Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 97


__ADS_3

"Kak Elang kenapa aku tidak bisa-bisa? susah sekali sih!" ucap Hafsa kesal karena bola basketnya tidak masuk-masuk padahal jaraknya dekat.


Elang tersenyum menahan tawa melihat istrinya yang kesusahan.


"Bagaimana mau masuk cara melempar bolanya saja sudah salah." jawab Elang.


"Lalu bagaimana yang benar? kau diam saja ihh!". Hafsa merajuk membuat Elang gemas.


"Baiklah, lihat aku!" kemudian Elang menunjukkan cara bermain bola basket sampai masuk ke gawang.


Baru lemparan pertama saja sudah masuk dengan sempurna.


"Wah... hebat sekali." Hafsa memuji Elang sambil bertepuk tangan.


"Ini belum seberapa." kata Elang sombong, kemudian dia menunjukkan skill melempar bola nya dengan menggunakan satu tangan, wajah menghadap ke depan dan lainnya dan semua itu bolanya masuk sehingga Hafsa mendapatkan kartu poin banyak sekali.


"Wahh... kak Elang lihat kita dapat banyak tapi sepertinya ini masih kurang untuk mendapatkan itu." kata Hafsa menunjuk stand hadiah.


"Memangnya kau ingin hadiah apa?" tanya Elang, pikirnya untuk apa cape-cape jika hanya ingin hadiah kecil.


"Aku ingin jam tangan couple itu." tunjuk nya.


"Jam tangan couple." ulang Elang tak percaya hanya hal kecil yang Hafsa minta.


"Iya."


"Kenapa tidak minta kepadaku saja?".


"Tidak perlu tidak seru kalau kita berusaha dulu baru seru." jelas Hafsa membuat Elang berfikir.


"Sudahlah, sekarang kita main apa lagi yah?."


Mereka pun kini kembali bermain mencoba permainan dari yang satu ke permainan yang lain tak ada yang terlewatkan begitu juga dengan Rey dan Melati semua permainan dicobanya.


Mereka sangat senang tawa lepas dari mulut Elang dan Rey. Sungguh Elang dan Rey tak pernah merasakan selepas dan sebahagia ini hidup mereka seperti tertekan dan harus selalu sempurna.


Dua pria tampan itu sangat bersyukur bisa bertemu dengan dua gadis dari kampung itu.


"Akhirnya aku dapat yang aku inginkan." ucap Hafsa memandangi jam tangan couple.


"Nah! sekarang kau pakai."


"Tunggu. Aku memakai jam ini." Elang menghentikan tidak percaya Hafsa menyuruhnya memakai jam tangan yang menurutnya seperti anak kecil.


Karena jamnya berbahan karet berwarna ungu namun ada lampu yang menyala dengan sendirinya ketika pasangan jam ini dekat dan tau letak keberadaan pasangannya, begitu kata kasir nya.

__ADS_1


"Memangnya kenapa? kau tidak ingat yang di bilang kasir itu."


"Dan kau percaya."


"Kita coba saja dulu."


Lalu Hafsa memakaikan jam itu pada Elang yang hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala.


"Tuh liat menyala dengan sendirinya kan." Hafsa menunjukkan jam nya dan jam Elang menyala secara otomatis.


"Lucu kan aku suka sekali, kalau kau tidak suka atau malu kau boleh tidak memakainya." ucap Hafsa sedih.


"Tidak apa-apa aku pakai." demi membuat istrinya supaya tidak sedih Elang terpaksa memakainya meski tidak suka dengan warnanya.


"Terimakasih." Hafsa tersenyum kemudian.


Sedang Melati mendapatkan hadiah kotak penari yang musiknya sangat disukai oleh Melati.


*****


Setelah mereka selesai bermain seharian mereka kelelahan dan kelaparan, mereka mampir di restoran cepat saji yang dijual di dalam mall.


Mereka memesan makanan dan minuman yang sangat enak yang belum pernah di nikmati oleh Hafsa dan Melati.


Sungguh biasanya mereka melihat wanita jika sedang makan dengan mereka, mereka akan makan dengan anggun dan cantik serta perlahan tapi itu tidak dengan kedua gadis ini mereka bahkan tidak malu menghabiskan makanannya.


"Aku baru melihat wanita makan dengan cara seperti itu Rey." kata Elang gemas melihat cara istrinya makan.


"Iya tuan aku juga baru tau ternyata mereka tidak seperti wanita yang anggun yang biasa kita temui." lanjut Rey menatap Melati.


"Hey, kalian ngomongin kita yah! terserah kita dong mau makan seperti apa yang penting tidak merugikan orang lain. Betul tidak Melati." kata Hafsa membela diri dan meminta dukungan Melati.


"Yap betul, lagian wanita yang kalian temui itu bukan seperti kami yang apa adanya." tambah Melati menatap kedua pria itu.


"Jadi maksudmu wanita yang kami temui itu tidak apa adanya." Rey bertanya menatap Melati dengan senyum tipis.


"Iya biasanya wanita seperti itu malu dan ingin menjaga harga dirinya sebelum mereka menikah. Ya... semacam malu-malu kucing gitu ya kan Sa." kata Melati segera melirik Hafsa karena gugup dipandang seperti itu oleh Rey.


"Iya benar, tapi ada juga yang cuma pura-pura supaya terlihat baik di mata pasangannya padahal aslinya tidak." tambah Hafsa.


"Berarti aku tepat memilihmu." kata Elang membuta Hafsa tersenyum malu.


"Lalu bagaimana denganmu Rey?". tanya Elang pada Rey yang masih menatap Melati.


"Eh... aku tuan, bagaimana apanya?" Rey gugup malah bertanya kembali.

__ADS_1


Elang menghela nafas dan mengulang pertanyaan yang sebenarnya malas, "Bagaimana denganmu? apa kau sudah menemukan gadis yang tepat untukmu." pancing Elang supaya Rey jujur.


"Ah.. aku sepertinya sudah dan ibuku pasti akan menjemputnya." jawab Rey tersenyum.


"Siapa dia?"


"Kau tau orangnya."


'Itu pasti aku.' Melati senyum-senyum sendiri saat Rey mengatakan itu.


"Wah... jadi kau sekarang sedang jatuh cinta cie cie." Hafsa menggoda Rey yang mana malah Melati yang bersemu merah.


"Eh.. Mel kok pipimu merah seperti kepiting rebus malu yah!" Hafsa juga menggoda Melati yang membuat Rey tersenyum tipis.


"Aku senang kau sudah mendapatkannya Rey, di saat aku bahagia aku ingin kau juga bahagia, aku punya anak kau pun sama." ungkap Elang tersenyum pada sahabatnya.


'Aduh.. pliss.. kenapa kalian membuat aku deg-degan sih apalagi kau Rey selalu tersenyum dan menatapku seperti itu aku pasti tidak akan bisa tidur karena memikirkan mu.' ucap Melati dalam hati.


"Ya sudah kalian sudah kenyang, waktunya kita pulang dan beristirahat besok kita kembali ke negara kita." kata Elang mengakhiri sambil berdiri disusul Rey.


"Ayo aku sudah kenyang kak Elang." jawab Hafsa ikut berdiri di ikuti Melati.


Tapi tiba-tiba mata Hafsa melihat ada stand penjual ice cream dan dia tiba-tiba menginginkannya.


"Kak Elang." panggil Hafsa pelan.


"Iya ada apa?" jawab Elang.


"Aku ingin ice cream." pintanya dengan manja.


Elang terkekeh lalu mengelus rambut panjang Hafsa, "Baiklah, ayo."


"Rey kau duluan aku akan menyusul." perintahnya pada Rey.


"Baik tuan. Ayo Melati." kemudian Rey pun pergi dengan Melati.


"Kau belum kenyang." tanya Elang saat mereka berjalan menuju stand ice cream.


"Aku tiba-tiba ingin tuan yang rasa coklat umm... pasti sangat nikmat." jawab Hafsa sambil membayangkan memakan ice cream.


"Baiklah ayo kita ke sana."


"Terimakasih suamiku." kata Hafsa tersenyum.


Mereka pun menuju ketempat ice cream itu.

__ADS_1


__ADS_2