Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta

Pengasuh Tuan Muda Lumpuh Dan Buta
Bab 94


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu mereka berlibur menghabiskan waktu di negara j banyak sekali tempat yang mereka kunjungi, baik berdua saja maupun berempat.


Tempat wisata, wahana museum sampai tempat kuliner pun mereka kunjungi, Melati dan Hafsa sangat puas sekali dan tentu saja mereka berdua sangat senang dan momen ini akan terus melekat diingatan mereka.


Dan Melati yang merasa sangat beruntung karena dia jadi ikutan kecipratan liburan padahal dia hanya pelayan hanya karena dia sahabat dari Hafsa yang kini menjadi majikannya.


Eh tapi memang sebelum jadi nona mereka berdua kan sudah bertemu dan berteman jadi mungkin wajar jika Melati jadi diistimewakan.


Sudah tak terasa waktu bergulir begitu cepat ingin rasanya menghentikan waktu supaya liburan ini terasa semakin lama tapi itu tidak mungkin karena hidup pun terus berjalan.


Dan hari ini hari terakhir mereka dinegara j, Elang menyuruh Hafsa untuk berbelanja sesuka hatinya membeli apapun yang dia mau dan memberikan untuk siapapun.


"Melati, ayo kita hari ini belanja ini hari terakhir kita karena besok kita pulang." ajak Hafsa saat mereka selesai sarapan


.


"Belanja ayo!" mendengar kata belanja Melati langsung semangat.


"Eh! tapi aku tidak punya uang." Melati menunduk lesu menyadari bahwa dirinya tidak membawa apa-apa selain dirinya sendiri.


"Kau ini, kan kau punya Abang Rey." goda Hafsa menyikut lengan Melati.


"Memangnya Rey suamiku yang tinggal minta sepertimu." kata Melati merasa ucapan sahabatnya ada-ada saja.


"Ya sudah kau tenang saja kan ada aku." ucap Hafsa memainkan alisnya.


Melati ikut memainkan alisnya, "Benar juga kan ada nyonya Hafsa."


"Hey kalian sedang apa?" tiba-tiba Elang dan Rey datang yang memergoki mereka sedang memainkan alis seperti orang yang sudah merencanakan sesuatu.


"Eh Kak Elang, kau sudah datang ayo aku tidak sabar ingin segera belanja." Hafsa menyahut langsung berdiri menghampiri Elang.


"Apa kau suka sekali berbelanja?".


"Tentu saja suka, perempuan mana yang tidak suka belanja apalagi kalau dibayarin dan gratis, iya kan Melati." papar Hafsa yang memang benar tidak ada wanita yang tidak suka belanja dan itu tidak bisa disebut dengan matre karena sejatinya wanita memang gemar berbelanja baik itu untuk kebutuhan pribadi ataupun keluarga.


"Iya betul tuan, aku pun sama suka sekali dan aku akan cari suami yang seperti dirimu sempurna luar dalam." oceh Melati tak malu berkata seperti itu.


"Melati, kau sangat tidak sopan berkata seperti itu pada tuan." Rey mengomeli Melati yang sebenarnya telinga nya merasa panas saat Melati memuji Elang.


"Maafkan aku." Melati langsung menunduk lesu.


"Aku tidak masalah Rey, sepertinya kau yang bermasalah." kata Elang menyindir Rey.


"Aku juga tidak masalah tuan." elak Rey datar.


"Sudah sudah kapan kita perginya kalau kalian berdebat terus." ucap Hafsa mengakhiri.


"Sekarang istriku." Elang menghampiri Hafsa kemudian memeluk pinggangnya dan berjalan mendahului Rey dan Melati.


"Tuan, kau bermasalah kenapa?" tiba-tiba Melati bertanya sambil melongokkan wajahnya pada Rey.

__ADS_1


"Eh.. kau." Rey sampai dibuat kaget.


"Kenapa? kau kaget tuan. Wah sepertinya kau benar bermasalah mau aku bantu." Melati malah berkata yang membuat Rey jadi salah tingkah.


"Diam Melati." Rey segera menenangkan emosinya yang ingin sekali menutup mulut Melati dengan mulutnya.


"Sudah lebih baik kita mengikuti tuan dan nona mereka sudah jauh." Rey mendahului Melati yang sedang manyun.


"Selalu saja seperti itu huh.." meski begitu Melati tetap mengikuti.


****


"Wah.. tempatnya besar dan luas sekali ini kalau kita hilang bakal ketemu tidak yah." ucap Melati melihat sekeliling mall yang ramai pengunjung.


"Ketemu lah kan pasti dicari." jawab Hafsa matanya mengerling pada Elang.


"Aku tidak akan mencari jika hilangnya disini, karena kau sudah besar." ucap Elang menggoda istrinya.


"Hah, beneran tidak mau mencari ku baiklah." Hafsa beringsut kemudian mencekal tangan Melati.


"Ayo Melati kita duluan." kemudian Hafsa berlari mengajak Melati tanpa aba-aba.


"Hey..!" tentu saja Elang dan Rey terkejut kemudian berlari kecil mengikuti mereka.


Hafsa dan Melati kemudian memasuki toko pakaian yang sangat bersih dan mewah, terkesan sangat elegan dan berkarisma membuat Melati dan Hafsa merasa sungkan untuk memasukinya.


"Sa, kayaknya kita salah masuk toko deh." kata Melati berbicara pelan sambil melirik sana sini.


"Kau benar Mel, kenapa juga kita masuk tidak lihat-lihat. Mana suamiku tidak ada lagi." jawab Hafsa sambil melihat ke belakang dan Elang maupun Rey memang tidak terlihat.


"Selamat siang nona-nona, ada yang bisa kami bantu." ucap pelayan dengan bahasa asing membuat Hafsa dan Melati hanya bisa saling tatap karena tidak mengerti.


"Eh.. maaf kami salah tempat, jadi kami mau berbalik arah. Permisi." dengan yakinnya Melati membalas dengan bahasa Indonesia yang membuat pegawai itu malah salah paham.


"Security... ada yang mencoba mencuri." pegawai itu malah berasumsi sendiri hanya karena Melati menjawab bukan dengan bahasanya.


Karena ucapannya yang lumayan keras, alhasil membuat security beserta pegawai yang lain jadi bereaksi mereka menghampiri Hafsa dan Melati.


Karena tidak mengerti Hafsa dan Melati hanya kebingungan melihat tatapan para orang-orang yang seperti mengintimidasinya.


"Mel, kenapa orang-orang pada melihat kita seperti itu yah! jadi serem." ucap Hafsa melihat tatapan orang-orang yang seperti marah.


"Mereka mau kenalan sama kita mungkin." jawab Melati asal.


"Kau ini ada-ada saja mana mungkin mau kenalan tapi mukanya tidak ada yang ramah begitu." balas Hafsa memukul lengan Melati pelan.


Security dan pegawai lain pun datang menghampiri Hafsa dan Melati semakin membuat mereka gelisah.


"Ada apa?" tanya security.


"Ini ada pencuri, gelagatnya mencurigakan perlu kita periksa." kata pelayan pertama menunjuk Hafsa dan Melati.

__ADS_1


"Mel, mereka bicara apa yah!" tanya Hafsa pada Melati tapi tatapannya terarah pada orang-orang itu.


"Aku juga tidak tau." Melati pun sama tidak mengerti.


"Hah! sepertinya aku harus minta kuliah setelah ini dan belajar bahasa asing supaya tidak seperti orang bodoh disini." ungkap Hafsa mengeluh.


"Benar Sa, aku juga."


"Hey, kalian sedang merencanakan sesuatu untuk mencuri disini." kata pelayan ketus.


"Kami mau belanja disini, boleh kami masuk." Hafsa menjawab asal.


"Bawa mereka."


"Ayo ikut kami." kata security menarik lengan Hafsa dan Melati.


"Terimakasih." Hafsa dan Melati kira mereka diperbolehkan masuk tetapi ada yang aneh kenapa mereka malah ditarik-tarik seperti pencuri dan bukan di bawa masuk malah keluar toko.


"Eh tunggu kami ini mau belanja kenapa malah di tarik-tarik keluar." kata Melati memberontak.


"Kalian pencuri jadi harus kami amankan."


"Mel, apa kita dituduh pencuri yah!" kata Hafsa melirik Melati.


"Sepertinya iya sa."


"Aduh gimana ini, suamiku mana lagi."


"Itulah akibatnya mengerjai suami, kita ini dinegara orang." ucap Melati kesal kesal pada sahabatnya.


"Kau ini. Pak kau kenal suamiku Elang Rahardian."


Security itu berhenti seperti pernah mendengar nama itu tapi dia berfikir lagi tidak mungkin wanita ini mengenal Elang jadi dia acuh kemudian kembali menarik mereka.


"Sepertinya dia tidak kenal Mel." kata Hafsa melirik Melati yang mendesah pelan.


Kemudian Hafsa dan Melati hanya bisa pasrah.


"Hey, tunggu kenapa kau menarik-narik mereka." disaat yang tepat Elang dan Rey datang tidak jauh dari toko itu.


"Maaf tuan, mereka pencuri." jawab security karena Elang juga menggunakan bahasa mereka.


Elang mengernyitkan alisnya menatap istrinya dan istrinya bingung ditatap seperti itu.


"Pencuri." ulang Elang dengan bahasa Indonesia sambil menatap istrinya.


"Hah pencuri." ucap Hafsa dan Melati terkejut.


"Kalian mencuri." tanya Elang lagi.


"Ti_dak kami tidak mencuri, kami ini baru masuk toko itu." sambil menunjuk toko dengan dagunya.

__ADS_1


"Tapi karena toko itu terlalu mewah kami tidak jadi masuk tapi kami dicegat oleh pelayan ditoko itu terus ya... seperti yang kau lihat sekarang." lanjut Hafsa menunduk lesu.


Elang dan Rey saling menatap mereka paham apa yang terjadi, ini karena mereka tidak tau bahasa mereka jadi ada kesalah pahaman.


__ADS_2