"Hukuman, maksud tuan. Tuan mau aku hukum."
"Ya dalam hitungan tiga detik kau harus mengucapkan apa hukumanmu jika terlambat maka kau yang akan aku hukum." ucap Elang tiba-tiba, mulutnya sambil menyeringai.
Hah
"Satu dua tiga. Selesai."
Karena louding Hafsa jadi terlambat mencerna ucapan Elang.
"Jadi kau yang di hukum." kata Elang
"Kenapa jadi aku yang dihukum? bukannya tuan sendiri yang bilang tuan yang minta dihukum olehku."
"Kau tidak mendengar apa yang aku katakan."
"Aku mendengar, tapi... apa kau ingin mengerjai ku? kalau begitu aku tidak mau dihukum." Hafsa kesal karena menurutnya Elang hanya ingin mengerjainya dan dia berniat pergi.
"Kau mau kemana?" tanya Elang langsung saat mendengar derap langkah yang berlawanan arah.
"Aku ingin pergi saja dari sini."
"Aku tidak peduli." langsung saja Hafsa pergi tanpa melihat wajah Elang yang kesal.
"Jadi kau tidak peduli, baiklah akan kubuat kau jadi menyesal akan ketidak pedulian mu." gumam Elang mendapat ide untuk menggoda istri kecilnya itu.
*****
"Melati, kau masak apa?" sapa Hafsa pada Melati yang sedang sibuk memasak.
"Eh kau, aku sedang masak makanan yang pa...ling enak nyonya, tuan, kau dan yang lain dijamin pasti suka." jawab Melati menoleh sebentar pada temannya itu lalu fokus kembali pada masakannya.
"Memangnya kau masak apa? hem... dari bau nya sih sepertinya enak." kata Hafsa sambil menghirup aroma masakan Melati.
"Aku masak rendang makanan khas Padang." jawab Melati.
"Wah enak nih! kalo ada rendang berarti harus ada sambel ijo dan daun singkong nya dong." tambah Hafsa sudah menahan air liurnya.
"Itu pasti jangan sampai ketinggalan." ucap Melati.
"Wah kamu ini memang pinter masak yah! aku yakin tuan Rey pasti makin terpesona deh." kata Hafsa memuji sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
"Sudah pasti, Abang Rey pasti akan terpesona sama aku." balas Melati sanagt yakin.
Tiba-tiba datanglah bi Rum bersama Rahma dan Sesil.
"Nona, sedang apa nona disini?" tanya bi Rum melihat nona nya malah ada didapur.
"Aku sedang melihat Melati memasak bi."
"Nona seharusnya nona bersama tuan muda bukan disini, tuan muda pasti membutuhkan nona."
"Eh.. aku justru kesini mau mengambil (gugup karena ingin beralasan) mengambil buah iya buah bi, tuan muda mau buah." jawab Hafsa sambil mengambil buah didepannya dan melenggang pergi sambil tersenyum kikuk.
Melati hanya menahan tawa dengan tingkah sahabatnya namun kembali masam saat melihat Sesil dan Rahma.
"Mah, kita disini sebagai keluarga dari si Hafsa atau pelayan mah. Kenapa dia main pergi begitu aja mana bajunya bagus lagi." gerutu Sesil melihat tingkah Hafsa yang mengabaikannya.
"Sudah tidak apa-apa! biarkan dia bersenang-senang kali ini lalu nanti kita buat dia menangis tiada henti." jawab Rahma berbisik.
"Rahma, Sesil." panggil Bi rum.
"Iya bi." jawab keduanya serempak.
"Karena kedatangan kalian bertepatan dengan kedatangan nyonya besar jadi maaf tidak ada waktu untuk beristirahat, kalian harus membantu pelayan lain untuk mengerjakan tugas mereka. Kalian mengerti." ucap Bi Rum tegas.
"Mengerti." jawab keduanya singkat, meski Sesil ada rasa malas.
"Sekarang kalian bantu pekerja lain menata dan membersihkan ruangan meja makan."
"Tina." panggil Bi rum pada pelayan lain.
"Saya bi rum." pelayan itu mendekati dan menyahut.
"Tolong bantu mereka dan berikan alat kebersihan pada mereka." perintah bi rum.
"Baik bi rum. Ayo ikuti saya." kata Tina ramah menyuruh Rahma dan Sesil.
Bi rum mengangguk menyuruh keduanya pergi.
Sesil hanya menggerutu mendapat perintah ini dirinya benar-benar seperti pembantu yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
Selang kepergian bi Rum Melati tertawa lebar karena melihat tingkah Sesil yang kesal.
"Rasain, kau kira dengan menyebut nama Hafsa kau bisa menjadi tuan rumah disini, enak saja." kata Melati sambil tertawa.
__ADS_1