Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 9


__ADS_3

"Lihat itu...!" ucap Rey menunjukkan sesuatu dilayar televisi diruangan Elang.


Nina melihatnya dan seketika dia langsung gemetar takut dimana dilayar itu memperlihatkan dirinya yang sedang memoles bedak dan dibawahnya terdapat puding itu.


"Apa ini kurang jelas untukmu?" kata Elang tajam.


"Eh tapi tuan.!"


"Pergi kau dari sini, sekarang juga kau kupecat.!" tanpa perasaan Elang langsung saja memecat Nina. Elang juga sebenarnya dari awal tidak menyukai Nina yang menurutnya Nina sama seperti perempuan penggoda lainnya.


"Tuan..!"


"Keluar.!" ucap Elang dengan nada membentak yang menakutkan membuat Nina berjingkat kaget.


"Baik tuan.." Nina bahkan sampai menangis. impiannya pupus sudah untuk mendekati tuan muda Elang dan menjadi nona disini karena itu termasuk impiannya saat memasuki mansion mewah ini.


"Aku tidak butuh pelayan lagi cukup mereka berdua saja." ucap Elang yang dimaksud dua adalah Hafsa dan Melati.


"Baik tuan.!" balas Rey datar.


"Panggilkan pengasuhku dan bawakan puding baru untukku." titahnya pada Rey.


"Baik tuan.".


Rey segera menjalankan perintah dari tuan Mudanya melalui interkom yang cepat tersambung ke kepala pelayan juga memberi tahu tentang Nina dan kepala pelayan langsung mengangguk.


Diluar Nina yang datang dengan tangisan berlari menuju tempat tidurnya membuat Hafsa dan Melati heran dan menegurnya.


"Nina kau kenapa?" tanya Hafsa baik-baik.


"Kau senang bukan, hah kau puas sekarang melihatku begini." bentak Nina pada Hafsa yang jadi terkejut.


"Hey, kenapa jawabanmu ketus sekali? dia kan bertanya baik-baik, kenapa tidak dijawab baik-baik juga." balas Melati yang kesal karena Hafsa dibentak.


"Hah kalian berdua sama saja kalian iri kan denganku karena tidak bisa menjadi seperti diriku. Jawab." Hafsa dan Melati mengerutkan alisnya tidak mengerti dengan arah pembicaraan Nina yang ngelantur.


"Aneh sekali dia ditanya apa jawabnya apa." ucap Melati berbisik pada Hafsa.


"Iya aku juga bingung, apa dia kehabisan obat yah jadi tidak waras begitu." balas Hafsa ikut berbisik juga.


"Heh apa kalian bisik-bisik?" bentak Nina membuat Hafsa dan Melati kembali terlonjak.


"Nina, cepat kemasi barangmu dan pergi dari sini. Kau sudah tidak dibutuhkan lagi disini?" ucap kepala pelayan tiba-tiba datang dari arah belakang Nina.

__ADS_1


Tentu saja membuat Hafsa dan Melati terkejut dengan pernyataannya.


"Jadi... kau dipecat.!" kata Melati pada Nina.


Nina tak menjawab hanya sorot matanya yang terlihat menakutkan membuat Melati tak jadi menatap.


"Iya dia dipecat." jawaban singkat dari Bi Rum sudah meyakinkan mereka dan mereka berdua hanya ber oh ria.


"Nina cepat tunggu apa lagi kemasi barangmu dan pergi dari sini, pesangonmu akan segera ditransfer." kata Bi rum dan Nina melengos pergi tanpa menjawab apalagi melihat membuat bi Rum geleng-geleng kepala.


"Hafsa...!" panggil bi Rum.


"Bawakan puding lagi pada tuan Muda dia ingin yang baru dan kau yang harus mengantarnya tidak boleh orang lain. Mengerti." ucapnya tegas dalam memberi perintah.


"Baik bi, akan segera dilakukan." jawab Hafsa ramah.


"Cepat tuan muda tidak suka menunggu." kemudian bi Rum pergi meninggalkan mereka berdua membuat keduanya menghela nafas lega.


"Ya ampun jantungku hampir copot hanya dengan melihat perawakan bi Rum saja." kata Melati mengelus dadanya.


"Iya benar sepertinya dia sudah terlatih." jawab Hafsa.


"Eh sudah mana pudingnya cepat nanti setelah ini malah aku lagi yang dipecat seram sekali." ujar Hafsa bergidik.


"Terimakasih kau memang hebat." puji Hafsa pada Melati sambil membawa puding baru.


Melati hanya mengacungkan jempolnya kemudian kembali berkutat dengan dapur.


Hafsa membawa puding itu sampai lantai atas tapi dia malah kebingungan sendiri dimana letak ruang kerja tuan muda. Aduh dia lupa menanyakannya tadi.


Tapi kebetulan ada pelayan yang lewat sehingga membuatnya bernafas lega.


"Hey, maaf aku mau bertanya dimana ruang kerja tuan muda Elang." tanyanya sopan pada pelayan itu.


"Didepanmu." jawabnya singkat.


"Didepanku, mana?"


"Itu..." tunjuknya pada pintu yang benar didepan Hafsa kemudian langsung pergi begitu saja karena peraturan disini tidak boleh berkomunikasi lebih dari 1 menit saat sedang bekerja atau kalian akan dipecat.


"Owalah didepanku sendiri ya ampun. Eh mana orang itu cepat sekali menghilangnya." kata Hafsa saat berbalik pelayan itu sudah tidak ada.


Diapun mengangkat bahu acuh kemudian mendekati pintu ruang kerja tuan Muda dengan hati yang berdebar keras bukan karena jatuh cinta melainkan takut melakukan kesalahan dan dipecat seperti Nina.

__ADS_1


Tok tok tok.


"Tuan, ini saya bawakan puding lagi." ucapnya setengah meninggi agar terdengar sampai kedalam.


Tentu saja terdengar dan diketahui lalu Rey membuka pintunya.


"Suruh masuk Rey!" kata Elang kini Rey tidak terkejut lagi hanya merasa heran saja kenapa gadis ini sangat santai dimata tuan muda.


"Silahkan masuk tuan sudah menunggu!" kata Rey menyuruh masuk.


"Ah iya terimakasih!" timpal Hafsa dengan tersenyum.


Kemudian masuk dengan ragu dan gugup melihat tuan muda yang duduk dikursi kebesarannya dengan gagah dan berkarisma tidak terlihat seperti buta dan lumpuh.


"Tuan, ini pudingnya!" ucap Hafsa dengan sopan sambil menundukkan kepala.


"Kenapa tadi bukan kau yang mengantar?" Elang malah memberi pertanyaan yang lain dengan dingin.


"Ah i- tu... karena...!" Hafsa jadi gugup dan bingung ingin menjawab apa.


"Cepat jawab yang tepat, atau kau akan bernasib sama seperti wanita murahan itu." ucap Elang dengan nada tinggi membuat Hafsa terlonjak kaget.


"Ah itu tuan dia sendiri yang ingin mengantarkan ini pada tuan karena aku pikir tuan tidak akan marah jadi aku biarkan. Maaf tuan ini memang salahku." ucap Hafsa mengakui perbuatannya dengan terus menunduk.


"Kau tau apa hukumanmu sekarang?"


"Tidak tuan!"


"Bersihkan rak bukuku diruangan ini hingga rapih susun menurut warna buku dan aku beri waktu 1 jam untuk membereskannya kalau tidak... maka kau tidak boleh keluar dari tempat ini. Mengerti.!" perintah Elang membuat Hafsa lemas seketika.


Karena yang dia lihat rak buku disini sangat banyak bagaimana bisa dia menyeselesaikan hanya dalam waktu 1 jam belum dikerjakan saja sudah membuatnya lemas.


"Tapi tuan bagaimana mungkin hanya dalam waktu 1 jam semuanya harus selesai." protes Hafsa kemudian Rey langsung berdehem.


"Ehem... tak ada protes kau harus menuruti perintah tuan." kata Rey datar.


"Baiklah!" pasrah Hafsa menunduk.


"Tapi sebelum itu kau harus suapi aku dulu." ucap Elang berkata lagi.


"Baik tuan!" Hafsa menurut sedangkan Elang tersenyum menyeringai. Sedangkan Rey hanya menyimak dalam diam.


Kemudian Hafsa mendekati Elang dan mulai menyuapi Elang dengan telaten sementara Elang dan Rey saling mengerjakan tugasnya diruangan itu dengan serius mengabaikan Hafsa yang menyuapi sambil berdiri.

__ADS_1


__ADS_2