
"Terimakasih Sinta karena kau sudah mengundang kami, kami sangat menikmati sekali." ucap Dewi didepan pintu keluar bersama Satria ditemani Sinta, Hafsa dan Elang.
Karena acara makan malam itu telah selesai, meski sedikit terjadi insiden obrolan yang tidak mengenakan namun makanannya mampu membuat suasana menjadi mood kembali.
Dan kini Dewi dan Satria memutuskan untuk pulang setelah berbincang-bincang sebentar.
"Iya sama-sama aku senang sekali karena kalian mau datang." jawab Sinta
"Aku yang sangat senang karena kau masih ingat dengan kami." kata Dewi
"Sudah pasti aku ingat, kau kan sahabatku." Sinta tersenyum menjawabnya.
"Ya sudah ini sudah malam, kami pulang yah sekali lagi terimakasih." papar Dewi mengulang kembali.
"Iya besok kalau aku ada waktu aku akan mampir ke butikmu." Sinta menawarkan diri.
"Boleh, aku tunggu!" Balas Dewi senang.
"Baiklah ini sudah malam, kami pamit yah!" lanjutnya mengakhiri percakapan.
"Iya."
"Satria, kau juga pamit." Dewi menyenggol lengan Satria yang sejak tadi hanya diam.
"Tante, aku pulang." ucap Satria ramah pada Sinta.
"Iya Satria terimakasih sudah mau datang." jawab Sinta, Satria hanya tersenyum kemudian melirik Hafsa dengan senyum tampannya.
"Dan... cantik aku pulang yah tapi tenang saja aku pasti akan kembali menemuimu." ujar Satria sambil mengerlingkan matanya.
Elang mengepalkan tangannya lagi-lagi Satria membuat darahnya naik.
"Jika kau mau pulang, pulang saja tidak perlu pamit dengan istriku." tutur Elang sinis.
__ADS_1
"Tante, sejak menikah aku heran Elang sangat galak sekali." adu Satria pada Sinta.
Dewi langsung memukul lengan Satria karena berbicara asal, "Satria jaga bicaramu, jelas saja Elang pasti akan berbuat seperti itu karena kau telah mengganggunya."
"Maaf yah Satria, kau mengenal Elang sudah lama kan Tante pikir kau pasti sudah tau jawabannya." tambah Sinta dengan tersenyum.
Satria hanya menghela nafas melihat dirinya tidak ada yang membela.
"Ya sudah aku pulang dulu."
Satria langsung berlalu tanpa menoleh lagi dan meninggalkan Dewi begitu saja.
"Satria." panggil Dewi karena dirinya ditinggalkan.
"Aku pulang yah! selamat malam." ucap Sinta tersenyum kikuk kemudian pergi.
"Iya." dibalas lambaian tangan oleh Sinta.
"Pergi." perintah Elang pada Hafsa untuk pergi dari situ saat Ibunya masih melambaikan tangan.
"Elang ibu ... loh kok tidak ada, cepat sekali mereka pergi." ucap Sinta berbicara sendiri karena Elang dan Hafsa sudah tidak ada.
Sinta menghela nafas lalu memilih pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
*****
"Satria, tunggu.!" panggil Dewi sambil berlari kecil menyusul Satria.
Satria menghentikan langkah saat sudah sampai disamping pintu mobilnya dan menatap ibunya.
"Satria."
"Ada apa mah?" jawab Satria malas.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?"
"Apa yang aku lakukan?" ulang Satria merasa bingung dengan pertanyaan ibunya.
"Iya, ingat misi kita."
"Iya aku ingat."
"Lalu kenapa kau begitu serius? ingat Satria jangan membawa perasaan dalam misi kita ini atau semuanya akan gagal." peringat Dewi menunjuk wajah Satria dengan telunjuknya lalu masuk kedalam mobil.
Satria mengusap wajahnya menyadari ada yang salah dengan dirinya. Lalu masuk mobil dan mengendarainya kemudian melaju pergi.
*****
"Bagaimana tuan? masakanku enak kan." tanya Melati saat Rey sedang santai sambil meminum kopi yang dibuatkan Melati namun tangan dan matanya fokus dengan ponselnya.
Rey diam tidak menjawab membuat Melati geregetan.
"Rupanya aku berbicara dengan patung, kalau begitu kopi ini untukku saja." saat Melati ingin menyeruput kopi itu, Rey langsung mengambilnya.
"Jangan coba-coba mengambil milikku." ucap Rey sangat datar kemudian menyeruput kopinya.
Melati mendesah tapi tidak kehabisan akal dia mencoba menggeser taplak meja supaya kopi itu ikut tergeser, saat sudah dekat gerakan reflek Rey membuat Melati terkejut hingga kopinya hampir tumpah pada tangannya tapi untung saja dengan gerakan sigap Rey hal itu tidak terjadi dan yang terjadi adalah mata mereka malah saling bertatapan.
Cukup lama hingga Rey langsung menyadari dan melepas tangannya dari pinggng Melati.
Melati juga menyadari dan dia malah mengucek-ngucek matanya karena terkejut.
*****
Kini Elang dan Hafsa kembali ke kamar mereka entah mengapa atmosfer tiba-tiba berubah menjadi panas dingin membuat Hafsa gemetar sekaligus deg-degan.
Karena dia masih teringat akan hukuman yang dibicarakan Elang beserta percakapan tadi dimeja makan.
__ADS_1
'Aduh kenapa jantung ini berdetak cepat sekali saat memasuki kamar ini, apa sebaiknya aku pergi saja yah!.'
kata Hafsa dalam hati, tangannya menyentuh dada nya yang bergetar.